Individual Error yang Bikin 'Setan Merah' Kehilangan Poin

Individual Error yang Bikin 'Setan Merah' Kehilangan Poin

- Sepakbola
Selasa, 21 Okt 2014 12:51 WIB
Individual Error yang Bikin Setan Merah Kehilangan Poin
Man United via Getty Images/Matthew Peters
Jakarta -

Sesaat sebelum Saido Berahino melepaskan sepakan melewati David De Gea, Anda bisa melihat Rafael da Silva dengan frustrasi berlari mengejarnya. Dalam sepersekian detik, Anda juga bisa melihat Rafael melepaskan rasa frustrasinya dengan berteriak.

Entah apa yang coba dilakukan oleh Rafael. Bisa jadi dia memang kesal atau juga dia berusaha mengganggu konsentrasi Berahino dengan teriakannya itu --dengan harapan tendangannya gagal. Kalau yang coba dia lakukan adalah opsi yang kedua, maka niatnya itu gagal. Berahino dengan mudah menceploskan bola dan membawa West Bromwich Albion unggul 2-1 atas Manchester United.

Ini tentu jadi pemandangan menggelikan untuk para penonton televisi. Bahkan BT Sport dengan "tega" memperbesar gambar dan memfokuskan zoom pada wajah Rafael sesaat sebelum Berahino menendang. Kontan, ini bikin pundit yang hadir, termasuk eks penyerang United, Michael Owen, tertawa kecil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, buat manajer United, Louis van Gaal, itu jelas bukan sesuatu yang lucu.

'Setan Merah' dan Individual Error

Dalam penjelasannya usai pertandingan, Van Gaal dengan tegas mengatakan bahwa dia kecewa, meski permainan yang diperlihatkan timnya tidak jelek. Satu yang disesalinya adalah 'individual error' dari pemain-pemainnya sendiri.

Van Gaal menyebut, United seharusnya mengoleksi delapan poin lebih banyak dari saat ini. Hal tersebut menunjukkan, Van Gaal cukup percaya diri dengan amunisi yang dimiliki timnya untuk meraih poin penuh di tiap laga. Hanya saja, kesalahan-kesalahan individu membuat poin penuh itu acapkali lenyap.



Perhatikan proses gol pertama West Brom. Ada kesalahan-kesalahan kecil dalam penempatan posisi pemain-pemain United. Ketika Luke Shaw maju untuk menyundul bola dan melakukan pressing, tidak ada pemain yang meng-cover area sebelah kiri.

Angel Di Maria yang seharusnya berjaga malah bergerak naik. Benak Di Maria sudah mengatakan bahwa bola sundulan Shaw bakal jatuh ke areanya dan bakal dia kuasai. Apa daya, kalkulasi Di Maria salah. Bola malah jatuh di kaki Andre Wisdom dan ada area lowong di depannya untuk dieksploitasi.

Daley Blind berusaha mengejar, namun usahanya terlambat. Bola keburu dioper Wisdom kepada Stephane Sessegnon yang naik ke depan.



Marcos Rojo mengira bola akan dilepaskan ke dalam kotak penalti dan oleh karenanya memilih untuk bergerak mendekati gawang. Namun, bola ternyata dilepaskan Wisdom menjauhi Rojo. Lantaran Rojo sudah bergerak terlalu dalam, Stephane Sessegnon pun mendapatkan area yang amat luas di depannya. Ada jarak yang lebar antara Rojo dan Sessegnon. Dengan leluasa, Sessegnon langsung melepaskan sepakan terarah ke pojok gawang United.

Ini bukan pertama kalinya barisan pertahanan United salah mengantisipasi sebuah umpan silang. Ketika kalah 3-5 dari Leicester City beberapa pekan silam, gol pertama Leonardo Ulloa tercipta dengan diawali sebuah umpan silang. Ketika itu, para bek tengah United bertahan terlalu dalam sehingga Ulloa mendapatkan ruang yang amat besar di dalam kotak penalti. Tidak ada yang mem-pressing penyerang Leicester itu sampai akhirnya dia leluasa melepaskan sundulan.

Kebetulan, baik gol Sessegnon atau Ulloa tersebut tercipta dengan diawali serangan di sisi kiri pertahanan United. Ini adalah pekerjaan rumah tambahan untuk Van Gaal karena baik Rojo maupun Shaw kerap alpa dalam mengawal wilayahnya. Terlebih lagi, Angel Di Maria juga belum terbiasa untuk turun membantu pertahanan manakala fullback kiri United naik membantu serangan.

Hilang Fokus dan Pengertian Antarpemain yang Buruk

Setelah tertinggal 0-1 akibat gol Sessegnon, United mengawali babak kedua dengan baik. Marouane Fellaini, yang baru dimasukkan di pergantian babak, melepaskan sebuah sepakan keras untuk mengubah skor menjadi 1-1. Dalam keadaan imbang itu, United mengontrol jalannya laga. Namun, mereka gagal memanfaatkan sejumlah kans yang ada, sampai akhirnya malah kebobolan.

Gol kedua West Brom diawali oleh Phil Jones yang terpancing naik untuk melakukan pressing. Area kosong yang ditinggalkan Jones inilah yang dieksploitasi oleh Saido Berahino.



Sebenarnya, sah-sah saja Jones naik untuk melakukan pressing. Hanya saja, tidak ada komunikasi dan pengertian yang baik antara Jones dan Rojo. Ketika Jones naik, Rojo alpa untuk melakukan marking terhadap Berahino. Imbasnya, ada jarak yang amat lebar antara Berahino dan Rojo.

Berahino adalah penyerang yang cukup cepat dan punya kemampuan finishing mumpuni. Tertinggal satu langkah saja di belakangnya, maka para bek bisa mengalami mimpi buruk. Bisa jadi inilah yang dialami Rafael yang melakukan usaha terakhir dengan mengejarnya dari sisi kanan.

Patut dicermati pula, United kerap hilang fokus ketika sedang menguasai laga. Gol Berahino tersebut juga tercipta lantaran Rafael tidak melihat garis pertahanan sendiri. Bek asal Brasil tersebut berdiri terlalu mundur sehingga membuat Berahino berada dalam posisi onside.

Dengan kombinasi bek tengah yang kerap bergonta-ganti, agaknya memang sulit untuk langsung mencari 'klik' dan pengertian yang baik. Rojo sendiri sudah bermain dengan dua orang berbeda sebagai partner dalam tiga laga terakhir. Dua kali bersama Paddy McNair dan satu kali semalam bersama Jones.

Sepiawai apa pun De Gea dalam memblok tendangan, rasanya sulit mengharapkan dia sering-sering clean sheet jika barisan pertahanan di depannya tidak memiliki 'klik'. Malah, kalau mau jujur, sejak kedatangannya di musim 2011/2012, De Gea jarang mendapatkan pasangan bek tengah yang pasti di hadapannya. Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, Jonny Evans, hingga Jones sendiri kerap bergantian masuk ke ruang perawatan.

Ini tentu berlawanan dengan sejarah United, di mana pada era-era mereka sukses, selalu ada pasangan bek tengah yang solid dan hampir selalu tampil di tiap laga. Dulu ada pasangan Steve Bruce-Gary Pallister, lalu kemudian Jaap Stam-Ronny Johnsen, dan terakhir Vidic-Ferdinand sendiri.

Kreativitas Hilang Ketika Dibutuhkan

Di tengah buruknya lini belakang, United boleh berlega hati ketika Daley Blind membuat gol penyama kedudukan menjelang pertandingan selesai. Blind adalah salah satu penampil terbaik United pada laga melawan West Brom ini. Gelandang asal Belanda tersebut memiliki akurasi passing hingga 93%, mengkreasikan 3 peluang, dan akhirnya mencetak satu gol.

Sial, Juan Mata dan Adnan Januzaj yang diharapkan tampil oke justru tampil di bawah performa terbaik mereka. Mata seperti kesulitan untuk mencari cara menembus pertahanan West Brom sampai akhirnya digantikan oleh Radamel Falcao di babak kedua.

Sementara Januzaj, yang dipasang di sisi kanan, tampak ragu-ragu dalam membuat keputusan. Ketika mendapatkan bola, Januzaj kerap berlama-lama menahannya. Dia juga ragu untuk berlari melewati fullback lawan dan akhirnya malah mengoper bola dan mengandalkan kecepatan Rafael yang overlaping ke depan.

Van Gaal boleh saja percaya diri dan meyakini bahwa United bisa tampil lebih baik dari ini. Namun, tak ada gunanya punya amunisi bagus di lini depan, ketika bocor-bocor kecil di lini belakang membuat timnya kehilangan poin terus. Dan ini, tentunya, bukan sekadar menambalnya dengan membeli bek baru.

====

*penulis adalah wartawan detikSport. Beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza.



(roz/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads