ADVERTISEMENT

Genealogi Winger (Bagian 3): Defensive Winger

- Sepakbola
Kamis, 28 Mar 2013 12:33 WIB
Jakarta - Jika dibandingkan Arjen Robben atau Marc Overmars, sosok Dirk Kuyt atau Park Ji Sung terlihat lebih sederhana. Keduanya tidak mencolok, tidak "wah", tidak dilengkapi trik-trik unik yang bisa mengelabui full-back di hadapannya, dan jarang memotong ke arah kotak penalti untuk mencetak gol.

Padahal biasanya mereka-mereka yang ditempatkan di area sayap seringkali diidentikkan dengan kecepatan dalam mengeksplorasi sisi lapangan dan/atau kreativitas dalam berduel dengan para full-back. Setelah pemain depan, tipe-tipe pemain sayap biasanya kerap membuat penonton terkesima dan sering memaksa penonton tanpa sadar bergerak dari tepian kursi untuk berdiri.

Tapi ini berbeda dengan Kuyt dan Ji Sung. Saat ditempatkan di sisi lapangan, kedua pemain ini lebih sering berlari ke arah gawang timnya sendiri dibandingkan meneror kiper tim lawan. Jika Robben menyihir penonton dengan golnya dari tepian kotak penalti, Kuyt saat membela Liverpool, dan Ji Sung sewaktu berbaju Manchester United, justru lebih sering membuat penonton berteriak dengan larinya mengejar pemain depan lawan kemudian merebut bola dengan tekel.

Walau bukan seorang pemain sayap murni, baik Rafa Benitez maupun Alex Ferguson sering mempercayakan sisi sayap kiri atau kanan lapangan pada kedua pesepakbola ini. Karena daya tahannya secara aktif dalam menahan laju serangan lawan [defensive-ability], maka pemain-pemain yang mengambil peran seperti Kuyt dan Ji Sung ini sering disebut sebagai defensive winger.

Tapi keberadaan pemain sayap tipe bertahan sendiri bukan hal baru dalam dunia sepakbola. Kemunculannya pertama kali dapat ditelusuri hingga ke akhir 1950-an.

Penyeimbang Lini Bertahan dan Menyerang

Mario Zagallo, orang pertama yang pernah menjadi juara dunia dalam kapasitas sebagai pemain dan pelatih, sering dianggap sebagai prototipe pemain sayap bertahan pertama di dunia. Bersama Brasil ia dua kali menjuarai Piala Dunia dengan menjadi defensive winger yaitu pada 1958 dan 1962.

Semula Zagallo berperan sebagai inside forward kiri di dalam formasi dasar 4-2-4. Namun dengan melimpahnya pemain-pemain depan Brasil saat itu, satu-satunya cara agar Zagallo mendapatkan tempat di timnas adalah dengan menjadi pemain sayap kiri. Dengan Garrincha yang sangat hedonis dan buas dalam menyerang di sisi kanan [lihat artikel mengenai Garrincha], maka Zagallo bermain di sisi kiri untuk cenderung ikut bertahan saat timnya diserang.

Di era 1950-an, atau menjelang berakhirnya era W-M, tugas inside forward sudah berubah terlebih dahulu. Jika semula pemain di posisi ini hanya bertugas untuk menyerang dan mengalirkan bola, maka perannya bertambah dengan ikut membantu pertahanan saat timnya diserang. Karena itu, tak heran Zagallo sudah memiliki kemampuan bertahan sebelum ia mengambil peran pemain sayap.

Hal ini berbeda dengan Garrincha, sang winger kanan. Dengan kemampuan dribel dan dalam melewati bek lawan, Garrincha dapat dikategorikan sebagai pemain sayap tradisional yang tak memiliki tugas bertahan sama sekali [lihat chalkboard di bawah ini untuk formasi Brasil di Piala Dunia 1958].



Dengan kedua pemain ituah Vicente Feola, pelatih Brasil kala itu, membawa negara Amerika latin ini menjuarai Piala Dunia 1958. Garrincha akan menyuplai Pele dan Vava untuk mencetak gol, sementara Zagallo dengan kerja kerasnya (tak heran ia dijuluki "Si Semut") dalam bertahan akan membantu Didi dan Zito di lini tengah.

Kemunculan Zagallo ini pun sesungguhnya suatu reaksi dari perubahan besar di dunia sepakbola, yaitu awal mula munculnya empat bek sejajar dan awal mula 4-3-3.



Empat bek sejajar muncul karena salah satu center-half (di formasi W-M) secara alamiah akan berposisi lebih dalam dan bertahan dari satunya, sehingga terdapat empat orang di lini pertahanan [lihat chalkboard di atas]. Sementara itu, tiga pemain di tengah (didapatkan dengan Zagallo yang bermain lebih dalam) muncul karena adanya kebutuhan untuk mengisi kekosongan lini tengah yang ditinggalkan center-half yang berperan sebagai bek.

Karena itu, tak heran jika tim Brasil di Piala Dunia 1958 terlihat tidak seimbang atau tidak simetris. Penyerangan akan lebih berpusat di sisi kanan lapangan (lewat Garrincha-Pele-Vava), sementara pemain sisi kiri akan lebih meredam gairah untuk menyerang demi kepentingan pertahanan. 4-3-3 yang tidak simetris.

Bagi Brasil sendiri, walau Zagallo bukan pemain paling terkenal yang pernah dihasilkan negara ini, ia merepresentasikan satu bagian penting dalam lini masa sejarah sepak bolanya: Brasil yang mencari keseimbangan antara menyerang dan bertahan.

Sementara bagi dunia sepakbola, kemunculan Zagallo memicu pemain sayap untuk belajar seni bertahan dalam sepakbola. Selain itu juga memicu kehadiran pemain sayap yang lebih komplit, yang kemampuan bertahan dan menyerangnya sama bagusnya. Kehadiran Zagallo bahkan menginspirasi Alf Ramsey untuk menciptakan sistem "wingless wonder" saat Inggris menjuarai Piala Dunia 1966 (lihat tulisan "Genealogi Winger Bagian 2").

Tak heran seorang mantan pelatih timnas Perancis, Aime Jacquet, pernah berkata bahwa Mario Zagallo adalah orang yang mengajarkan dunia untuk mengenakan dua kaus: menyerang dan bertahan. Makanya, tak perlu diherankan jika saat Zagallo menjadi manajer pun dia tetap memasang seorang pemain sayap yang punya kemampuan bertahan bagus dalam formasi utamanya.

Saat menjuarai Piala Dunia 1970 dalam posisi sebagai manajer, sekaligus melengkapi portofolio-nya sebagai orang pertama yang menjadi juara dunia dalam status sebagai pemain dan manajer, Zagallo tak lupa menempatkan seorang defensive-winger dalam susunan utama timnya.



Brasil 1970 sering disebut sebagai salah satu tim terhebat dalam sejarah sepakbola karena keseimbangannya dalam bertahan dan menyerang. Zagallo menempatkan Rivellino di sisi kiri penyerangan. Dengan Jairzinho di kanan yang peran dan gaya mainnya seperti Garrincha di Piala Dunia 1958 dan 1962, maka Rivellino di kiri memanggul tugas sebagaimana Zagallo dulu: menjadi false-winger, defensive-winger.

Ketika Zagallo menjadi asisten Carlos Alberto Perreira di Piala Dunia 1994, Brasil pun punya pemain sayap dengan tendensi bertahan yang kuat. Brasil 1994 kerap dianggap sebagai tim yang un-aesthetic, Brasil yang tidak enak ditonton. Toh hasilnya maksimal: menjadikan Brasil sebagai tim pertama di dunia yang empat kali jadi juara dunia.

Saat itu, guna melapisi agresifitas dua full-back, Jorginho di kanan dan Branco/Leonardo di kiri, Brasil memasang Mazinho dan Zinho di kedua sayap [lihat chalkboard paling atas]. Kedua pemain ini, terutama Mazinho, ayah pemain Barcelona saat ini -- Thiago Alcantara, juga punya defensive-ability yang baik. Dengan Dunga dan Mauro Silva di jantung lini tengah, saat itu Brasil punya empat pemain tengah yang memiki kemampuan bertahan yang baik. Dan itulah sebabnya kenapa Brasil di Piala Dunia 1994 sering dianggap Brasil pertama yang kelewat doyan bertahan ketimbang menari-nari di daerah lawan.

Jawaban Atas Serangan Full-Back

Jika kemunculan Zagallo adalah jawaban Brasil untuk mengatasi persoalan keseimbangan antara menyerang dan bertahan, maka pemain yang ditempatkan tinggi di sayap untuk bertahan di era sekarang adalah jawaban atas semakin menyerangnya full-back.

Contoh Dani Alves, Roberto Carlos, Cafu, Ashley Cole, Gianluca Zambrotta, atau Fabio Grosso. Dengan kemampuan dribelnya pemain-pemain ini memiliki peran sentral dalam menyerang dan stretching area permainan agar tetap lebar dan tidak menumpuk di tengah. Hal ini dikarenakan full-back-lah yang kini jadi pemain dengan area cukup luas untuk dieksploitasi dengan kecepatannya.

Dulunya, peran ini diemban oleh winger. Namun, dengan penggunaan 4 bek sejajar, para pemain sayap kehilangan ruang untuk beroperasi sehingga tugas ini dialihkan pada pemain di belakangnya.

Karena itu, seorang winger, atau pemain depan yang bermain di sayap lapangan, sebagai orang yang pertama kali berhadapan dengan full-back, memiliki tugas untuk meredam serangan dari belakang ini.

Sebagai contoh, lihatlah Stephan El-Shaarawy saat AC Milan berhadapan dengan Barcelona di laga 16 besar Liga Champions 2012/2013. Pemain muda Italia ini oleh Max Allegri ditempatkan di sayap kiri untuk meminimalisir peran Alves dan menahannya agar tidak naik. Demikian pula dengan Park Ji Sung, atau Wayne Rooney, yang pernah ditempatkan untuk menetralisir Maicon saat Manchester United bertemu dengan Inter Milan di Liga Champions 2008/2009.

Fergie salah satu manajer di era kontemporer yang sangat doyan memainkan seorang defensive-winger. Seperti yang sudah disebutkan di atas, JiSung dan Rooney cukup sering dan fasih memanggul peran ini. Terakhir bisa juga dilihat bagaimana Ryan Giggs dimainkan Fergie di leg kedua Liga Champions musim ini melawan Real Madrid. Fergie menempat Giggs di depan Rafael da Silva guna menetralisir agresifitas full-back kiri Madrid, Fabio Coentrao.

Selain untuk menahan serangan full-back lawan, kehadiran seorang defensive winger sesungguhnya membantu permainan full-back tim sendiri. Dengan full-back lawan yang tertahan di areanya sendiri, maka bek kiri-kanan tim pun akan memiliki ruang luas yang dapat digunakan untun menyerang.

Dalam skema besar sepakbola, duel ini jadi hal yang unik dan seakan berkebalikan dengan apa yang terjadi hampir 60 tahun lalu. Dulu, duel-duel antara full-back dan pemain sayap memang jadi atraksi yang menarik penonton, dengan bek terluar yang harus siap menerima gempuran sang pemain sayap.

Kini, bak piramida sepak bola yang terbalik, posisi keduanya pun tertukar. Sang pemain sayap yang kini harus bersiaga menahan serangan full-back.


==

* Akun twitter penulis: @vetriciawizach dari @panditfootball




(a2s/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT