Ini laga yang sulit diprediksi. Argentina lawan Jerman tak layak untuk tanding hari ini. Mereka pantas melakukan itu di final. Jika bertemu sekarang, hakikatnya ini laga final. Siapa kalah wajib membusungkan dada. Dan yang menang wajib tabik pada yang dikalahkan.
Untuk melukiskan perasaan dua tim calon jawara itu pepatah Jawa bilang, kalauΒ menang ora ngasorake (tidak merendahkan), dan jika kalah ora ngisin-isini (tidak memalukan atau malu-maluin). Ya, laga kali ini tidak perlu merendahkan derajat lawan atau menampilkan kepongahan. Sebab Argentina dan Jerman selayaknya jadi pemenang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberuntungan adalah titik nol. Dalam menterjemahkan itu sering orang pakai liku-liku βklenik riaβ. Percaya dengan orang dan barang. Percaya dengan senjata dan mantra. Semua itu dijadikan adonan dengan βilmu niteniβ, ilmu gathuk yang digathuk-gathukkan, dan takdir pun βdimanusiakanβ. Naudzubillah! Betapa banyak manusia modern yang merasa perkasa dari Gusti Allah.
Nah agar kolom ini tidak berubah menjadi ceramah agama, maka perlu ngelantur agak jauh menuju Argentina sana. Adalah Juan Domingo Peron menjadi presiden dengan masa bakti seperti Pak Harto. Dari tahun 1946 sampai tahun 1974. Jendral ini piawai sekaligus otoriter.
Pakem orang kuasa adalah mengumpulkan harta. Dan setelah harta terkumpul maju ke βklangenanβ yang menyejukkan, yaitu wanita. Juan Peron menapaki masa-masa itu. Dia mengawini Aurelia Tizon yang meninggal dalam usia 29 tahun. Disusul Eva Duarte de Peron yang meninggal dalam usia 33 tahun.
Kematian Evita Peron menggoncangkan Argentina. Tangis rakyat tak henti-henti. Sebab rakyat paham, dari dialah pamor negeri terbangun dan konseptor kebijakan presiden. Maka pasca-kematiannya Juan Peron acap melakukan kesalahan. Lelaki itu akhirnya meninggal dalam situasi politik tidak menentu. Adakah wanita-wanita itu mati muda karena dijadikan tumbal?
Dulu ada yang percaya begitu. Tetapi setelah berbagai ahli kesehatan melakukan penelitian, akhirnya diketahui, mereka meninggal dunia dalam usia muda akibat kanker serviks. Penyebabnya, selain Evita terlalu dini menikmati hubungan seks. Juga diindikasikan Juan Peron adalah playboy. βMenyukaiβ wanita.
Bagaimana dengan Argentina yang akan bertanding melawan Jerman? Untuk soal ini nampaknya Argentina ikut ketiban sial. Umurnya tidak panjang menyerupai nasib Evita Peron. Benarkah Messi dan kawan-kawan akan dikalahkan Jerman?
Kayak-kayaknya memang begitu. Tapi kalau prediksi ini dipakai sebagai alat untuk berjudi, jangan menangis seperti rakyat Argentina kalau kalah. Sebab hasil laga ini akan berbuah sebaliknya.
===========================
*) Penulis adalah budayawan, tinggal di Surabaya.
(roz/roz)











































