Merancang Skema Ideal untuk Angel Di Maria

Merancang Skema Ideal untuk Angel Di Maria

- Sepakbola
Jumat, 29 Agu 2014 12:27 WIB
Merancang Skema Ideal untuk Angel Di Maria
Man United via Getty Images/John Peters
Jakarta -

Hanya tiga bulan berlalu dari masa Angel di María menerima penghargaan man of the match pada pertandingan final Liga Champions, sosoknya kini telah berlabuh di Manchester.

Jelas tidak terduga bahwa Real Madrid akan melepas pemain yang aksi meliuk-liuknya melewati tiga pemain Atletico Madrid menjad katalis untuk gol penting Gareth Bale. Gol yang menempatkan Real Madrid ke tempat agung, satu-satunya klub yang mampu mencicipi La Decima.

Kinerja Di Maria di Lisbon memang sensasional. Ini adalah puncak dari musim briliannya bersama El Real yang sayangnya harus berakhir.
Kepindahan senilai hampir 60 juta pounds ke United menandakan bahwa ia adalah pemain kelima termahal di dunia dan pemain termahal yang pernah dibayarkan oleh tim di Britania Raya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbicara tentang Di Maria dan Manchester United, suka ataupun tidak suka, semua pembicaraan kita pasti menyinggung 3-4-1-2. Era Louis van Gaal di Manchester United dimulai dengan pemakaian skema 3-4-1-2.

Menggunakan sistem yang sama untuk Belanda di Piala Dunia 2014, van Gaal membawa pola ini ke klub barunya. Namun, satu hal yang patut kita tahu adalah van Gaal sama sekali tidak melulu identik dengan 3-4-1-2 atau 3-5-2.

Van Gaal baru mulai memainkan formasi tersebut pada awal tahun di tim nasional Belanda ketika ia kehilangan Kevin Strootman yang cedera. Cederanya gelandang AS Roma ini memaksa van Gaal memutar otak mencari solusi yang tepat dalam persiapan menuju Pila Dunia.

Sebelumnya, mantan pelatih Bayern Munich itu gemar memakai berbagai sistem, mulai dari 4-3-3, 4-3-1-2, 3-4-3, sampai 4-2-3-1. Ia lebih menekankan pendekatan kepada para pemain. Kalaupun ada pola yang ia sukai atau sering dipakai, van Gaal lebih banyak bermain dengan 4-3-3 atau 4-2-3-1 ketimbang menggunakan formasi tiga bek.

Jadi, memang ada baiknya untuk menyingkirkan jauh-jauh anggapan bahwa van Gaal-lah yang mempopulerkan skema tiga bek.

Pertanyaannya kalau begitu adalah: Kenapa ia bersikeras memakai 3-4-1-2 di United? Jawabannya ada pada pernyataan di atas juga, yaitu van Gaal selalu mencoba untuk memaksimalkan sumber daya yang ada.

Dengan pola 3-4-1-2, ia mampu memaksimalkan peran Wayne Rooney, Robin van Persie, dan Juan Manuel Mata secara bersamaan. Jadi, sebenarnya formasi default dengan template "1-2" di depan menjadi keiinginan jawaban van Gaal.

Tanpa Luke Shaw dan Rafael da Silva, memilih Luis Antonio Valencia dan Ashley Young sebagai wing-back adalah solusi yang logis, jika tak bisa dibilang solusi yang sempurna.

Tapi, pola 3-4-1-2 van Gaal saat menghadapi Swansea City, Sunderland AFC, dan Milton Keynes Dons membuat tiga bek mereka kerepotan menghadapi para penyerang lawan. Tiga pertandingan ini juga membuat mereka kebingungan dan selalu kalah di posisi yang lain.

Skenario tiga lawan dua --yang seharusnya menguntungkan tiga bek-- malah mengaburkan peran kerja mereka. Hal ini menunjukkan bahwa 3-4-1-2 memang membutuhkan pemain spesialis pada posisi yang spesial pula.

Jejak Karier Permainan Di Maria

Awal karier Di Maria adalah ketika ia bermain di Rosario Central dan Benfica. Saat itu, ia adalah pemain sayap yang berbahaya. Lalu di Real Madrid era Jose Mourinho, ia bermain sebagai penyerang sayap untuk membantu Cristiano Ronaldo dan Mesut Oezil di posisi menyerang.

Kemudian, mulai tahun 2013, ia bermain di posisi yang lebih dalam. Pada skema 4-3-3, ia bermain menemani Xabi Alonso dan Sami Khedira di posisi tiga gelandang.



Posisi Angel Di María pada skema 4-3-3 di Real Madrid

Di Maria sendiri akan melebar ketika Ronaldo bergerak menusuk ke kotak penalti, satu hal yang memang sering dilakukan penyerang Portugal tersebut. Grafik ini bisa terlihat pada gambar A di atas.

Selain tugas sebagai pemain sayap, gelandang Argentina itu bisa menyambungkan permainan dari Khedira (atau Xabi) dan Luka Modric ke depan. Ia melakukannya dengan mengisi posisi gelandang menyerang atau playmaker di belakang striker Karim Benzema (gambar B).

Saat Marcelo melakukan overlap, Di Maria juga senantiasa mahir dalam mengambil posisi yang menguntungkan (gambar C).

Ketika Madrid kehilangan bola dan bersiap menghadapi serangan balik, Di Maria adalah pemain yang paling siap untuk entah menghalau bola, menunda bola, maupun mundur menutup posisi yang Marcelo tinggalkan.



Grafik permainan (sumber: FFT Stats Zone) dan heat map (sumber: squawka.com) Angel Di Maria saat Real Madrid bertemu Atletico Madrid di final Liga Champions 2014

Pada final Liga Champions 2014 di Lisbon, ia menyelesaikan take-on dua kali lebih banyak daripada yang pemain lain lakukan dan menghasilkan tiga kali lebih banyak umpan silang yang akurat. Hanya Sergio Ramos yang membuat intersepsi yang lebih banyak daripada Di Maria.

Buah dari permainannya ini membuatnya memuncaki top assist di La Liga musim lalu. Total 17 buah assist berhasil ia cetak, yang juga membuatnya bercokol sebagai pemberi assist terbanyak dari 5 liga top di Eropa.

Di atas kertas, melepas Di Maria adalah sebuah kesalahan bagi Real Madrid, kesalahan yang mirip dengan dibuat ketika mereka melepas Mesut Oezil ke Arsenal musim lalu dan Claude Makelele di masa lalu.

Belum lagi jika kita berbicara tentang perannya di tim Argentina. Dengan Lionel Messi yang beroperasi di belakang Sergio Aguero dan Gonzalo Higuain, Di Maria dengan leluasa menusuk dari belakang. Posisi ini menguntungkannya karena ia bisa memanfaatkan ruang yang dibuka oleh ketiga rekannya di depan.

Ketika Jorge Jesus menjuluki di María sebagai seorang "genius", ia menggambarkan Di Maria sebagai "yang terbaik di dunia di posisinya". Ketika itu, Jesus tidak berbicara tentang sekadar seorang pemain sayap. Bos Benfica itu memakai Di Maria dalam formasi 4-3-1-2 dengan Di Maria dan Ramires bermain dari dalam ke luar. Dengan nyaman Di Maria bermain di lini tengah dan juga mendapatkan ruang di sayap untuk mengirim umpan silang ke tengah.

Efek di María untuk Manchester United

Kehadiran Di Maria di United secara logis akan membuat pemakaian sistem 4-3-1-2 lebih cocok daripada sistem 3-4-1-2. Kenapa?

Menempatkan Di Maria pada posisi dua gelandang bersama Ander Herrera mengandung risiko, sementara memainkannya pada posisi wing-back adalah usaha yang sia-sia.

Ia bisa saja bermain sebagai gelandang tengah, tapi ia harus memiliki tandem yang bertipikal box-to-box. Tempat terbaik di María pada 3-4-1-2 adalah di depan, di posisi 1 ataupun 2, sehingga van Gaal harus mengorbankan satu dari Rooney, van Persie, maupun Mata untuk digantikan oleh Di Maria.

Namun, dengan skema 4-3-1-2 pelatih yang pernah membawa Ajax juara Liga Champion bisa mempertahankan ketiga pemain andalannya tanpa mengubah sistem di depan. Skema 1-2 di depan bisa tetap dipertahankan.

Akan tetapi, dalam formasi ini pergerakan dalam skema menyerang tidak terlalu melebar, dengan Shaw dan Rafael sebagai full-back alih-alih sebagai wing-back. Di María akan bermain sebagai gelandang yang juga bermain melebar sambil beberapa kali melakukan tusukan diagonal.

Memainkan sistem 4-3-1-2 selain memaksimalkan Rooney, Persie, dan Mata, juga akan memaksimalkan Herrera yang akan bermain lebih alami. Herrera bisa mendistribusi bola dari belakang maupun naik ke depan membantu Mata dan Rooney.



Formasi ideal Manchester United jika Arturo Vidal atau Daley Blind bergabung

Satu hal yang mesti dicatat adalah posisi gelandang bertahan akan menjadi krusial. Arturo Vidal akan menjadi pembelian yang sangat cocok karena ia adalah gelandang bertipikal box-to-box. Daley Blind juga bisa mengisi posisi ini sambil menyediakan pilihan lain di posisi bek sayap kiri, baik sebagai full-back maupun wing-back.

Menjadikan Skema Tiga Bek Sebagai Alternatif



Formasi alternatif yang juga akan membuat Manchester United bermain dengan tiga bek ketika bertahan

Jika tidak mendapatkan Vidal dan Daley Blind, Michael Carrick maupun Phil Jones bisa mengemban tugas tersebut. Mereka berdua bisa turun ketika bertahan, seperti gambar di atas, untuk menjadikan lini belakang United bermain dengan tiga bek.

Sistem 4-3-1-2 ini juga tetap akan mempertahankan sistem 3-4-1-2 yang selalu menjadi pilihan, terutama ketika bertahan. Jika van Gaal bersikeras bermain dengan 3-4-1-2, maka sistem tidak akan akan menyempurnakan di María sebagai pemain. Sebaliknya, kehadiran di María juga tidak akan menyempurnakan sistem.

Satu hal yang jelas, kehadiran di María akan menambah kualitas penyerangan United. Seperti efeknya pada Argentina di Piala Dunia lalu, ia telah menjelma menjadi pemain tengah cepat yang ikonik.

Bermain dengan mengenakan nomor punggung 7 --jelas sebuah nomor yang juga ikonik di United—patut ditunggu apakah Di Maria bisa bermain dalam satu skema yang tepat. Jika iya, maka fans Manchester United tinggal bersiap-siap mengelu-elukan penerus kejayaan Bryan Robson, David Beckham, dan juga Cristiano Ronaldo tersebut.

====

*ditulis oleh @DexGlenniza dari @panditfootball



(roz/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads