ADVERTISEMENT

Genealogi Winger (Bagian 1)

- Sepakbola
Senin, 18 Mar 2013 11:30 WIB
AFP/Intercontinentale
Jakarta - Di bulan Maret 1960, pernah suatu saat Helenio Herrera, salah satu pengusung gaya bermain catenaccio yang kala itu menukangi Barcelona, bertemu dengan Stan Cullis, pelatih Wolverhampton Wanderers. Dalam perjumpaan ini, Herrera secara gamblang mengatakan pada Cullis bagaimana ketinggalan dan tidak inovatifnya sepakbola Inggris dibandingkan negara Eropa daratan lainnya. Bahwa gaya bermain mereka, yang menekankan pada kekuatan fisik namun tanpa metode dan teknik, adalah gaya bermain yang digunakan negara lain bertahun-tahun lalu.

"Orang-orang Inggris adalah mahluk yang lahir dari kebiasaan," ujar Herrera pada Cullis seolah mengejek ketidakmampuan mereka untuk berontak dari konservatisme dan tradisi. Memang, Inggris sendiri dikenal sebagai negara yang kolot dan sangat memegang nilai-nilai. The English Gentlemen.

Namun, dari kepatuhan pada pakem, metode, dan kebiasaan inilah lahir satu tipe pemain yang mewakili sepakbola Inggris: winger atau pemain sayap. Pemain yang beroperasi di sisi lateral lapangan ini identik dengan serangan cepat, yang memang sering diasosiasikan dengan sepak bola kick and rush khas Inggris. Karena itu tak heran jika di periode 1940-1960-an Inggris memiliki banyak sekali pemain sayap apik, seperti halnya Stanley Matthews, Tom Finney, Billy Liddle, atau legenda Manchester United, George Best. Ya, kultur pemain sayap, beserta dengan striker tinggi besar pemegang nomor punggung 9, memang jadi produk hasil era stagnansi taktik di Inggris.

Era Winger di Formasi W-M

Walau cenderung stagnan dalam periode waktu yang panjang, mengatakan bahwa sepakbola Inggris tidak inovatif sesungguhnya tidak seluruhnya benar. Pada 1925, Herbert Chapman dengan formasi W-M-nya di Arsenal meredefinisi permainan sepak bola sebagai jawaban atas aturan offside yang baru. Formasi inilah yang kemudian ditiru oleh sebagian besar klub Inggris dan dianggap benar hingga tiga puluh tahun kedepan. Sebelumnya, formasi 2-3-5 lah jadi platform utama untuk klub-klub di Inggris.

Namun, perubahan yang dibawa Chapman sebenarnya tidak berhenti pada penempatan pemain saja. Tidak sekedar membuat pemain belakang yang semula hanya dua orang menjadi tiga, atau sekedar menarik dua orang pemain depan (inside forward) jadi bermain lebih dalam.

Melalui formasi W-M, Chapman juga merubah gaya bermain yang semula berorientasi menyerang jadi lebih bertahan, terorganisir, dan mengandalkan serangan balik untuk menyerang. Arsenal di bawah Chapman bermain dengan mengundang lawan ke daerah pertahanan mereka sendiri, meredam serangan, untuk kemudian meluncurkan serangan balik secara cepat saat ada kesempatan.

Lalu, bersamaan dengan Arsenal yang meraih gelar demi gelar juara dengan menggunakan formasi Chapman, klub-klub lain pun mulai mengadopsi formasi W-M.

Namun, adopsi ini sendiri tidak berlangsung secara sempurna. Pasalnya, di Arsenal, Chapman memiliki inside forward seperti Alex James yang mampu membangun serangan dan mengalirkan bola secara baik. Pemain pintar seperti Alex inilah yang susah ditemui di klub lain. Akhirnya kebanyakan klub hanya mampu meniru gaya bertahan Arsenal saja dan membiarkan serangan balik dilakukan melalui bola-bola panjang dari pemain bertahan ke depan.

Dari sinilah muncul tradisi sepakbola Inggris yang memanfaatkan sisi lapangan sebagai serangan balik. Pemain sayap pun kemudian muncul sebagai aktor utamanya. Mereka-mereka yang bermain di posisi ini dituntut untuk memiliki kecepatan tinggi agar dapat mengejar bola umpan panjang serangan balik, untuk kemudian mengirimkan umpan silang ke dalam kotak pertahanan lawan, atau menusuk masuk dan mencetak gol. Namun, pada intinya pemain sayap ini bertugas untuk mengeksploitasi ruang lateral yang ditinggalkan lawan saat mereka asyik menyerang.

Karena itu, pada rentang waktu ini, tumpuan serangan klub-klub Inggris hanya ditopang oleh tiga orang, yaitu dua orang pemain sayap dan satu orang ujung tombak yang siap mengeksploitasi kesalahan pemain belakang lawan. Sementara inside forward lebih berfungsi sebagai penyambung antara lini belakang dan lini depan. Akibatnya pemain sayap di era ini mendapatkan ruang untuk berlari, atau menggiring bola, yang jauh lebih luas dibandingkan winger-winger di era sepakbola modern seperti sekarang.

Tak heran jika umpan silang jauh dari winger kanan ke winger kiri, dan sebaliknya, jadi hal yang lumrah hadir dalam pertandingan di Inggris. Salah satu klub yang paling sering menerapkan strategi ini adalah Wolverhampton yang saat itu dilatih Stan Cullis. Kedua pemain sayap mereka, Johnny Hancocks dan Jimmy Mullen acap kali membingungkan pemain belakang lawan dengan mengirimkan umpan dari sisi ke sisi, untuk meregangkan ruang antara pemain lawan. Akibatnya pemain depan Wolves (Jesse Pye, Dennis Wilshaw, dan Roy Swinbourne) mampu memanfaatkan celah tersebut untuk mencetak gol.

Formasi W-M ini juga menyebabkan munculnya duel-duel antara full-back dan pemain sayap. Patut diingat bahwa pada masa-masa ini belum hadir sistem pressing atau bertahan secara zonal dan masing-masing pemain ditugaskan untuk menjaga satu pemain secara khusus. Pemain bernomor punggung dua (bek kanan) akan selalu menjaga nomor punggung 11 (winger kiri), dan pemain nomor 3 selalu menjaga si nomor 7.

Duel-duel ini lah yang selalu ditunggu oleh para suporter sepakbola Inggris. Terutama fans Stanley Matthews, sang winger legendaris Inggris. Mereka, penonton dan bek kiri yang bertugas menjaga Matthews, tahu bahwa Matthews tidak pernah memotong ke dalam untuk mencetak gol, dan selalu mengirimkan umpan ke kotak. Akan tetapi, ribuan pasang mata di stadion tetap saja menunggu Matthews dengan elegannya mempermainkan bek tersebut, melewatinya, lalu memberikan passing akurat pada sang ujung tombak. Karena itu, di masa-masa ini setiap bek kiri yang akan berhadapan dengan Matthews selalu disebut sebagai orang yang paling kesepian di atas lapangan. Tradisi gaya bermain seperti inilah yang berlangsung di Inggris semenjak 1925 hingga 1960-an.

Sebagaimana pisau yang diasah berulang kali akan menjadi tajam, maka kesetiaan Inggris pada formasi W-M pun membuat mereka sangat ahli dalam bermain memanfaatkan sayap lapangan. Hal ini juga dibuktikan oleh timnas Inggris yang sempat tak terkalahkan selama dua tahun, dari Mei 1947 ke 1949, dan hingga 1953 belum pernah kalah di kandangnya sendiri. Bahkan Inggris sempat menghancurkan Portugal 10-0 dan Italia 4-0 dengan Tom Finney (sayap kiri) dan Stanley Matthews (sayap kanan) sebagai tumpuan serangan.

Namun, ketergantungan akan permainan sayap ini pun akhirnya harus tunduk pada evolusi taktik yang sudah sedemikian berkembangnya di luar Inggris. Pada 25 November 1953, salah satu tim terbaik sepanjang masa, Hongaria, menghancurkan Inggris 6-3 dan membuat para pemainnya seolah mengejar bayangan di lapangan. Mata publik Inggris akhirnya terbuka akan adanya formasi lain diluar W-M dan akan adanya gaya bermain lain diluar mengandalkan serangan balik. Secara perlahan Inggris memulai perubahan sepakbola mereka sendiri.

(Bersambung)


(roz/a2s)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT