Tengah Malam Dirazia Polisi

Catatan dari Afsel

Tengah Malam Dirazia Polisi

- Sepakbola
Kamis, 08 Jul 2010 14:51 WIB
Tengah Malam Dirazia Polisi
Pretoria - Di manapun, berurusan dengan polisi jadi hal yang paling dihindari, apalagi di negara dengan tingkat kriminalitas tinggi seperti Afrika Selatan. Dirazia polisi tengah malam, pasti bikin dag dig dug.

Detiksport mendapatkan pengalaman tersebut saat mendatangi daerah pinggiran di sekitar Pretoria yang dikenal dengan Mamelodi. Mumpung ada jeda pertandingan -- sebelum babak semifinal dimainkan --, kami tergelitik untuk mengetahui secara langsung sisi kehidupan warga Afsel di samping gegap gempita Piala Dunia.

Setelah berpetualang di lingkungan warga pinggiran yang hampir seluruhnya dihuni warga kulit hitam itu, dan menjadi salah satu daerah yang dianggap rawan kejahatan, kami memutuskan kembali ke penginapan sekitar pukul 10.00 waktu setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat dalam perjalanan pulang itulah kami melintasi sebuah van yang penuh berisi polisi. Tiba-tiba rombongan polisi itu mengedipkan lampu mobilnya beberapa kali, memberi isyarat pada kami untuk menepi.

Rombongan polisi yang berjumlah 10 orang itu kemudian memeriksa kelengkapan surat-surat kendaraan yang kami tumpangi. Tak hanya itu, mereka juga dengan sangat teliti memeriksa seluruh bagian mobil.

Saya menduga polisi-polisi tersebut mencurigai kami membawa obat-obatan terlarang atau senjata api, karena dua barang haram ini peredarannya memang cukup bebas di negara ini. Jika itu yang dicari, mereka tentu saja takkan mendapatkannya dari kami.

Namun pemeriksaan tak berhenti sampai di situ. Kami, tiga orang yang berada di dalam mobil, menjalani penggeledahan dengan sangat detil. Mulai dari saku, handphone, dompet semua digeledah oleh polisi yang menyetop kami itu.

Polisi juga sempat mencurigai sebuah permen yang terselip di kantong kami. Mereka juga cermat-cermat mengamati botol minum dan cairan pencuci tangan yang kami bawa.

Jujur saja, seluruh aksi razia dan pemeriksaan oleh rombongan polisi tersebut membuat kami sempat sangat tegang. Soalnya oleh beberapa warga Indonesia yang tinggal di Afsel, dan juga oleh banyak warga lokal yang sempat kami ajak bicara, mereka kompak meminta kami jangan mudah mempercaya polisi.

Celakanya, kami malah jadi paranoid, khawatir kalau-kalau setelah razia ini kami justru bakal ketemu rampok sungguhan. Soalnya santer beredar kabar di Afsel bahwa polisi justru sering menjadi sumber informasi buat para kriminal.

"Polisi di sini berkomplot dengan sindikat kriminal. Mereka tak akan berpatroli di sebuah wilayah yang akan jadi sasaran perampokan. Mereka justru membantu 'membersihkan' area tersebut sehingga aksi kejahatan bisa berjalan."

Cerita John, seorang penduduk Mamelodi yang saya temui beberapa jam sebelumnya, itulah yang membuat kami jadi tambah was-was.

Proses razia dan penggeledahan itu sendiri akhirnya selesai tak lama setelah kami menunjukkan akreditasi FIFA sebagai jurnalis Piala Dunia 2010. Sebelum pergi, rombongan polisi tersebut juga mengingatkan kami untuk berhati-hati.

Kami sangat bersyukur karena dalam perjalanan pulang tak terjadi peristiwa yang tak diinginkan. Kami selamat kembali ke rumah dan bisa menulis kisah yang cukup menegangkan ini.

"Polisi menghentikan mobil kita karena menduga kalian tengah menjadi korban pembajakan mobil. Di sini kasus seperti itu memang banyak terjadi," cerita Billy, sopir yang mengantar kami hari itu dalam perjalanan pulang.

(din/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads