Gawat, Piala Dunia Dimulai

Kolom

Gawat, Piala Dunia Dimulai

- Sepakbola
Jumat, 09 Jun 2006 08:42 WIB
Gawat, Piala Dunia Dimulai
Jakarta - Sstt! Itu Piala Dunia sudah menggedor-gedor pintu rumah kita. Yakinkah kita untuk tanpa pikir panjang membiarkan mahluk itu masuk? Siapkah kita menanggung semua risikonya?Memangnya Piala Dunia berbahaya? Bukankah kita mesti menahan rindu selama empat tahun untuk bisa berjumpa lagi dengan pesta dunia ini?Soal rindu sih iya. Tapi saya tidak tahu apakah gejala-gejala di bawah ini merupakan pertanda berjangkitnya sebuah "penyakit gawat", yang faktanya hampir selalu terjadi setiap kali Piala Dunia datang.Dari aspek ekonomi, misalnya. Sebagian warga mungkin masih akan terhenyak di depan loket pembayaran listrik begitu melihat deretan angka yang bisa jadi tidak seperti biasanya. "PLN naikin tarif lagi ya? Kok mahal amat?" Ah, padahal di rumahnya pesawat televisi baru padam menjelang subuh sepanjang bulan ini. Oya, kampanye hemat listrik yang kian digencarkan pemerintah juga diperkirakan gatot alias gagal total selama Juni-Juli.Kebutuhan perut juga bisa menambah anggaran belanja rumah tangga. Wajar, tak afdol rasanya kalau bergadang tanpa cemilan. Malam ini kopi plus roti, malam besok teh hangat dan mi instan rebus. Besoknya lagi kacang kulit, biskuit, buah-buahan atau ubi bakar. Begitu seterusnya, daripada kenikmatan terganggu karena perut keroncongan.Yang punya risiko rugi finansial paling besar barangkali mereka yang doyan bertaruh -- walaupun yang tambah kaya sedikit juga banyak. Tapi kata orang, tidak ada orang menjadi kaya dari berjudi. Kalaupun dia kaya, itu sudah dari awalnya begitu, baru ikut judi.Percaya atau tidak, Piala Dunia juga bisa mengubah mental seseorang menjadi pemalas dan pembohong. Di Kroasia dan Inggris, contohnya, sebuah survei menyebutkan bahwa banyak orang akan membolos atau bahkan pura-pura sakit supaya tidak masuk kerja dan bisa menyimpan tenaga untuk menonton pertandingan. Di Indonesia, ah, kenapa tidak?Perubahan rutinitas yang lintas waktu pun berpotensi menjengkelkan. Para bos -- jika dia tidak maniak sepakbola atau "terlalu disiplin" -- mungkin menjadi seorang pemarah demi melihat karyawannya telat datang ngantor karena bangun kesiangan. Yang masih bisa on time pun mungkin bekerja sambil terkantuk-kantuk, atau sangat gigih mencari waktu luang untuk membayar tidur, sementara malam harinya kembali harus bergadang.Umumnya kaum ibu dan istri juga bertambah tugasnya, yakni membangunkan anak atau suami mereka yang minta dibangunkan di malam-malam buta agar dapat menyaksikan tim dan pemain kesayangannya bertarung. Sementara para remaja yang punya pacar penggila bola, siap-siaplah porsi wakuncar-nya berkurang.Jadi, wahai para maniak sepakbola, berharaplah pasangan Anda adalah figur yang memahami kebutuhan Anda, sekalipun itu mungkin tidak penting. Saya tidak terbayang kalau cuma gara-gara bola terjadi dialog bernada tinggi semacam ini:"Aku kok tidak kamu bangunin, heh?""Udah kok, kamunya aja yang susah dibangunin!""Gimana sih, 'kan udah dipesen: harus sampai bangun!""Udaaaaah. Makanya kalo tidur jangan kayak kebo!""Aaaahhh!!! Kamu tuh ngeselin tauk!""Kamu yang ngeselin, emangnya aku juga gak butuh tidur?""Aaahh..!!"Duh, kenapa harus jadi begini? Bukankah tema Piala Dunia tahun ini adalah "It's time to make friends"? Kalau Piala Dunia bisa dibikin menyenangkan, kenapa harus menyusahkan?Pada hakekatnya Piala Dunia tentu saja tidak berbahaya. Sebaliknya, ia malah mahluk yang bisa membuat banyak manusia di muka bumi ini merasa bahagia, sesingkat apapun, sekalipun hanya untuk 45 atau 90 menit. Piala Dunia membuat jiwa sosial kita ter-up date. Lihatlah, di mana-mana orang akan berkumpul untuk membicarakan sepakbola, nonton bareng di ujung gang, di warung kopi, sampai di tempat-tempat yang berkelas seperti kafe, bar, dan sebagainya.Di Palestina atau Irak, misalnya, warga berharap konflik dihentikan dulu sejenak untuk "menghormati" hak setiap individu menikmati Piala Dunia. Di Yogya dan sekitarnya, semoga tontonan perhelatan ini bisa sedikit menghibur dan membuat saudara-saudara kita sejenak melupakan penderitaannya. Saya percaya, adalah ibadah apabila PLN segera mengatasi masalah pasokan listrik di kawasan tersebut selama Piala Dunia berlangsung.Jadi, sambutlah Piala Dunia dan biarkan ia memasuki rumah-rumah kita. Hanya saja, tetaplah berpikiran jernih. Jangan sampai gara-gara cara bergadang kita ugal-ugalan, kita malah jatuh sakit. Atau karena kelewat sering telat ngantor apalagi bolos, kita malah kena SP (surat peringatan); karena terlalu rakus bertaruh, malah kena kanker (kantong kering): karena beda tim favorit malah berkelahi; karena nyuekin pasangan, malah putus. Ini tentu menggelikan.Selamat Datang Piala Dunia 2006. (a2s/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads