Bagi United sendiri, ini menjadi kemenangan pertamanya di musim 2013/204. Butuh empat pertandingan bagi Louis van Gaal memperoleh poin penuh untuk pertama kalinya. Kalah lawan Swansea di Old Trafford pada pertandingan pembuka, Rooney dkk. harus puas berbagi angka dengan Sunderland dan Burnley pada laga selanjutnya.
Kemenangan ini membawa rasa percaya diri kepada tim dan para penggemar tentunya, bahwa targetManchester United kembali ke Liga Champions musim depan mulai tampak realistis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Formasi Manchester United vs QPR
Perubahan ke Skema Empat Bek
Satu hal yang paling mencolok dalam pertandingan lawan QPR adalah perubahan formasi yang dilakukan Van Gaal. Skema tiga bek yang dipakai sejak pra-musim kali ini ditinggalkan sejak awal laga. Mereka kembali menggunakan empat bek sejajar seperti yang dipakai Sir Alex Ferguson bertahun-tahun dan David Moyes musim lalu.
Ada beberapa faktor yang menjadi kemungkinan Van Gaal mengubah formasinya tersebut. Pertama adalah kembalinya Luke Shaw dari cedera dan turunnya izin kerja Marcos Rojo. Di tiga laga awal, United tak punya stok cadangan yang mumpuni untuk mengisi posisi fullback kiri dengan absennya dua pemain di atas.
Sempat menugaskan Ashley Young sebagai fullback kiri di babak kedua saat menghadapi Swansea --dengan hasil yang menyedihkan-- agaknya memaksa Van Gaal untuk tetap menggunakan pola tiga bek di dua laga berikutnya. Kembalinya Shaw dan Rojo membuat van Gaal punya pilihan yang lebih kaya.
Tetapi, ada kemungkinan lain yang sepertinya lebih masuk akal mengapa Van Gaal kembali ke skema empat bek. Jika Rojo dan Shaw dalam kondisi siap tampil, kedua pemain tersebut sebenarnya dapat bermain secara bersamaan. Rojo sebagai bek kiri pada barisan sejajar tiga di belakang sedangkan Luke Shaw menempati wingback kiri.
Tapi, toh bukan opsi itu yang diambil van Gaal semalam. Maka, sepertinya para juru taktik di Carrington (markas latihan United) memang ingin meninggalkan skema tiga bek. Dengan menggunakan dua fullback yang punya kemampuan menyerang (Rojo dan Rafael da Silva), United terbantu menghidupkan kembali kedua sayap mereka.
Hal ini karena melimpahnya stok gelandang kreatif, punya mutu, dan mahal. Sayang jika pemain macam Angel Di Maria atau Ander Herrera dan Mata hanya sebatas ditugaskan melancarkan umpan silang.
Pada pertandingan melawan Burnley sebelumnya, United kesulitan melakukan serangan meski Di Maria sudah bisa tampil saat itu. Yang ada justru gawang De Gea lebih banyak diserang, skor berakhir imbang tanpa gol dan 'Setan Merah' masih kalah soal tembakan ke gawang (9-7). Bahkan dengan mudahnya pemain Burnley masuk ke area sepertiga akhir dengan melancarkan serangan balik.
Peran Rafael dan Marcos Rojo dalam pertandingan kali ini cukup mencolok untuk mendorong bola ke depan. Meski berposisi natural sebagai bek tengah, namun Rojo juga punya kemampuan sama baiknya menempati pos fullback kiri. Seperti yang dia tampilkan saat Piala Dunia lalu, di mana pemain Argentina tersebut menjadi salah satu opsi serangan timnya yang banyak bertumpu pada Lionel Messi.
Melihat hasil akhir dan perkembangan permainan United, Van Gaal sepertinya patut mempertimbangkan memakai sistem ini pada pertandingan-pertandingan selanjutnya.
Daley Blind Belum Teruji
Menggunakan formasi empat bek sejajar di belakang dengan dua fullback yang aktif menyerang, membuat Van Gaal harus punya gelandang yang melindungi bek di belakangnya. Peran inilah yang diemban Blind pada pertandingan lawan QPR.
Sebagai debutan, penampilan pemain berusia 24 tahun memang tampil bersinar dan hanya kalah dari bintang malam itu Di Maria. Mantan pemain Ajax ini dengan baik memperlihatkan kemampuannya menguasai dan menjaga ruang, juga dalam hal menjadi penghubung dalam transisi dari bertahan ke menyerang.
Saat tiba-tiba Blind naik ke pertahanan lawan dan melakukan tendangan keras dari jarak jauh, yang muntahannya gagal dikonversi menjadi gol oleh Falcao, penonton sekali lagi diperlihatkan sebuah kemungkinan betapa Blind ini memang seorang pemain yang komplet: bagus mengumpan pendek, akurat dalam umpan panjang (ingat umpannya pada Robin van Persie yang berakhir dengan sundulan mematikan ke gawang Casillas di Piala Dunia lalu), rapi dalam menjaga ruang, bisa tiba-tiba mengancam dengan tendangan jarak jauh, dan βseperti yang dikatakan van Gaalβ bisa dimainkan di banyak posisi.
Tapi! Ya, Blind semalam berhadapan dengan QPR. Anak asuh Redknap ini lambat betul dalam melakukan transisi dari bertahan ke menyerang, juga tak memberikan tekanan saat United sedang menguasai bola.
Harry Redknapp memilih menunggu di belakang dan hanya meninggalkan Charlie Austin sendirian di depan ketika diserang. Hal ini tentu membuat Blind dengan leluasa menguasai dan membagi bola ke Di Maria ataupun Herrera di depannya. Untuk selanjutnya diteruskan ke area sepertiga akhir oleh dua pemain tersebut.
Begitu juga saat menerima serangan, masih belum terbayang apabila harus menghadapi serangan balik cepat model Arsenal misalnya. Karena praktis hanya ada dua bek dan Daley Blind yang tinggal di belakang. Belum lagi soal serangan dari sayap yang akan kosong ditinggal fullback yang maju menyerang. Di Maria dan Herrera juga harus ikut naik untuk menjaga United melakukan penguasaan bola.

Grafis umpan Daley Blind vs QPR [statszone]
Nilai tinggi boleh diberikan pada Daley Blind, tetapi seperti yang dijelaskan di atas bahwa kemampuannya belum teruji betul.
Formasi Berlian untuk Memaksimalkan Pemain
Formasi 4-4-2 atau 4-1-3-2 dengan susunan pemain tengah seperti diamond yang diterapkan oleh Van Gaal membuat United dapat memaksimalkan potensi pemain yang ada. Semua nama terbaik yang dimiliki dapat turun secara bersamaan, serta sesuai dengan kemampuan masing-masing.
'Setan Merah' dapat memakai tenaga Di Maria dan Herrera tanpa harus mengorbankan Juan Mata sebagai pemain posisi no. 10. Tetapi diturunkannya Mata bisa jadi juga karena ada faktor lain, yakni belum bugarnya Falcao setelah jeda internasional.
Posisi Di Maria inilah yang sering ia mainkan sejak kedatangan Bale musim lalu di Madrid, sebagai playmakeryang bermain melebar. Peran hampir serupa juga ada pada Ander Herrera di sisi kanan, membuat variasi serangan United menjadi kaya melalui sayap maupun tengah.
Salah satu bukti keluarnya kemampuan Di Maria adalah keterlibatannya dalam semua gol United, termasuk di antaranya satu gol dan asisst-nya ke Juan Mata.

Kombinasi Umpan Herrera dan Di Maria [Squawka]
Sekilas taktik yang dipakai hampir sama dengan yang digunakan Brendan Rodgers di Liverpool. Namun, masih ada potensi kelemahan yang belum teruji, yakni jika menerima serangan cepat melalui sayap. Apakah Di Maria ataupun Herrera mampu bermain layaknya Jordan Henderson dan Joe Allen di Liverpool, yaitu dengan segera menutup sayap ataupun bersiaga di tengah jika fullback sedang menyerang.
Siapa yang Mengisi Lini Depan?
Entah siapa yang akan dipasang di lini depan pada pertandingan selanjutnya nanti, apakah memasang Falcao dan menggeser Wayne Rooney sedikit ke belakang. Atau justru Van Persie yang akan ditepikan dengan menduetkan Rooney-Falcao sebagai ujung tombak.
Rooney, sang kapten, kecil kemungkinan untuk duduk di bangku cadangan. Selain sebagai sosok pemimpin, tenaganya juga masih dibutuhkan Van Gaal. Apalagi ia juga mencetak satu gol dan assist ke Herrera pada pertandingan akhir pekan lalu.
Sedangkan rekrutan teranyar Radamel Falcao juga terlalu berharga jika hanya bertugas menghangatkan bangku cadangan. Meski ia gagal mencetak gol, namun pemain Kolombia ini hanya bermain 23 menit saja. Permainannya belum cukup untuk membuat pengukuran kemampuan, walaupun rekornya selalu bagus dengan mencetak tiap gol pada debutnya di setiap klub yang dibela sebelumnya.
Maka pilihan hanya tinggal memarkir Van Persie atau Juan Mata. Pada pertandingan lawan QPR kali ini, Falcao masuk menggantiakan Mata dan menggeser Rooney di belakang dua striker. Permainan tak berjalan begitu baik seperti saat sebelum keluarnya Mata.
Tidak ada striker yang bergerak melebar jika kotak penalti lawan sedang penuh dengan pemain lawan, peran yang sebelumnya diemban oleh Rooney. Meski pada akhirnya pemain yang juga kapten Inggris tersebut sesekali melebar, tetapi justru pergerakan tersebut membuat kosong ruang tengah. Tidak ada lagi sosok seperti Mata yang masuk dari lini kedua untuk menyambar bola dari sayap.
Lini depan memang salah satu posisi yang pelik bagi Van Gaal, di mana ia harus memilih untuk menyingkirkan salah satu strikernya atau justru menepikan Mata.
Memberikan seorang pemain bintang di bangku cadangan membawa risiko tersendiri untuk kesatuan tim. Apalagi rekrutan musim panas kali ini yang dilakukan secara jor-joran dengan harga yang tak terbilang murah.
====
*ditulis oleh @panditfootball. Lihat profil di sini.
(roz/krs)










































