Begitulah informasi yang saya dapat saat berbincang dengan Dumi, teman asal Afrika Selatan yang menemani selama meliput Piala Dunia 2010. Meski punya jalanan yang sangat baik serta sarana penunjang yang memuaskan, aksi menyuap polantas masih banyak ditemukan.
"Kejadiannya baru saya alami beberapa hari lalu. Saya sedang keluar malam dan lupa membawa SIM," kisah Dumi pada detiksport.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itulah para pengemudi umumnya menunggu sang polisi yang mengajukan penawaran. Jika sudah bagitu, transaksi bisa segera dimulai.
"Biasanya mereka yang mulai mengajak kita berbicara. Mengajak berbicara dengan bahasa yang sudah saling kita pahami," lanjut pria yang sudah memiliki tiga orang putri itu.
Pada awalnya, polisi akan meminta uang dalam jumlah cukup besar, mulai dari sekitar 100 rand (Rp 110.000). Namun dalam kondisi tertentu, mereka juga mau menerima uang damai sebesar 20 rand (Rp 22.000).
Uang damai tak cuma dikenal oleh polantas Afsel. Saat kami dirazia ketika kembali dari liputan di salah satu wilayah pinggiran kota, kami sempat diinformasikan kalau rombongan polisi yang menggeledah bisa jadi menunggu uang sogokan, meski kemudian itu tak sampai terjadi setelah kami memperkenalkan diri sebagai jurnalis Piala Dunia.
"Mereka sudah biasa terima uang. Kalau tadi tidak sampai minta, mungkin karena takut difoto sama wartawan," ujar Djaka Widyatmadja, staff lokal kedutaan besar Indonesia di Pretoria waktu itu.
(din/roz)











































