Di sela-sela liputan Piala Dunia, detiksport berkesempatan menengok kawasan Mamelodi, pinggiran kota Pretoria yang dikenal sebagai kawasan orang kulit hitam yang kumuh. Sebagian besar rumah dibuat hanya menggunakan seng, mirip rumah-rumah bedeng yang tersebar di Jakarta.
Nama Mamelodi muncul ketika zaman apartheid. Presiden Paul Kruger saat itu memberi julukan 'Mamelodi' karena orang kulit hitam di kawasan tersebut pandai bersiul dan meniru kicauan burung. Mamelodi juga bisa diartikan sebagai sumber semua melodi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak tahun 2001, Mamelodi adalah kawasan dengan tingkat penyebaran virus HIV/AIDS tertinggi di kawasan Afsel. Tingkat kematian penduduk yang tinggi akibat penyakit menular tersebut, membuat banyak anak hidup yatim piatu. Tidak heran, pemerintah Afsel menyediakan rumah sakit perawatan AIDS gratis di zona tersebut.
Rata-rata penduduk yang tinggal di Mamelodi adalah pendatang. Sebagian besar berasal dari Limpopo, kawasan utara Afsel dan beberapa imigran dari Zimbabwe, Kongo dan negara-negara miskin Afrika lainnya.
"Mereka tinggal di rumah-rumah bedeng itu untuk mengadu nasib di kawasan ini. Sebagian ada juga yang tinggal di gunung karena gunung adalah wilayah yang bebas," cerita Billy, yang juga pernah menetap di Mamelodi selama 17 tahun.
Kemisikinan juga membuat mereka dekat dengan dunia kejahatan. Jangan heran jika di depan rumah bedeng ada mobil Mercedes Benz yang terparkir gagah.
"Mobil-mobil itu kadang hasil curian atau duitnya dari merampok bank. Banyak tsotsi (istilah warga lokal untuk perampok) di sini," lanjut Billy.
Pemerintah Afsel sudah berusaha untuk menyediakan rumah layak bagi para warga Mamelodi dan meminta mereka agar tidak lagi tinggal di bedeng. Namun, kenyataannya, rumah tetap diambil dan bedeng tidak dihancurkan.
"Bedeng-bedeng itu nanti disewakan lagi ke orang lain yang baru datang. Begitu terus, karena mereka juga butuh uang," kisah Billy.
(a2s/a2s)











































