Fuleco si Maskot Piala Dunia Kedapatan Berjoget Sensual

Fuleco si Maskot Piala Dunia Kedapatan Berjoget Sensual

- Sepakbola
Senin, 23 Jun 2014 13:23 WIB
Fuleco si Maskot Piala Dunia Kedapatan Berjoget Sensual
AFP/Juan Mabromata
Rio de Janeiro -

Sorotan sedang diarahkan kepada Fuleco yang merupakan maskot Piala Dunia 2014, setelah si armadilo divideokan sedang berjoget sensual dengan perempuan-perempuan seksi.

Sebagai sebuah maskot di gelaran pesta olahraga sepakbola Fuleco tentu mengusung sejumlah besar misi positif dan mesti bisa memikat semua orang--khususnya untuk kalangan anak-anak.

Nah, tak pelak sebuah aktivitas dari sosok armadilo itu langsung mendapatkan sorotan ketika ia tampak sedang bergoyang cenderung seksual dengan sejumlah perempuan, mengingat ini bisa memberi citra buruk di mata anak-anak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Fuleco sendiri pada dasarnya memang punya sifat amat ramah dan senang bergoyang, apalagi dengan lagu-lagu ala Brasil, sebagaimana dikatakan situs FIFA yang dikutip news.com.au.

"Sebagai duta untuk Piala Dunia 2014, aku punya gerakan joget istimewa untuk memamerkan ritme unik Brasil dan mendorong anak-anak (dan orang dewasa!) di seluruh dunia untuk menjadi bagian dari Piala Dunia FIFA," timpal Fuleco di situs FIFA.

Menilik prosesnya, pemilihan nama Fuleco dan sosok armadilo untuk jadi maskot gelaran kali ini sebenarnya juga terbilang kontroversial.

Kendatipun terlihat imut-imut, pemilihan armadilo Brasil sebagai maskot sempat dikritik karena spesies itu kini sedang terancam punah akibat diburu maupun kehilangan habitat.

Publikasi Piala Dunia pun ikut dikhawatirkan bakal membuat semakin banyak orang ingin memboyong armadilo asli Brasil, yang biasa disebut three-banded armadillo, membuat eksistensi hewan tersebut kian terancam.

Terpilihnya nama Fuleco, kombinasi bahasa Portugis "futebol" (sepakbola) dan "ecologia" (ekologi), setelah mengalahkan dua pilihan lain--Zuzeco dan Amijubi--pada tahun 2012 lalu pun sempat menimbulkan perdebatan karena publik merasa harusnya ada lebih banyak nama yang dapat dipilih.

Bahkan sempat ada petisi online yang meminta adanya pendekatan lebih demokratis sehingga publik bisa memberi usul nama alih-alih cuma memilih salah satunya begitu saja.

(krs/roz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads