sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Kamis, 21 Agu 2014 11:08 WIB

Menimbang Posisi Ideal Marcos Rojo di United

- detikSport
Man United via Getty Images/John Peters
Jakarta -

Akhirnya ada juga pemain baru yang berhasil didatangkan Manchester United ke Old Trafford. Nama yang terbaru adalah Marcos Rojo, pemain berpaspor Argentina, yang di musim panas lalu mencuri perhatian lewat penampilan impresifnya di Piala Dunia 2014 bersama Argentina.

Pemain bertahan dengan kekuatan di kaki kirinya ini memang tipikal pemain yang diidamkan Louis van Gaal. Juru taktik asal Belanda ini beberapa kali menyiratkan dia membutuhkan pemain bertahan dengan kaki kiri yang dominan, bagus tidak hanya dalam bertahan tapi juga mampu menjadi inisiator serangan lewat penguasaan bola yang baik, serta bisa ditempatkan baik sebagai wingback (kiri) maupun bek tengah kiri dalam skema 3-5-2.

Tapi, benarkah Rojo adalah sosok yang benar-benar sesuai dengan yang dicari oleh van Gaal? Sebelum menjawab itu, mari kita simak lebih dulu apa yang terjadi di laga perdana yang berakhir pahit karena dikalahkan Swansea di kandang sendiri.

Menilai Apa yang van Gaal Miliki Sekarang

Tidak banyak yang kaget ketika Louis van Gaal memainkan formasi 3-4-1-2 (atau 3-5-2) pekan lalu saat Manchester United digasak 1-2 oleh Swansea City di kandang mereka sendiri. Namun, satu hal mengagetkan kita adalah bahwa van Gaal menurunkan Tyler Blackett sebagai pemain inti.

Apakah Blackett sosok yang tepat? Jika melihat pilihan van Gaal kemarin dan melesetnya transfer Thomas Vermaelen, van Gaal memang tidak memiliki opsi selain Blackett. Sebelum kita menghakimi United yang kalah sambil melancarkan protes bahwa United memang butuh pemain baru, mari sejenak kita nilai permainan Blackett pekan lalu.



Grafik kombinasi operan dan permainan Blackett (Manchester United 1-2 Swansea City) sumber: FFT Stats Zone

Jika kita melihat grafik kombinasi operan di atas, siapakah pemain United yang paling banyak berperan dalam operan tim? Agak sedikit mengejutkan, mungkin, namun inilah jawabnya: Blackett!

Blackett, pemain asli akademi Manchester United, yang baru berusia 20 tahun ini berperan dengan sangat baik pada skema permainan tiga bek van Gaal, baik dalam bertahan, menyerang, maupun transisinya.

Dari catatan di atas, Blackett melepaskan 90 buah operan dengan 6 buah saja yang tidak mencapai sasaran.

Jadi, kuncinya adalah kemampuan mengoper? Bisa dibilang begitu. Untuk lebih jelasnya, mari kita uraikan operan-operan Blackett saat melawan Swansea tersebut, sambil mengetahui hubungannya dengan taktik van Gaal.

Bermain dengan tiga bek berarti van Gaal mencoba untuk membangun serangan dari belakang. Membangun serangan dari belakang berarti ketiga bek tengah senantiasa dituntut harus selalu bisa menguasai dan mengoper bola sepanjang pertandingan.

Nyatanya, tidak cuma tiga bek saja yang berperan dalam gaya permainan ini. Dibutuhkan juga peran dari kedua wingback, salah satu dari gelandang di depannya, dan juga penjaga gawang. Maka kita akan menemukan total enam pemain yang berperan dalam membangun serangan dari belakang. Dengan mengesampingkan pemain lain, mari kita lihat apa yang Blackett lakukan.



Uraian grafik operan Blackett yang dibagi ke dalam tiga bagian lapangan (Manchester United 1-2 Swansea City) sumber: FFT Stats Zone

Pada saat memulai transisi ini, Blackett sudah berperan dengan baik, tanpa satupun operan meleset ia berhasil melepaskan 20 operan di antara keenam pemain di belakang. Ia bisa mengoper kepada Ashley Young di wingback, atau kepada sesama bek tengah. Jika terdesak tidak menemukan ruang, ia bisa mengoper ke belakang kepada David De Gea.

Lalu transisi pertama dimulai di sini, ketika operan sampai ke tengah lapangan. Peran Ander Herrera maupun Darren Fletcher disoroti di sini ketika mereka bisa atau tidak mencari ruang yang tepat untuk meminta dan menerima operan. Di bagian lapangan ini, Blackett hanya gagal sebanyak dua kali dari 56 operan yang ia lepaskan.

Kemudian bagian penting dari transisi ini adalah untuk meluncurkan bola menuju pemain depan. Kondisi ini bisa lebih menguntungkan tergantung dari posisi awal sebelum mengoper. Kalaupun ia kesulitan, ia bisa meminta bantuan kepada wingback untuk opsi angle memanfaatkan lebar lapangan.

Idealnya, alih-alih mengoper kepada wingback lagi, di sini Blackett bisa mendapatkan banyak kesempatan untuk mengarahkan bola ke bagian yang lebih dalam di depannya. Akan ada banyak faktor yang bisa membuat operannya berhasil ataupun tidak, yaitu pergerakan pemain depan.

Pada praktiknya, Blackett mendapatkan 14 kesempatan mengoper ke depan (10 operan berhasil), dengan lima di antaranya mengarah ke bagian dalam lapangan. Tiga operan ke dalam terhitung tidak tepat sasaran oleh karena posisi pemain depan yang sedang tidak menguntungkan.

Kunci yang harus ditingkatkan oleh Blackett adalah timing dan pengalaman. Jadi, inilah yang menjelaskan mengapa van Gaal menginginkan seorang bek yang berkaki kiri.

Jika kita percaya hitung-hitungan van Gaal, sebenarnya United sudah memiliki sosok yang tepat pada diri Blackett. Tapi, patut diakui akan terlalu berisiko jika United terus menerus mengandalkan servis Blackett sepanjang musim ini, apalagi jika harus menghadapi lawan-lawan seperti Manchester City, Liverpool, Chelsea, dan Arsenal. Dia terlalu hijau untuk menyandang beban seberat itu.

Mengingat performa Blackett saat melawan Swansea maupun saat pramusim, Blackett bisa dibilang adalah bek tengah yang menjanjikan untuk United. Butuh pembinaan secara berkala, maka ia bisa menjadi pemain kelas atas.

Jika dibandingkan dengan Rojo, Blackett sebenarnya memiliki fisik yang sedikit lebih unggul. Tingginya 1 cm lebih tinggi daripada Rojo, yaitu 188 cm. Jadi, posisi bek tengah sebenarnya sudah cukup aman dengan kehadiran Rojo ini.

Menanti Kedatangan Marcos Rojo

Dari semua incaran (maupun gosip) van Gaal yang lolos, Marcos Rojo adalah salah satu target transfer terbaru untuk masuk dalam spesifikasi yang sangat khusus dari van Gaal. Dan target itu kini sudah didapatkan.

Bos United ini memang telah memprioritaskan bek berkaki kiri yang bisa memainkan bola dengan lihai, sambil juga memberikan cover di sayap kiri. Rojo masuk ke dalam kriteria itu semua.

Bek dari Sporting Lisbon berusia 24 tahun ini sangat mengesankan sebagai bek kiri di tim Argentina yang mencapai final Piala Dunia. Ia bahkan masuk dalam 11 pemain terbaik Piala Dunia versi Castrol Index.

Ia juga selalu bermain sebagai bek tengah di Sporting selama dua musim ini. Dia memiliki banyak spesifikasi yang baik dengan kemampuan mengopernya adalah salah satu kekuatan utamanya sebagai bek tengah, dan satu yang mungkin telah menarik perhatian van Gaal. Dia juga memiliki fisik yang kuat, tinggi, cepat, dan "raksasa" pada duel udara.



Grafik permainan Rojo bersama Argentina sepanjang Piala Dunia 2014 sumber: Opta

Ia, bersama kiper Sergio Romero, awalnya dianggap sebagai salah satu titik lemah La Albiceleste di Piala Dunia lalu. Tapi ia benar-benar bermain sangat baik dan kehadirannya sangat diandalkan di lini pertahanan sambil menambahkan opsi menyerang bersama pemain seperti Lionel Messi, Sergio Aguero, dan Gonzalo Higuain.

Selama pertandingan pertama negaranya melawan Bosnia, ia mencatat kecepatan tertinggi dengan 31,79 kilometer per jam, yang membuatnya sebagai salah satu pemain tercepat di turnamen.

Tetapi ia adalah seorang Rojo (atau "merah" dalam Bahasa Spanyol), artinya dia pemain yang cepat tersulut emosinya. Dia sendiri mengaku pada hari Minggu lalu saat ia meminta maaf karena melakukan mogok latihan sebagai paksaan kepindahannya ke Old Trafford.

Dia juga mencatatkan dirinya dengan 20 buah kartu kuning dan empat buah kartu merah dalam dua musim terakhir di Sporting.



Grafik permainan Rojo (Iran 2-3 Nigeria dan Argentina 0-1 Jerman) sumber: FFT Stats Zone

Namun selain hal di atas, ia adalah seorang pemain yang cerdik dalam memanfaatkan ruang di situasi tendangan sudut untuk menyundul bola. Ia pun handal dalam melakukan umpan silang.

Tak diragukan, ia akan dimaksimalkan oleh van Gaal nanti. Van Gaal mengaku setelah pertandingan menghadapi Swansea: "Setiap tim akan membuat kemungkinan peluang terhadap kami, karena kami bermain dengan ruang yang besar di belakang kami yang membuat kami selalu sulit untuk bertahan."

Melihat skema van Gaal, United bisa memainkan Rojo sebagai bek tengah maupun wing-back. Namun, kita bisa melihat dalam sisa kurang dari dua minggu jendela transfer ini, jika United tidak bisa mendatangkan pemain baru lagi, maka Rojo otomatis akan mengisi posisi bek tengah kiri di United.

Sementara wingback kiri bisa diisi oleh Luke Shaw, dengan catatan mereka tidak memiliki wingback pelapis yang sesuai spesifikasi selain Reece James, pemain lulusan akademi lainnya dari United.

Khusus untuk posisi wingback kanan, tidak akan ada masalah serius bagi United. Jika tidak ada masalah cedera lagi, baik Antonio Valencia maupun Rafael da Silva sudah sesuai dengan spesifikasi yang van Gaal inginkan. Asal bukan Adnan Januzaj lagi saja yang dimainkan di posisi ini. Bagaimana menurut Anda? Di manakah posisi yang pas untuk Rojo nanti di United?

====

*ditulis oleh @DexGlenniza dari @panditfootball

(roz/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com