ADVERTISEMENT

Genealogi Winger (Bagian 2)

- Sepakbola
Senin, 18 Mar 2013 12:44 WIB
AFP/Peter Wilcock
Jakarta - (Bagian pertama baca di sini)


Pertemuan antara Inggris dan Hongaria, pertandingan bersejarah yang dikatakan sebagai pertandingan terbaik abad ini, jadi titik awal evolusi sepakbola Inggris. Inggris dengan pakem W-M-nya yang telah mengakar selama lebih dari 25 tahun bertemu dengan Hongaria yang fasih bermain passing dengan pola 4-2-4-nya. Dalam dua kali pertemuan dengan tim yang dilatih Bela Guttmann ini, Inggris terpaksa menelan pil pahit berupa kekalahan 3-6 dan 1-7. Supremasi Inggris sebagai negara penemu sepak bola (secara institusional) pun dipertanyakan.

Pertandingan ini mengubah pandangan banyak orang di Inggris tentang permainan sepakbola. Salah satunya adalah Alf Ramsey. Pada pertandingan pertama di Wembley sendiri, Ramsey bermain sebagai bek kanan. Dari sisi lapangan yang ia jaga inilah banyak gol Hungaria tercipta. Ramsey tak bisa mengikuti Zoltan Czibor dan Ferenc Puskas yang bergerak terlalu cepat untuk ia kejar. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu pemicu lahirnya era sepakbola selanjutnya di Inggris, yaitu saat menghilangnya pemain sayap.

The Wingless Wonders

Fakta menghilangnya pemain sayap di era 1960-an seringkali dialamatkan pada Sir Alf Ramsey, pelatih yang membawa Inggris juara dunia pada 1966. Bagaimana tidak. Kala itu, ia memberikan satu-satunya gelar juara dunia pada Inggris dengan keterlibatan minim dari pemain sayap. Entah saat ia menggunakan formasi 4-3-3 atau 4-4-2, biasanya hanya satu pemain sayap yang Ramsey gunakan.

Ide di balik formasi yang digunakan Ramsey sendiri datang dari Brazil yang memperkuat lini tengahnya dengan menggunakan pemain sayap tipe bertahan dalam sosok Mario Zagallo. Dengan menggunakan formasi 4-3-3 ini (modifikasi dari 4-2-4 dengan cara menarik salah satu pemain sayap bermain lebih ke dalam), Brazil berhasil memenangi Piala Dunia 1958 dan 1962.

Selain itu, Ramsey juga berkaca pada pengalaman buruknya dipermainkan oleh Hongaria. Ia menuntut agar pemain sayap-nya mampu melindungi bek kiri dan kanan, agar peristiwa memalukan dulu tak terulang lagi.

Namun, Ramsey sendiri kesulitan untuk mencari seorang winger yang mampu menjalankan peran seperti Zagallo di timnas Inggris. Maka dalam enam pertandingan menjelang Piala Dunia 1966, Ramsey mencoba beberapa orang pemain sayap –John Connelly, Terry Paine, Bobby Tambling, dan Ian Callaghan- untuk mendapatkan seorang defensive winger. Bahkan, dalam satu pertandingan persahabatan melawan Jerman Barat, Ramsey sempat menggunakan pemain tengah, Alan Ball, dalam posisi pemain sayap bertahan ini.

Berbagai uji coba yang ia lakukan membuahkan hasil. Dalam figur Alan Ball, Ramsey mendapatkan pemain yang memiliki energi cukup untuk beroperasi sebagai pemain sayap sekaligus pemain tengah –-sebagaimana Zagallo untuk Brazil pada 1962. Satu-satunya gelar juara dunia Inggris pun kemudian hadir melalui ide Ramsey yang mengutak-atik peranan sayap tersebut. Ball, yang tak lelah-lelahnya berlari dan bertahan di sayap kanan Inggris jadi figur krusial. Di babak perpanjangan waktu, umpan silangnya lah yang dikonversi jadi gol oleh Geoff Hurst sehingga Inggris unggul 3-2.

Sebagaimana formasi W-M Chapman diadopsi oleh mayoritas klub-klub Inggris, hampir semua klub lalu meniru formasi dan gaya bermain Ramsey. Inggris pun tiba pada era selanjutnya. Setelah sepakbola Inggris selama lebih dari 40 tahun dihiasi oleh pemain sayap yang berlari di sisi kiri dan kanan lapangan, tipe pemain ini kemudian menghilang.

Satu hal yang perlu diperhatikan dari Ramsey adalah ia lebih menitikberatkan pada kerja keras, kerja tim, dan sistem dibandingkan kemampuan individual, seni, atau kegembiraan melihat keindahan di lapangan hijau. Apalagi mengisi lapangan tengah dengan pemain yang memiliki banyak energi dan mampu bermain disiplin jauh lebih mudah, terutama dibandingkan dengan menciptakan pemain yang kreatif dan bisa beroperasi di ruang yang sempit.

Sebagai hasilnya, permainan di Inggris, yang dulunya memang sudah menitikberatkan pada organisasi pertahanan, jadi lebih negatif dan membosankan. Hilang sudah era di mana pemain sayap seperti Stanley Matthews membuat penonton bergairah, menyaksikan duelnya dengan pemain belakang.

Selain karena mengutamakan organisasi di lini tengah, alasan utama dibalik menghilangnya pemain sayap di Inggris adalah penambahan jumlah pemain belakang. Saat berhadapan dengan tiga bek dalam formasi W-M, pemain sayap akan memiliki ruang berlari yang lebih luas. Sementara dengan empat pemain belakang, bek kiri dan kanan akan lebih mudah menjaga pemain sayap. Karena itu, para pemain sayap pun kehilangan ruang untuk berakselerasi.

Pertarungan Filosofis – Siklus Sepakbola

Jika di era sebelumnya evolusi pemain sayap Inggris bermula dari kekalahan di tangan orang lain, maka perubahan selanjutnya muncul karena pertarungan internal. Yaitu dari pertarungan filosofis antara petinggi-petinggi FA. Debat yang terjadi di akhir 1970-an ini mempertanyakan pentingnya mempertahankan possesion dalam satu pertandingan.

Adalah Allen Wade yang berada di sisi sepak bola yang mengandalkan possesion. Wade, yang pemikirannya sealiran dengan Alf Ramsey, mengutamakan sistem dan organisasi dalam permainan. Ia mengembangkan sistem bertahan secara zona dan berbicara mengenai pentingnya mempertahankan posisi. Dengan filosofi Wade, tim bermain secara kaku dan dengan lini tengah dan lini belakang membentuk garis sejajar yang tak pernah jauh satu sama lain.

Sementara itu Charles Hughes dan Charles Reep berdiri di sisi satunya. Dengan mengandalkan analisis statistik pertandingan, baik Hughes dan Reep menemukan bahwa gol-gol yang terjadi, baik di level domestik maupun internasional, merupakan hasil dari 5 kali passing atau bahkan lebih sedikit. Baik Reep maupun Hughes lalu menekankan pentingnya umpan-umpan panjang untuk mencetak gol.

"Passing telah dianggap sebagai jimat bagi kebanyakan orang dalam sepakbola modern. Terkadang mencetak gol dianggap sebagai prioritas kedua dengan passing ke samping kanan-kiri sebagai tujuan utama," tulis Reep dalam bukunya "League Championship Winning Soccer and the Random Effect: The Anatomy of Soccer under the Microscope".

Secara sederhana, bisa dikatakan Charles Hughes memenangi pertarungan taktik ini. Ia diangkat menjadi direktur teknik FA (tragisnya menggantikan Wade) lalu menuliskan buku panduan untuk klub-klub Inggris yang berdasarkan filosofinya ini. Lalu bagaimana dengan pemikiran Wade? Uniknya cara bermainnya malah berkembang di negara-negara Skandinavia karena dipraktikkan oleh Bobby Houghton, Dave Sexton, Don Howe dan pelatih Inggris saat ini, Roy Hodgson.

Karena "kemenangan" Hughes inilah tipe pemain sayap kembali ke persepakbolaan Inggris. Setelah melewati masa-masa bermain negatif dan membosankan ala Ramsey, permainan klub-klub Inggris pun kembali mengandalkan umpan-umpan panjang. Kembali mengandalkan pemain sayap untuk menerima umpan panjang tersebut, seperti di era Herbert Chapman. Kembali mengandalkan kecepatan sebagai alat untuk menyerang. Kembali pada era kick and rush.

Hughes pun menginstitusikan filosofinya ini di pusat pelatihan FA (Center of Excellence) di Lilleshall. Sepak bola vertikal, atau ada yang mengenalnya sebagai direct football, menjadi pilihan taktik sepak bola Inggris, dengan penekanan pada umpan panjang diagonal dan nilai-nilai kerja keras. Pemain sayap seperti David Beckham, Ryan Giggs, Ashley Young, Adam Johnson, Jermaine Penant, atau Stewart Downing kemudian lahir dari gaya bermain seperti ini.

Namun, setelah gaya bermain kick and rush ini mengakar selama lebih dua puluh tahun, dalam beberapa tahun kebelakang muncul ketidakpuasan dari berbagai pihak. Timnas Inggris tak pernah menghasilkan prestasi berarti dan terlihat tertinggal dari negara-negara Eropa daratan seperti Jerman atau Spanyol.

Menarik untuk diamati apakah ketidakpuasan ini akan membawa perubahan selanjutnya bagi pemain-pemain sayap.

====

*akun Twitter penulis: @vetriciawizach dari @panditfootball





(roz/a2s)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT