Cuaca dingin serta angin yang kencang di wilayah bekas Favela, Diadema mampu menembus jaket yang saya pakai. Seketika suhu udara 15 derajat itu menjadi tak berarti begitu kami disambut penuh kehangatan oleh keluarga Neide Albuquerque.
Detiksport mendapat kehormatan dan pengalaman langka bisa nonton bareng pertandingan semifinal antara Brasil vs Jerman di rumah sebuah keluarga di Diadema. Sebuah kawasan yang sebelumnya terkenal dengan tingkat kriminalitas yang tinggi.
Kami datang bersama Romo Ferdinan Doren, pastoral asal Flores yang sudah belasan tahun tinggal di Sao Paulo. Kedatangan kami di sana langsung disambut oleh Neidi, sang pemilik rumah. Dua anjing berjenis chocho dan labrador miliknya, juga ikutan heboh menyambut kedatangan kami.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka langsung menyambut kami layaknya anggota keluarga yang sudah lama tak bersua. Sambutan yang mereka berikan terasa begitu menyenangkan.
"Brasillll," sambut salah satu putra Deiri kepada kami. Sebuah ajakan agar kami juga ikut mendukung Brasil.
Kami memang terkendala dengan komunikasi bahasa. Namun hanya dengan bahasa Portugis dan bahasa tubuh, kami tahu persis mereka mempersilakan agar kami segera mencicipi makanan.
"Kalian disuruh makan, ambil apa saja yang kalian mau," kata Romo.
Berbagai jenis makanan dan minuman ringan memang memenuhi meja di rumah ini. Snack yang kami pilih pertama adalah popcorn.
Golll!!! Jerman mencetak gol pertamanya. Seketika kesedihan langsung meliputi isi rumah. Putra Neidi langsung terus mengoceh dengan bahasa Portugis seperti menumpahkan kekesalannnya.
Kesedihan makin terasa saat gol justru mengalir deras ke gawang Brasil. Air mata pun sempat menetes di pipi Neidi. Kesedihan tampak jelas terlihat saat dia menatap kami. Perempuan paruh baya ini kemudian memilih duduk di kasur berselimut sambil menyenderkan badan di kaki suaminya.
"Siapa pun pasti sedih kalah, tapi saya senang karena kami masih bisa berkumpul di sini sambil menonton bola," kata Neidi yang diterjemahkan Romo saat waktu istirahat pertandingan.
Benar saja, masih ada beberapa tetangga Neidi yang datang ke rumahnya. Sama seperti kami, mereka pun disambut penuh hangat oleh anggota keluarga yang lain.
Babak kedua dimulai, kami semua kembali berkumpul di ruang keluarga. Ada yang serius nonton. Ada yang sibuk mengurusi makanan. Keriuhan suasana juga bertambah melihat tingkah anjing ketiga Neidi berjenis pug yang hilir mudik mencari perhatian.
Begitu peluit panjang dibunyikan, tidak berapa lama, kami bersiap pulang. Menurut Romo, mereka sempat mengeluh mengapa kami harus cepat-cepat meninggalkan rumah mereka. Ah, kami pun jadi tersanjung.
"Kalian ke sini untuk meliput warga Brasil. Kalian datang tepat waktu di saat hari paling sial," kata Neidi bercanda untuk mengomentari kekalahan telak Brasil dari Jerman.
Kami kemudian melangkah keluar untuk kembali ke penginapan. Neidi, suami serta putrinya sambil menggendong anjing, ikut mengangar kami keluar. Peluk cium hangat dari mereka saat melepas kami, menjadi bekal untuk menembus dinginnya wilayah Diadema.
(mok/rin)











































