Inggris Lawan Ngawi

Kolom

Inggris Lawan Ngawi

- Sepakbola
Kamis, 15 Jun 2006 08:52 WIB
Inggris Lawan Ngawi
Jakarta - Trinidad di tangan Inggris berubah menjadi manusia Trinil, phitecantropus erectus. Itu artinya, dia adalah warga Ngawi, Jawa Timur, sesuai identifikasi Eugene Dubois. Jika begitu adanya, maka dalam laga Kamis malam nanti, kita harus mendukung habis-habisan Trinidad dan Tobago.Tapi bagaimana bisa, penduduk dari sebuah negeri yang ada di Laut Karibia dan dekat dengan Venezuela itu berasal dari Jawa Timur? Semuanya itu ternyata bermula dari pendapat Darwin dan petualangan Columbus. Kata Darwin, asal-muasal manusia bukan seperti ciptaan Tuhan dalam wujud sekarang, tetapi melalui proses panjang dari kera. Merangkak, mendesis dan garuk-garuk, sebelum memperbaiki penampilan kekinian. Teori evolusi Darwin itu, kalau kita tidak memeluk agama Samawi, maka mungkin kita langsung sendiko dawuh. Apalagi manusia Trinil mengamini teori itu, dan ilmu pengetahuan juga memperkuat tesis itu. Untung kita yakin bahwa Nabi Adam bukanlah kera, jadi kita juga yakin bukan keturunan kera. Uniknya, sebelum manusia Trinil (makhluk prasejarah) itu dikeruk dari Bengawan Solo di tahun 1890, tahun 1498, Columbus yang suka 'jalan-jalan' menemukan dua pulau yang bernama Trinidad dan Tobago. Saat dua pulau itu masih lengang dibiarkan, tetapi ketika mulai berkembang, maka diakuisisi sebagai koloni. Inggris menguasai pulau ini, sama dengan langkahnya di Australia. Latar penemuan yang sama tetapi berbeda itu memang belum mendekatkan Trinidad dan Tobago dengan kita. Tapi ketika Inggris melakukan invasi ke Indonesia melalui tentara Gurkha, dan sempat mencuatkan sejarah besar dengan terbunuhnya Mallaby di Surabaya, maka lengkap sudah kedekatan emosional antara kita dengan negeri penghasil minyak dan aspal itu. Emosi sebagai sesama negara terjajah ! Terasa layak jika dalam laga Kamis nanti kita mendukung Trinidad dan Tobago. Berharap dan berdoa agar kesebelasan 'saudara kita' itu menang melawan Inggris. Ini tak sekadar agar Trinidad & Tobago lolos dalam babak berikutnya, tetapi juga sebagai luapan dendam sejarah, serta pembalasan dalam bentuk yang berbeda. Namun mampukah saudara kita itu melaksanakan amanah yang didasari sikap amarah ini? Kenapa tidak. Toh kemarin Trinidad mampu meredam keberingasan Swedia, kendati Inggris kelasnya jauh di atas negeri yang memberi ruang seluas-luasnya bagi para hedonis dan penganut seks bebas itu. Mari berdoa bersama-sama untuk itu.==* Penulis adalah pemerhati masalah budaya, tinggal di Jakarta.Foto: Kapten Trinidad & Tobago, Dwight Yorke. "Saudara" Indonesia. (AFP/Adrian Dennis) (a2s/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads