Islam mulai berkembang di Pretoria, khususnya di Eastrest sejak 45 tahun lalu. Beberapa umat muslim dari Cape Town atau biasa dikenal dengan Cape-malay membawa ajaran ini. Penganutnya, rata-rata berasal dari komunitas kulit berwarna (campuran hitam dan putih).
"Kami hanya 12 keluarga pada awalnya. Salat Jumat di garasi mobil dan menggunakan kotak Coca Cola sebagai mimbarnya," kata Ali Kashim, pengelola masjid di kawasan Eastrest, kepada detiksport.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meningkatnya populasi muslim di Eastrest membuat kebutuhan akan sebuah masjid menjadi penting. Oleh sebab itu, pada tahun 80-an dibangunlah masjid di sebuah pemukiman padat di Mamelodi, Eastrest.
Namun, bukan sebuah hal mudah untuk memperkenalkan budaya Islam di lingkungan yang didominasi oleh kaum non-muslim tersebut.
"Kami terus mendapat penolakan dari masyarakat sekitar. Terutama soal adzan," lanjut Kashim.
Penolakan itu masih terasa hingga kini. Meski sudah berusaha menjelaskannya pada penduduk setempat secara langsung, tetap saja ada pihak yang tidak suka.
"Kami sudah membuat petisi dari rumah ke rumah, dan mereka bilang tidak ada masalah. Tapi ada satu orang yang masih tetap menolak sampai sekarang, dia seorang jaksa," paparnya.
Kini, kaum muslim di Eastrest terus berbenah. Dalam waktu dekat, akan ada sekolah khusus anak-anak di dekat masjid. Lewat sumbangan donatur dan usaha masjid, mereka bertekad menciptakan sebuah generasi muslim yang baru di tengah kucilan warga sekitar.
"Biar anak-anak kami nanti bisa jadi muslim yang baik," tutup Kashim.
(mad/a2s)










































