Brasil adalah negara tropis. Maka jelaslah bagaimana iklim di sana: panas dan lembab. Kondisi ini jadi tantangan besar bagi sebagian tim peserta Piala Dunia 2014. Lantas bagaimana mereka mengatasinya?
Piala Dunia di Brasil telah memberikan tantangan besar untuk sebagian besar tim peserta. Suhu panas dan kelembapan tinggi menjadi lawan tangguh lain yang harus ditaklukkan. Terutama bagi negara-negara top Eropa seperti Italia, Inggris, Prancis, Spanyol, Belanda, dan Jerman.
| Kota | Suhu rata-rata Juni-Juli (celcius) | Kelembapan |
| Rio de Janeiro | Β 25-26 derajat | Β 78% |
| Β Brasilia | Β 25 derajat | Β 61% |
| Β Fortaleza | Β 29 derajat | Β 80% |
| Β Belo Horizonte | Β 24-25 derajat | Β 75% |
| Β Porto Alegre | Β 19 derajat | Β 82% |
| Β Salvador | Β 26 derajat | Β 84% |
| Β Recife | Β 27-28 derajat | Β 84% |
| Β Cuiaba | Β 31 derajat | Β 74% |
| Β Manaus | Β 31 derajat | Β 82% |
| Β Natal | Β 25-28 derajat | Β 82% |
| Β Curitiba | Β 18-19 derajat | Β 84% |
| Β Sao Paulo | Β 22 derajat | Β 76% |
Β
Negara-negara yang berasal dari wilayah sejuk bakal perlu melakukan usaha ekstra untuk mempersiapkan diri selama satu bulan berlangsungnya turnamen. Terlebih lagi, Piala Dunia digelar di musim panas yang tentu membuat temperatur udara kian tinggi. Tak cuma itu, kelembapan tinggi juga menjadi tantangan untuk menampilkan performa terbaik, karena keringat lebih sulit menguap dan berpotensi menambah beban di seragam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Piala Dunia 2014 ini, ada tiga pabrikan apparel besar yang 'bertarung' yakni Nike (10 tim), Adidas (9 tim), dan Puma (8 tim). Sementara pabrikan lain yang turut berkiprah adalah Uhlsport dan Marathon.
Masing-masing pabrikan punya teknologi tersendiri yang dijadikan senjata. Nike misalnya, mengandalkan teknologi Dri-FIT dan 'ventilasi' untuk membuat para pemain tetap kering dan sejuk.

Berdasarkan teknologi Dri-FIT, Nike membuat kain yang super lembut, ringan, dan bisa bernafas. Menggabungkan kapas dan polyester, seragam diklaim bisa menyerap keringat lebih cepat dan menguapkannya ke udara. Artinya, teknologi ini sudah menjawab satu tantangan yakni soal kelembapan tinggi.
Untuk menjaga para pemain tetap sejuk, Nike menyematkan lubang-lubang ventilasi di area-area yang punya panas berlebih. Lubang-lubang ini akan mengalirkan udara ke tubuh dan membuat pemain tak merasa kegerahan. Dua teknologi tersebut disatukan dalam sebuah seragam yang didesain menggunakan pemetan tiga dimensi, sehingga benar-benar pas dengan tubuh pemain dan menjaganya bergerak dalam kontur natural.
Sementara Adidas punya teknologi Adizero dan Climacool. Adizero lebih dulu digunakan pabrikan Jerman itu pada barisan sepatunya untuk menekan massa. Teknologi ini memastikan seragam dibuat se-ringan mungkin dengan menggunakan lapisan super tipis.

Adidas mengklaim jersey buatannya yang dikenakan tim-tim Piala Dunia hanya berbobot 100 gram. Urusan bobot ini memang terlihat sepele, tapi untuk pemain yang akan berlarian selama 90 menit hal tersebut jadi satu hal yang membantu. Apalagi keringat juga bisa menambah bobot seragam.
Selanjutnya teknologi Climacool yang menjamin para pemain tetap dalam kondisi sejuk. Hampir serupa dengan teknologi ventilasi Nike, Climacool membuat kain bisa 'bernafas' sekaligus mampu menyerap dan menguapkan keringat dengan cepat. Teknologi ini juga anti mengerut dan juga anti mikroba. Climacool inilah yang bertugas membuat seragam tak bertambah berat akibat keringat.
Puma juga mengembangkan teknologinya sendiri, yang disebut ACTV-RCVR atau bisa disebut Active-Recover. Pada dasarnya, Puma mendesain seragam ketat dengan dilengkapi 'athletic-tape' yang diklaim bisa meningkatkan kemampuan kerja otot plus memulihkannya kembali.
Begini cara kerja teknologi tersebut secara sederhana: 'athletic tape' yang ditempatkan di area tubuh bagian depan akan menekan dan melakukan pijatan mikro ke otot-otot bagian tertentu. Tindakan ini akan mendorong suplai energi ke otot tersebut sehingga para pemain bisa mengerahkan performa lebih maksimal.
Sedangkan di area tubuh bagian belakang alias punggung, teknologi tersebut memicu percepatan pemulihan stamina. Teknologi ini akan bekerja optimal jika baju benar-benar melekat ketat dengan tubuh penggunanya.

Maka jangan heran jika melihat pemain timnas Italia atau Ghana benar-benar berbaju ketat. Ketatnya seragam ini juga memberikan efek lain, yakni membuat sirkulasi dan aliran darah menjadi lebih lancar.
Baik Nike, Adidas, dan Puma sama-sama menyediakan dukungan maksimal kepada timnya masing-masing agar bisa mengeluarkan performa optimal di Brasil. Tapi bagaimanapun yang akan sangat menentukan adalah proses persiapan pemain sebelum ke Brasil.
Aklimatisasi adalah faktor utama agar tubuh siap digunakan dengan maksimal. Inggris misalnya, menggunakan kaus empat lapis saat latihan dan juga berlatih di ruang sauna. Mereka, dan juga sejumlah tim lain, juga menyempatkan diri melakukan pemusatan latihan serta melakoni uji coba di Amerika Serikat, yang beberapa daerahnya punya iklim mirip dengan Brasil.
Faktanya, Italia berbekal seragam canggih dari Puma juga mengaku kepayahan kala bertanding menghadapi Inggris di Manaus, salah satu kota yang paling dihindari karena suhu dan kelembapannya amat tinggi. Padahal Gli Azzurri punya bekal mencicipi iklim Brasil di Piala Konfederasi tahun lalu. Itulah sebabnya persiapan tetap menjadi aspek utama.
Sementara bagi Brasil dan beberapa negara tetangganya yang ikut serta di Piala Dunia, iklim justru dijadikan senjata ekstra untuk memenangi laga. Setidaknya hal itulah yang melatarbelakangi fakta bahwa belum ada tim Eropa --yang rata-rata beriklim sejuk-- juara di benua Amerika, khususnya Amerika selatan.
Akankah catatan tersebut berlanjut? Mampukah teknologi memecahkannya? Jawabannya akan tersaji 13 Juli mendatang.











































