'Apartheid Mimpi Buruk Kami'

Catatan dari Afsel

'Apartheid Mimpi Buruk Kami'

- Sepakbola
Rabu, 07 Jul 2010 18:00 WIB
Apartheid Mimpi Buruk Kami
Pretoria - Afrika Selatan memiliki sejarah panjang dalam perjuangan memperoleh persamaan hak antarras. Diskriminasi karena perbedaan warna kulit di era pemerintahan apartheid telah dianggap sebagai mimpi buruk.

Sejak zaman kolonialisme Inggris dan Belanda, ras kulit hitam di Afsel sudah menjadi pihak yang terpinggirkan. Kondisi tersebut tidak banyak berubah hingga era 1940an, ketika pemerintahan dipimpin oleh kulit putih.

Di sela-sela liputan Piala Dunia, detiksport melihat langsung bagaimana perjuangan kaum mayoritas yang terdiri dari kulit hitam tersebut mencari keadilan di tanahnya sendiri di museum apartheid, Johannesburg, Selasa (7/7/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian warga Afsel yang ditemui di museum mengaku tak sanggup menyaksikan lagi masa-masa kelam itu. Gambar dan video yang ditampilkan mengusik ketenangan mereka.

"Saya tidak mau melihat gambar itu. Seperti mimpi buruk bagi saya," ujar Ruth sambil menunjuk foto seorang anak yang melintasi pagar berduri hanya untuk menghindari kejaran polisi kulit putih.

"Bagaimana bisa hanya karena warna kulit, orang memperlakukan seperti itu. Saya tidak pernah habis pikir sampai sekarang," lanjut warga Cape Town ini.

Seorang pemuda Afsel, Billy, juga mengungkapkan bagaimana kakek dan neneknya hidup di masa apartheid. Semua orang kulit hitam tidak bebas berseliweran di kota seperti saat ini. Perlu izin khusus dan ada kartu tanda pengenal yang harus dibawa ketika melintas di kawasan kulit putih.

"Kakek saya sudah merasakan ditembak pakai peluru karet dan gas air mata. Sangat mengerikan saat itu," cerita Billy.

Kini, semua sudah berubah. Baik Ruth maupun Billy sudah merasakan kebebasan dalam hidup. Meski, masih ada beberapa pihak yang memiliki pola pikir apartheid, jumlahnya tidak akan mampu mengalahkan masyarakat Afsel yang menginginkan kedamaian antar semua ras.

"Saya bersyukur semua sudah selesai. Orang-orang yang masih berfikiran seperti dulu biarlah hidup seperti itu," timpal Ruth.

"Sekarang saya juga bisa bergaul di kafe kulit putih, pokoknya sangat menyenangkan kalau bersaudara," Billy menambahkan.

(mad/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads