Kebobolan di menit-menit terakhir adalah sebuah kekejaman sepakbola. Namun, ibarat dua sisi mata uang, gol "telat" itu juga layaknya oase di gurun pasir buat tim satunya lagi.
Tanyakanlah pada tim Iran, misalnya, yang begitu heroik dalam menghadang setiap serangan Argentina pada pertandingan Grup F dua hari lalu. Tengok data statistik di bawah ini, tentang begitu mati-matiannya mereka mencoba tidak kebobolan:
- Argentina melakukan serangan berbahaya sebanyak 87 kali -- berbanding 20 dengan Iran.
- 17 kali serangan Argentina masuk ke daerah kotak penalti Iran -- berbanding 8.
- Argentina menghasilkan 510 passes completed β berbanding 136.
- Iran melakukan 29 clearance dari setiap serangan Argentina itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gol itu membuat para pemain Iran, semua ofisial di bench, dan mungkin jutaan penduduknya terhenyak, kecuali mungkin kiper Alireza Haghighi, yang sempat tersenyum getir, geleng-geleng kepala, karena jatuh bangun dia di hampir sepanjang laga, pada akhirnya tidak juga membuat gawangnya tidak kemasukan.
Di kubu Argentina, gol itu memecah segala ketegangan. Segenap yang mereka lakukan akhirnya berbuah juga, sekalipun harus menunggu sampai mendekati waktu habis. Pelatih Alejandro Sabella pasti merasa sangat lega, karena akhirnya tim asuhannya memperoleh tiket babak 16 besar lebih cepat.
Apa yang dialami dan dirasakan Iran juga terjadi pada Ekuador, Rusia, dam Amerika Serikat: Ekuador kalah 1-2 dari Swiss, gol terakhir dicetak Haris Seferovic di menit 90; Rusia kalah 0-1 dari Belgia, lewat gol Divock Origi di menit 88; Amerika urung menang setelah gol Silvestre Varela di menit 90 membuat skor berakhir 2-2.
Sebaliknya, gol telat itulah yang membuat Swiss mengantongi tiga poin pertama yang penting; Belgia dipastikan lolos ke babak 16 besar; sedangkan Portugal menjaga asanya untuk bertahan.
"Sepakbola terkadang kejam. Ada naik turunnya. Kami mencoba memberikan diri kami 12 jam untuk merenungi hasil ini. Kami punya kesempatan yang bagus untuk melaju dan kami sangat gembira," ujar kiper AS, Tim Howard.
Akan selalu ada drama dari gol-gol di menit-menit terakhir.
(a2s/krs)










































