Eastrest adalah nama daerah tersebut. Untuk mencapai ke lokasi, diperlukan sekitar 20 menit dari kota Pretoria.
Detiksport sudah merasakan kengerian saat mulai mendekati masjid. Sejumlah pemuda yang berkumpul di pinggir jalan terus memandangi mobil yang detiksport tumpangi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kadang ada tembak-menembak di sini. Beberapa pemuda juga suka mabuk-mabukan di depan masjid," ucap Chris, salah seorang warga.
Dumi, warga Eastrest lainnya juga mengatakan hal senada. Tapi, tingkat kekerasan di kawasan tersebut kini sudah mulai berkurang.
"Dulu memang kawasan ini sangat menyeramkan. Tapi sekarang hanya ada para pemuda mabuk atau bermain judi. Yang penting adalah kita urus saja urusan masing-masing," tegasnya.
Ketika di dalam masjid, suasana menjadi lebih tenang. Beberapa umat muslim yang berasal dari Pakistan, Malaysia, hingga warga setempat memberikan sambutan yang hangat.
"Selamat datang saudaraku. Assalamualaikum," ucap Kashim, ketua pengelola masjid sambil menyalami kami. "Kami adalah satu-satunnya masjid di kawasan ini. Anda lihat sendiri di sini penuh. Semua berkumpul di sini, orang Pakistan, Bangladesh, Malaysia," paparnya.
Kashim mengaku sempat mendapat resistensi dari penduduk setempat soal keberadaan masjid tersebut di awal pembangunannya. Terutama soal suara adzan yang dianggap mengganggu.
"Tapi kini tidak ada masalah. Mereka sudah menerima masjid ini. Saat kami melakukan survei ke rumah-rumah semua bilang tidak ada masalah. Hanya ada satu orang saja yang masih menolak, tapi biarlah," jelasnya.
Meski aman, para jamaah tetap menjaga kewaspadaan. Mobil tidak diparkir di tempat sembarangan, melainkan dititipkan ke rumah penduduk setempat yang sudah dikenal. "Ini untuk jaga-jaga saja," ucap seorang jamaah asal Pakistan.
(mad/krs)











































