Tuan rumah Brasil mengawali kiprahnya di Piala Dunia 2014 dengan harapan meraih trofi Piala Dunia keenam. Di Belo Horizonte, impian itu baru saja remuk-redam.
Sexta, alias trofi keenam di Piala Dunia. Demikian nama target Selecao musim panas ini. Selain trofi, Brasil juga punya misi dan ambisi untuk menghancurkan mimpi buruk bernama Maracanazo yang mulai menghantui sejak tahun 1950 lampau ketika negara itu kali terakhir menjadi tuan rumah pesta sepakbola dunia tersebut.
Di bawah komando Neymar, yang digadang-gadang sebagai pemain paling berbakat di negeri Samba saat ini, dan Luiz Felipe Scolari, yang pernah mempersembahkan gelar juara dunia tahun 2002, Brasil pun memulai perjalanannya di Piala Dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Estadio Mineirao, Selasa (8/7/2014) malam WIB, Brasil yang tampil tanpa Neymar akibat cedera akhirnya harus terbangun dari impian mewujudkan Sexta setelah diluluhlantakkan Die Mannschaft dengan skor 1-7. Kiper Julio Cesar memerah matanya, bek David Luiz kesulitan menahan isak tangisnya, dan Scolari minta maaf ke seluruh warga Brasil yang niscaya turut berduka atas nasib tim kesayangannya.
Menang atau Kalah, Yang Penting Kumpul
Seluruh kejadian itu detikSport saksikan dalam sebuah acara nonton bareng berjarak 600 km jauhnya dari Estadio Mineirao. Bukan dalam acara nobar besar melainkan hanya sebuah sesi nobar kecil di tengah-tengah sebuah keluarga biasa di Brasil, dalam lingkungan yang biasa disebut favela, di Diadema, Sao Paulo.
DetikSport sendiri berkesempatan menyambangi daerah favela di Diadema ini untuk menemui Romo Ferdinand Doren, pastoral asal Flores, Indonesia, yang sudah tinggal 15 tahun di Sao Paulo. Ia cukup dikenal berkat aktivitas sosialnya, secara khusus untuk penduduk setempat yang termarginalkan.
Berkat Romo Ferdinand inilah favela yang dikenal angker karena rawan kejahatan mampu memperlihatkan sisi hangat di tengah-tengah dinginnya udara--sejak pagi sampai malam kawasan Sao Paulo dan sekitarnya diakrabi hujan dan gerimis tipis. Ditemani Romo Ferdinand, detikSport datang ke kediaman sebuah keluarga di Rua Plateo, Campanario, kawasan Diadema, untuk nobar laga Brasil versus Jerman.

Kendati baru kali itu bertemu dengan si empunya rumah, kami sudah disambut amat hangat seperti sobat lama. Sambil memerhatikan sebuah layar televisi berukuran 40 inci yang ada di ruang keluarga berukuran 8x3 meter tersebut, keluarga ini terus-terusan menawari kami makanan dan minuman--belakangan barulah detikSport mengetahui dari Romo Ferdinand bahwa untuk orang Brasil pada umumnya, tamu langsung dianggap bak keluarga sendiri.
Nyonya rumah kami, perempuan paruh baya nan ceria yang mengenakan jersey Brasil bertuliskan namanya, "Neide", di punggung, adalah yang paling sibuk memastikan kenyamanan kami.
Si nyonya rumah itu pula yang matanya paling dulu berkaca-kaca ketika Jerman sudah unggul lima gol tanpa balas atas Brasil saat jeda turun minum. Namun, kehangatan dan keceriaan Nyonya Niede tetap bersinar lebih besar ketimbang dukanya karena ia terus saja menawari kami penganan dan minuman seraya tetap berusaha menjaga senyumnya terkembang.Dengan bantuan Romo Ferdinand sebagai penerjemah, detikSport pun menanyainya soal skor pertandingan dan tim mana yang sebenarnya ia harapkan jumpa Brasil seandainya lolos ke lolos.
"Saya sih inginnya bertemu Belanda di final karena tim itulah yang mengalahkan Brasil (di perempatfinal Piala Dunia 2010)," sahut Nyonya Neide. "Tapi kalah begini pun tidaklah mengapa, yang penting kita harus tetap bersyukur masih bisa berkumpul seperti ini."
Saat peluit akhir dibunyikan Brasil kalah telak dari Jerman di babak empat besar sehingga dipastikan belum bisa menambah gelar juaranya di ajang Piala Dunia. Duka dan kecewa sudah pasti melanda negeri Samba.
Sementara di ruang tamu nan mungil keluarga Neide, saat laga tuntas 90 menit sudah berkumpul 16 orang--plus kami berempat. Lara juga pasti bersemayam di hati mereka. Tetapi melihat bahwa masih ada canda dan tawa, boleh jadi juga mereka punya opini seperti Nyonya Neide: kalah atau menang yang penting ngumpul.
(krs/rin)











































