Jangan Menangis, Argentina!

Kolom Budaya Piala Dunia

Jangan Menangis, Argentina!

- Sepakbola
Sabtu, 03 Jul 2010 08:46 WIB
Jangan Menangis, Argentina!
Jakarta - Don't cry, Argentina. Sebab kekalahan taklah menurunkan derajatnya. Dua tim ini sama-sama layak tampil sebagai juara. Kalau ada yang menang dan kalah, itu semata karena keberuntungan. Benarkah nasib Argentina seperti Evita Peron yang cerdas dan perkasa tetapi dipaksa tunduk pada takdir Yang Maha Kuasa?

Ini laga yang sulit diprediksi. Argentina lawan Jerman tak layak untuk tanding hari ini. Mereka pantas melakukan itu di final. Jika bertemu sekarang, hakikatnya ini laga final. Siapa kalah wajib membusungkan dada. Dan yang menang wajib tabik pada yang dikalahkan.

Untuk melukiskan perasaan dua tim calon jawara itu pepatah Jawa bilang, kalauΒ  menang ora ngasorake (tidak merendahkan), dan jika kalah ora ngisin-isini (tidak memalukan atau malu-maluin). Ya, laga kali ini tidak perlu merendahkan derajat lawan atau menampilkan kepongahan. Sebab Argentina dan Jerman selayaknya jadi pemenang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi celakanya dalam babak ini sang pemenang hanya satu. Soal ini tidak cuma qua teknis. Tali-temali yang melingkupi. Ada hogi dan hogi. Ada keberuntungan yang dijaga Dewi Fortuna dalam legenda Yunani. Yang jika ditarik garis lurus jauh melampaui batas nalar dinamai takdir.

Keberuntungan adalah titik nol. Dalam menterjemahkan itu sering orang pakai liku-liku β€˜klenik ria’. Percaya dengan orang dan barang. Percaya dengan senjata dan mantra. Semua itu dijadikan adonan dengan β€˜ilmu niteni’, ilmu gathuk yang digathuk-gathukkan, dan takdir pun β€˜dimanusiakan’. Naudzubillah! Betapa banyak manusia modern yang merasa perkasa dari Gusti Allah.

Nah agar kolom ini tidak berubah menjadi ceramah agama, maka perlu ngelantur agak jauh menuju Argentina sana. Adalah Juan Domingo Peron menjadi presiden dengan masa bakti seperti Pak Harto. Dari tahun 1946 sampai tahun 1974. Jendral ini piawai sekaligus otoriter.

Pakem orang kuasa adalah mengumpulkan harta. Dan setelah harta terkumpul maju ke β€˜klangenan’ yang menyejukkan, yaitu wanita. Juan Peron menapaki masa-masa itu. Dia mengawini Aurelia Tizon yang meninggal dalam usia 29 tahun. Disusul Eva Duarte de Peron yang meninggal dalam usia 33 tahun.

Kematian Evita Peron menggoncangkan Argentina. Tangis rakyat tak henti-henti. Sebab rakyat paham, dari dialah pamor negeri terbangun dan konseptor kebijakan presiden. Maka pasca-kematiannya Juan Peron acap melakukan kesalahan. Lelaki itu akhirnya meninggal dalam situasi politik tidak menentu. Adakah wanita-wanita itu mati muda karena dijadikan tumbal?

Dulu ada yang percaya begitu. Tetapi setelah berbagai ahli kesehatan melakukan penelitian, akhirnya diketahui, mereka meninggal dunia dalam usia muda akibat kanker serviks. Penyebabnya, selain Evita terlalu dini menikmati hubungan seks. Juga diindikasikan Juan Peron adalah playboy. β€˜Menyukai’ wanita.

Bagaimana dengan Argentina yang akan bertanding melawan Jerman? Untuk soal ini nampaknya Argentina ikut ketiban sial. Umurnya tidak panjang menyerupai nasib Evita Peron. Benarkah Messi dan kawan-kawan akan dikalahkan Jerman?

Kayak-kayaknya memang begitu. Tapi kalau prediksi ini dipakai sebagai alat untuk berjudi, jangan menangis seperti rakyat Argentina kalau kalah. Sebab hasil laga ini akan berbuah sebaliknya.

===========================

*) Penulis adalah budayawan, tinggal di Surabaya.


(roz/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads