Sara Carbonero, Cerita Manis Iker Casillas

Sara Carbonero, Cerita Manis Iker Casillas

- Sepakbola
Senin, 12 Jul 2010 16:40 WIB
Sara Carbonero, Cerita Manis Iker Casillas
Johannesburg - Romantisme Piala Dunia 2010 adalah Iker Casillas dan Sara Carbonero. Dari sinisme di awal turnamen, mereka bertahan dan menutupnya dengan amat manis, seperti ciuman Casillas pada sang kekasih.

Publik Spanyol sudah tahu siapa itu Sara karena presenter olahraga sebuah stasiun televisi itu sudah sekitar satu tahun menjalin hubungan asmara dengan Casillas, kapten skuad 'Matador' saat memenangi Piala Eropa 2008.

Meski demikian, sepertinya kisah mereka begitu terekspos di Piala Dunia 2010, dimulai di hari ketika Spanyol kalah di pertandingan pertamanya di fase grup melawan Swiss. Casillas tak mampu mencegah terjadinya gol di gawang dia, dari tendangan Gelson Fernandez.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seusai pertandingan, banyak orang Spanyol marah-marah pada kabar yang beredar di internet. Disebutkan bahwa Casillas main buruk karena konsentrasinya terganggu, gara-gara Sara terus berada di belakang gawangnya, mulai dari pemanasan sebelum kickoff.

Sara dituding "memanfaatkan" profesinya sebagai jurnalis untuk "melanggar" aturan tim Spanyol, bahwa para istri dan pasangan pemain tidak menyertai mereka di Afrika Selatan.

Tapi Sara ada terus didekat Casillas, paling tidak dengan mikropon di tangan dan kamera yang mengikuti gerak-geriknya. Wanita berusia 25 tahun itu memang terkenal dengan sesi wawancara dengan pemain-pemain bola top setelah pertandingan-pertandingan besar.

Dianggap merusak konsentrasi sang pacar, Sara tidak terima. "Dapatkah aku mengacaukan tim ini? Itu nonsens," katanya. Casillas pun begitu. Ia heran kenapa media suka seenaknya membuat kesimpulan dan menganggapnya jauh di luar konteks sepakbola.

Tapi mereka dibela pers Spanyol. Mereka menuding sinisme itu sengaja dibuat oleh pers Inggris yang memang suka sensasi. Mereka menyindir balik dengan mengatakan, "Robert Green tak bisa menangkap bola (tendangan Clint Dempsey), mungkin karena habis diputus pacarnya."

Cerita "miring" tersebut berangsur-angsur sirna, seiring penampilan Casillas yang tetap oke dan Spanyol terus memenangi pertandingan-pertandingan selanjutnya. Dan Sara terus menjalani profesinya -- dan tetap berada di pinggir lapangan tempat Casillas bermain.

Dan akhirnya romantisme mereka mencapai puncaknya di Soccer City Stadium, Johannesburg, 11 Juli 2010, ketika Spanyol tampil sebagai juara, Casillas berdiri paling tinggi untuk mengangkat trofinya.

"Aku habis melewati banyak hal dan pernah punya banyak kemunduran. Sara juga menghadapi masa-masa yang buruk dalam beberapa hari terakhir ini. Maka dari itu aku dedikasikan kemenangan ini untuk dia dan keluargaku," tutur Casillas dilansir Reuters.

Setelah pesta berlanjut di dressing room tim, Sara pun mewawancarai Casillas. Wawancara yang bisa dilihat via Youtube itu berlangsung singkat tapi beraroma "cinta".

Seperti tak tahan menahan diri, meskipun pertanyaan Sara belum selesai, Casillas tiba-tiba mencium si pewawancara sekaligus pacarnya itu. Ia mencium bibir sang pacar, juga matanya. Sara tampak agak kaget, tapi terlihat mencoba bersikap tidak terbawa emosi berlebihan, karena ia sedang bekerja.

Casillas lalu meninggalkan Sara, wawancara singkat berakhir. Orang-orang yang ada di dekat mereka terdengar memberi tepuk tangan. Sara, yang didapuk sebagai salah satu presenter sport paling seksi itu, mengakhiri sesi dengan senyum di bibirnya.

Buat ia dan Casillas, Afrika Selatan sudah barang tentu takkan pernah terlupakan.
(a2s/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads