Brasil itu Samin

Kolom

Brasil itu Samin

- Sepakbola
Rabu, 14 Jun 2006 09:00 WIB
Brasil itu Samin
Jakarta - Brasil itu Samin. Samin itu Brasil. Energi Samin mengalir dalam tubuh para pemain Brasil, dan memberi kemenangan beruntun bagi pemain Samba. Kroasia adalah korban pertama, yang menyerah 0-1 oleh gol tunggal Kaka di Berlin dinihari tadi. Sinyal kemukjizatan itu jauh-jauh hari sudah diterima Tim ini melalui sosok Ronaldinho, yang vibrasinya menyebar pada Kaka, Ronaldo, serta pemain belakang Roberto Carlos. Tapi bagaimana bisa terjadi sinergi antara Jawa dan Brasil? Itulah energi metafisika.Sebelum mengaitkan hubungan antara Brasil dan Samin, sebagai ilustrasi, suatu hari di tahun 70-an, di sebuah pengadilan Jawa Timur, terjadi dialog yang membuat ger-geran. Seorang terdakwa yang dipersalahkan mencuri kayu di hutan, menjawab pertanyaan hakim dengan mengatakan, bahwa apa yang tumbuh di tanah adalah milik bersama. Untuk itu ia tidak merasa mencuri, tetapi mengambil miliknya sendiri.Jawaban yang terkesan 'bodoh' dan sesukanya itu keluar dari mulut seorang pengikut Samin. Di tahun-tahun itu, kawasan Bojonegoro, utamanya di Padangan, masih dipenuhi rimbun jati, hutan jati yang kini telah berubah menjadi hutan rumah. Dan di kawasan inilah mayoritas pengikut Samin tinggal. Benarkah Samin identik dengan kebodohan?Taklah begitu. Samin merupakan sebuah paham. Ia tak sekadar hadir mewakili sosok Samin Surosentiko, sang pelahir ajaran ini. Paham yang sering disebut sebagai Agama Nabi Adam ini telah menyebar dari Blora, Cepu, Bojonegoro dan sekitarnya, serta melalui sungai Lusi melebur dalam laut, dan menebar benih ke seantero jagat. Sebab hakekat Samin adalah pengejawantahan sikap pinter ora minteri, jagoan tetapi tetap rendah hati. Samin dan pengikutnya tampil dengan wajah-wajah tanpa dosa. Mereka selalu mengalah tetapi tidak kalah. Mereka selalu pasrah tetapi tidak pasif. Namun dari sikapnya itu lahir kekuatan terdalam yang bersifat metafisis, yang tak jauh dari tampilan para pemain Brasil yang tenang, rendah hati, ning selalu ngedap-edapi (menang). Bayangkan, Samin berhasil melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda melalui penampilan diam dan tanpa gejolak yang menyiratkan 'kebodohan' itu. Pemberontakan yang mirip gerakan Swadesi-nya Mahatma Gandhi ini membuat penjajah uring-uringan dan hilang akal. Hanya sayangnya, di era merdeka, Samin dijadikan padanan dari sosok pandir, terbelakang, dan gatek.Kesebelasan Brasil taklah jauh dari gambaran di atas. Tampilan dari pemain Tim Samba ini hampir mirip Samin. Lihatlah kepolosan wajah Ronaldinho, Ronaldo, atau Robinho. Wajahnya tidak tampan, tetapi kemana-mana selalu menebar pesona. Orang bilang itu karena teknis bermain bola. Benarkah begitu? Tidak ! Itu adalah jatidiri. Eksistensi ! Sebuah kepribadian.Disebut kepribadian, karena Kaka yang terlihat ganteng, atau Roberto Carlos yang bertampang preman pun sikapnya taklah jauh dari sikap pengikut Samin. Mereka tetap santun. Memberi harga terhadap kemanusiaan, dan tidak arogan biarpun 'bertarung' di sebuah kancah pertandingan yang banyak menggunakan otot. Hampir tak ada yang tidak menjagokan Brasil. Tim ini sangat diunggulkan. Untuk itu, pertanyaan di atas tak perlu dijawab. Itu sama dengan menggarami lautan. Hanya, dalam melihat laga ini, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik. Pertama, Saminisme yang ada dalam pribadi-pribadi pemain Brasil yang bisa dijadikan cantolan untuk mendekatkan hati kita dengan kesebelasan ini, serta keindahan permainan Brasil yang merupakan ekspresi dari keindahan sebuah sikap.==*) Penulis adalah pemerhati masalah Budaya, tinggal di Jakarta. (a2s/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads