Setelah Belanda mengalahkan Uruguay di semifinal di Cape Town, dan memastikan tempatnya di final, kami segera "menyambut" mereka kembali ke Johannesburg, di tempat mereka menginap selama ini, hotel Hilton Sandton.
Sempat ada keraguan untuk menunggu di hotel itu karena sempat beredar laporan bahwa rombongan Bert van Marwijk hanya memesan tempat di sana cuma sampai semifinal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka berjalan kaki. Sepertinya menuju restoran terdekat. Tapi saya tidak tahu ke mana persisnya," ujar Samuel, si petugas keamanan.
Mendengar kabar itu, semangat kami untuk bertemu dan mewancari singa-singa Oranye kembali membara. Meski cuaca sangat dingin --suhu udara di Johannesburg saat itu sekitar 3 derajat celcius--, kami rela menanti mereka balik ke hotel.
Setelah hampir dua jam menunggu, para pemain Belanda muncul. Kami langsung siap-siap mendekat. Sayang, staf keamanan mereka tak kalah sigap dan langsung mencegah kami untuk mendekat.
"No, no. Jangan ambil gambar. Tidak ada sesi wawancara. Ini sudah malam," seru salah seorang bodyguard.
Kami tentu saja mangkel. Tapi kesempatan belum habis. Saya berusaha "mendekati" pemain dengan cara memanggil satu per satu nama pemain yang melintas. Dengan sok akrab tentu saja. Senyum ke sana sini. Tak lupa, saya menyebut-nyebut "Indonesia" sebagai negara asal saya. Orang Belanda mana sih yang tidak tahu Indonesia?
Ternyata "taktik" itu mengena. Ketika saya meneriaki Robin van Persie dari jarak cukup jauh, eh dia menghampiri.
"Anda dari Indonesia? Wah, hebat sekali sampai meliput ke sini," sapa penyerang Arsenal itu dengan ramah. Saya merasa bangga mendengarnya, dan berpikir, kapan ya Indonesia bisa ikut Piala Dunia.
Kami lalu ngobrol "sebisanya", bertukar sapa, sambil berjalan karena Van Persie harus segera masuk kamar hotel. Salah satu yang ia sampaikan adalah, dia siap tampil di final dan mengeluarkan permainan terbaiknya.
Dan, seperti sudah diperkirakan, bodyguard beraksi lagi untuk "memisahkan" kami. Kali ini dia cukup ngotot meminta saya mengakhiri sesi wawancara singkat itu.
Sebelum berpisah saya meminta Van Persie bersedia berfoto bareng, untuk "cindera mata". "No problem," jawabnya santai.
Sialnya, entah kenapa kamera yang kami gunakan mendadak macet. Setelah mencoba beberapa kali dan tak bisa juga, dan para petugas kembali memanggil Van Persie, penyerang top itu menepuk pundak saya dan berkata pelan: "Maaf kawan, mungkin lain kali." Habis itu dia pun beranjak.
(mad/a2s)











































