Selebrasi, Bukan Sekadar Perayaan Gol
Rabu, 17 Mei 2006 16:55 WIB
Jakarta - Sepakbola tak bisa dipungkiri begitu memancing emosi para penggilanya. Dan tak ada yang lebih meledakkan emosi selain terciptanya sebuah gol, dan tentu saja selebrasi pemain setelah melesakkan si kulit bundar ke dalam jala.Gol memang hal yang paling ditunggu dalam 90 menit pertandingan. Namun di balik gol itu ada satu hal lagi yang ditagih oleh fans. Entah itu hanya sekedar mengangkat tangan, sebuah tarian sampai atraksi salto di udara atau segala bentuk aktivitas fisik lainnya yang menjadi bentuk sebuah perayaan. Ya, selebrasi mencetak gol kini seakan menjadi ritual wajib buat setiap pemain. Bukan hanya sebatas perayaan, sebuah selebrasi kini menjadi identitas pribadi bahkan juga disebut bakal memprovokasi lawan. Namun lebih dari itu, ternyata ada banyak makna di balik perayaan sebuah gol.Satu yang paling nge-top dilakukan Bebeto di Amerika serikat 1994. Striker Brasil itu menunjukkan pada dunia betapa bahagiannya ia menjadi seorang ayah. Usai mencetak gol ke gawang Belanda, Bebeto langsung berlari ke pinggir lapangan dan melakukan gerakan menggendong bayi dengan mengayun kedua tangganya. Romario dan Mazinho yang datang menyusul pun melakukan gerakan yang sama."Saya ingin melakukan sesuatu yang spesial untuk menandai kelahiran anak saya dua hari sebelumnya. Tapi gerakan itu tak direncanakan, terjadi begitu saja. Lalu saya melihat Romario dan Mazinho berdiri di samping saya dan melakukan hal yang sama. Itu membuat saya menjadi sangat emosional", ungkap Bebeto.Francesco Totti juga punya cara yang nyaris serupa. Setelah mendapat anak pertamanya, pangeran Roma ini selalu memasukkan bola ke dalam bajunya usai mencetak gol sebagai pengandaian sebuah proses kelahiran. Totti melanjutkannya dengan mencium jarinya.Soal mencium jari ini juga sempat dilakukan oleh jagoan Spanyol, Raul Gonzales. Mendedikasikan gol yang dicetaknya untuk sang istri, Raul melakukan selebrasi dengan mencium cincin kawin yang menempel di jarinya.Sebuah perayaan bisa jadi hanya sebuah perayan dan tak ada maksud lain di dalamnya. Fenomena Roger Milla di Italia 1990 adalah contoh paling menarik.Usai mencetak gol, striker Kamerun yang saat itu berusia 38 tahun itu langsung berlari ke tiang bendera di sudut lapangan. Dengan satu tangan memegang perutnya, mulailah Milla melakukan tarian pinggul yang masih dikenang hingga kini.Yang dilakukan Julius Aghahowa mungkin yang paling fantastis. Setelah mencetak gol ke gawang Swedia di Piala Dunia 2002, pemain Nigeria itu melakukan salto. Bukan salto biasa, Aghahowa melakukan salto delapan kali, itu masih ditambah dengan salto ke arah belakang di akhir perayaannya. Wow!Di Korea-Jepang, Robbie Keane juga punya selebrasi khas. Setiap selesai mencetak gol penyerang Republik Irlandia itu melakukan gerakan seolah-olah sedang menembakkan senjata mesin ke arah penonton. Sementara Marcelo Salas yang mengukir empat gol di Prancis 1998 memilih membuat posisi seperti matador: berlutut dengan satu kaki di tanah, kepala menunduk, tangan kiri memegang dada dan tangan kanan menunjuk ke arah langit.Jadi bukan hanya gol-gol indah yang ditunggu di Piala Dunia 2006, selebrasi unik dari para pencetak gol akan menjadi hiburan yang masih pantas ditunggu.Foto: Selebrasi gol Bebeto di Piala Dunia 1994 yang sekaligus merayakan kelahiran anaknya (bbc). (din/)











































