Kolom
Komentator
Senin, 12 Jun 2006 07:46 WIB
Den Haag - Nonton siaran langsung tivi kok ngeliatnya ke dinding? Oh, tenang Bo. Kalau komentatornya orang Indonesia nggak perlu ngeliat, cukup dengar buta saja."Olala. Ya nggak nikmat, nggak tegang. Ini ramai lho konfrontasi Argentina-Pantai Gading.""Siapa bilang nggak nikmat? Saya malah lebih nikmat dan tegang nonton begini"(Di latar belakang suara komentator terus ngocol menceritakan jalannya konfrontasi, "... Riquelme merebut bola dari Drogba... Ah, sayang passing-nya gagal mencapai Hernan Crespo,")Semua dituturkan, seolah-olah pemirsa tidak menyaksikan sendiri duel yang ditayangkan. Yang menjengkelkan, sudah tahu nomor punggung 9 adalah Hernan Crespo, ketika gambarnya di-zoom, eh masih dikomentari juga bahwa dia Crespo. Juan Sorin yang melakukan lemparan bola ke dalam dan kita saksikan, eh masih pula dikomentari, "Lemparan bola ke dalam oleh Sorin..."Akibatnya nonton siaran langsung di tivi tidak ubahnya dengan menyimak siaran radio. Kalau menyimak siaran radio, kita terbantu oleh komentar semacam itu. Emosi dan imajinasi kita malah terpompa, membayangkan jalannya pertandingan. Tapi ini siaran tivi. Apa yang disaksikan sang komentator dan diceritakan kepada kita, semuanya juga kita saksikan. Sama persis. Sungguh membuat suasana menonton menjadi tidak nyaman. Ibarat kita nonton di stadion dan di kursi tribun sebelah kita ada penonton yang menceritakan apa yang sama-sama kita saksikan.Seyogyanya, seorang komentator menggunakan kemampuannya untuk membantu pemirsa membedah setiap situasi di lapangan. Mengapa sebuah tindakan dihukum wasit? Bagaimana seharusnya menurut peraturan FIFA? Apakah tindakan wasit sudah sesuai atau terjadi kekeliruan. Mengapa tim X, yang notabene terdiri dari pemain-pemain top dan rata-rata merumput di klub-klub elite di Eropa, bisa mandul bertarung melawan sebuah tim liliput Y? Di mana letak kesalahannya? Bagaimana tim Y bisa membendung mereka? Apakah terletak pada formasi, taktik bermain, siapa duel lawan siapa dan siapa menjaga siapa? Apakah spirit juga ikut menjadi sumbu ledak? Bila perlu selingi dengan humor-humor yang menyegarkan pemirsa agar tetap melek. Misalnya, saat Drogba gagal menyambar voorzet (umpan) dari sayap kanan. Katakan saja, "Sayang sekali... Seandainya saja Droga mau memakai sepatu ayahnya yang nomor 50, mungkin bola masih bisa diceploskan ke gawang Abbondanzieri..."Dari jalannya pertandingan, akan muncul ratusan situasi yang dapat dikomentari, dianalisis, dan disampaikan ke pemirsa. Termasuk situasi standar seperti tendangan bebas tak langsung, tendangan bebas langsung dan sepak pojok, di mana setiap tim pasti punya taktik dan ciri khas sendiri-sendiri. Atau malah ada varian yang sama sekali baru. Komentari bahwa itu varian baru. Ini buat pemirsa sangat menarik.Selebihnya biarkan pemirsa menikmati apa yang disaksikannya, senyaman seperti menonton di stadion. Jangan digurui dan diganggu dengan komentar tentang peristiwa yang mereka ketahui dan saksikan sendiri. Ingat, mereka pemirsa. Bukan pendengar. ==*) Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di Den Haag. (es/)











































