Bryan Adams Tentang Vuvuzela, Jerman & Final

Bryan Adams Tentang Vuvuzela, Jerman & Final

- Sepakbola
Selasa, 13 Jul 2010 14:47 WIB
Bryan Adams Tentang Vuvuzela, Jerman & Final
Johannesburg - Selain jadi musisi, Bryan Adams juga penyuka sepakbola. Maka jangan heran saat dia dengan lancar bicara soal vuvuzela, timnas Jerman, Piala Dunia 2010 dan partai final antara Belanda kontra Spanyol.

Bintang musik rock yang sudah eksis semenjak awal 80-an itu saat ini tengah berkonser di benua Afrika. Memasang tajuk 'Bare Bones Tour', Adams direncanakan tampil di Cape Town, Port Elizabeth, Durban dan bahkan Namibia sebelum balik ke Johannesburg akhir pekan nanti.

Di kota Johannesburg pula pria yang punya banyak lagu hits macam Summer of '69, Heaven dan Everything I Do, I Do it For You tersebut tampil bareng Andrea Bocelli untuk konser 'Celebrate Africa – The Grand Finale', Jumat (9/7/2010) lalu, menjelang final Piala Dunia 2010.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berada di Afsel yang pada musim panas ini menjadi pusat perhatian penggila sepakbola, Adams yang pendukung klub Chelsea asal Inggris sudah pasti tak luput mengamati jalannya Piala Dunia dari dekat. Dengan telinga musisinya, Adams pun lantas ikut mengomentari keberadaan vuvuzela yang selama ini menuai pro-kontra.

"Saya sempat mengira vuvuzela akan terdengar luar biasa nyaring, tapi saat Anda memasuki stadion, hanya orang-orang di sekitar saja yang terkadang membunyikannya. Jadi itu menyenangkan," lugas Adams dalam wawancaranya dengan situs FIFA.

"Saya hanya bertanya-tanya apa itu akan jadi tren internasional sekarang? Saya dengar mereka akan melarangnya di partai-partai Eropa. Sayang sekali karena cukup menyenangkan," imbuh si pria Kanada berusia setengah abad itu.

Mungkin karena keberadaan vuvuzela itu pula maka gelaran Piala Dunia 2010 jadi terasa cukup istimewa buat Adams. Maka saat membandingkannya dengan Piala Dunia 2006 di Jerman, dia pun tak ragu menyebut gelaran di Afsel lebih oke. "Ada atmosfer yang lebih baik di sini."

Bicara mengenai Jerman, tuan rumah gelaran empat tahun lalu itu kini hanya bisa mencapai semifinal setelah dikandaskan Spanyol. 'Tim Matador' kemudian jadi juara usai mengalahkan Belanda lewat babak perpanjangan waktu di partai puncak.

Dari partai-partai itu, Adams tampaknya menilai kalau laga semifinal antara Spanyol kontra Jerman layak jadi partai puncak. Alasannya, di matanya kedua tim itu tampil apik.

"Saya pikir mereka (Spanyol) layak jadi juara. Saya juga beranggapan kalau Jerman juga pantas masuk final. Saya tak tahu ada apa dengan mereka saat melawan Spanyol, mereka hanya tak bermain seperti di laga-laga lainnya di turnamen ini, sangat mengejutkan."

"Tetapi (final) itu pertarungan yang bagus dan Spanyol amat layak dapat mahkota juara," lugas Adams.
(krs/mrp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads