Sao Paulo: Kota Sejuta Lampu Merah Hingga Surga Pejalan Kaki

Catatan dari Brasil

Sao Paulo: Kota Sejuta Lampu Merah Hingga Surga Pejalan Kaki

- Sepakbola
Kamis, 10 Jul 2014 15:30 WIB
Sao Paulo: Kota Sejuta Lampu Merah Hingga Surga Pejalan Kaki
detiksport/moksa
Sao Paulo - Ada banyak hal yang bisa dinikmati dari Sao Paulo. Kota indah di Brasil ini bisa dibilang layak untuk menjadi salah satu kiblat pembangunan.

Sao Paulo tak sekadar berisi gedung berarsitek modern dan masa lampau saja. Tapi masih ada juga kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang membuat iri warga Jakarta.

Mungkin terlalu "lebay" untuk menyebutnya demikian, tapi kota ini ibarat kota sejuta lampu merah. Bayangkan saja, untuk jarak tidak sampai 5 km, kita bisa melewati 10 lampu merah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kota ini memang berkonsep blok. Sangat jarang bisa menemui sebuah jalan memanjang tanpa ada persimpangan. Jadi bisa dibayangkan sebanyak apa persimpangan jalan yang ada di kota ini.

Dibandingkan dengan saya yang biasa tinggal di Jakarta, pemandangan pengguna kendaraan melanggar lalu lintas, tidak saya temui selama saya beberapa hari menetap di kota ini. Para pengemudi roda dua maupun empat, bahkan sudah berhenti saat lampu rambu masih kuning.

Siapa yang paling diuntungkan? Tentu saja para pejalan kaki. Saya dan ribuan pejalan kaki yang lain bisa dengan aman menyeberang tanpa takut terserempet kendaraan.

Mulai dari pengendara mobil keluaran baru hingga butut, bahkan sopir-sopir truk, mereka sangat menghargai pejalan kaki. Begitu juga sebaliknya, jarang terlihat pejalan kaki menyeberang bukan pada zebra cross.

"Kalau ada yang nyerempet, si pengendaranya bisa langsung masuk penjara," kata salah satu WNI yang sudah tinggal selama 11 tahun di kota ini, Sinta Surentu, saat berbincang-bincang dengan detiksport.



Bukan hanya itu saja cara kota ini 'memanjakan' pejalan kaki. Pedestriannya yang disediakan rata-rata lebarnya mencapai 4 hingga 5 meter.

Kondisinya pun masih sangat terawat. Contohnya kawasan Anhangabau – katakanlah, Jalan MH Thamrin-nya Sou Paulo, Paulista.Β Dengan polusi dan kualitas udara yang jauh lebih baik dibanding Jakarta, berjalan kaki di kota ini menjadi alternatif utama bagi orang baru seperti saya.

Budaya lain yang wajib ditiru adalah soal antre. Warga Sao Paulo sangat menghargai budaya antre. Jangan berani terobos antrean jika tak ingin disoraki.

"Warga sini bisa marah kalau diserobot," ujar staf bagian administrasi dan marketingΒ Indonesian Trade Promotion Center di Sao Paulo, Yoyok Prasetyo.

Meski begitu, kriminalitas di Brasil, khususnya di kota ini masih sering di dengar. Jika malam sudah larut, jangan berkeliaran dengan gadget ditenteng. Jangan juga bertingkah seperti orang yang belum kenal dengan wilayah ini.

Sinta menjelaskan, jika terjadi kejahatan, biasanya warga sekitar memilih menghindar dibanding menolong. Mereka tidak ingin malah ikut jadi korban para penjahat yang memang tergolong cukup nekat.

Terlebih lagi di kawasan Republica, tempat justru di mana saya tinggal di Sao Paulo. Hiiii.



(mok/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads