Jepang bin Abdurrahman Saleh

Kolom

Jepang bin Abdurrahman Saleh

- Sepakbola
Minggu, 18 Jun 2006 09:37 WIB
Jepang bin Abdurrahman Saleh
Jakarta - Kroasia masih perkasa. Bagaimanapun kesebelasan bekas pecahan Yugoslavia itu kelasnya masih tinggi. Ironisnya, jika itu terjadi dalam laga kali ini, maka matahari negeri para Samurai bakal tertutup awan. Jepang tersingkir. Perlukah Asianisme kembali digugah untuk membangkitkan semangat saudara tua?Saudara tua? Ya, saudara tua. Itu adalah kata sakti produk tahun 40-an yang diberikan pada Jepang. Sebagian besar negeri Asia yang masih terjajah, tersugesti dengan ajakan bersahabat yang ditawarkan Dai Nippon. Slogan mempersatukan Asia Timur Raya dan mengantarnya ke pintu gerbang kemerdekaan adalah semboyan yang meninabobokkan itu. Para pemimpin negeri tertarik, dan disambut rakyat yang perduli nasib bangsa. Tatkala Jepang 'bertamu' ke Indonesia di tahun 1942, menggantikan posisi Belanda di Jawadwipa (pulau kemakmuran yang belum makmur-makmur ini), reaksi positif bermunculan dimana-mana. Para pemuda dan pelajar mendaftar sebagai 'kader bangsa' bentukan Jepang, dan mengikuti latihan militer yang diberikan oleh pasukan Dai Nippon.Pada Oktober 1943 Jepang membentuk Pembela Tanah Air (Peta), pasukan tentara sukarela yang dilatih panglima Jepang, dan para anak bangsa mendapat jabatan-jabatan Daidancho (kepala barisan), Shodancho serta Bundancho. Organisasi militer ini kian melambungkan harapan, bahwa Jepang memang sedang mempersiapkan Indonesia merdeka. Saking kesengsemnya dengan langkah strategis Jepang, sampai-sampai jangka Jayabaya yang memberi paweling tentang bakal datangnya bangsa cebol kepalang yang usianya hanya seumur jagung tak tertangkap oleh indera keenam para pemimpin bangsa ini. Malah kemiskinan akut, romusya serta makin tumbuhnya Kembang Jepun (jugun ianfu) justru diterjemahkan sebagai pendidikan kedisiplinan untuk persiapan negeri merdeka. Tapi Supriyadi di Blitar sana, sosok pemimpin yang sidik paningale, radar kewaskitaan-nya mulai menangkap sinyal negatif. Dari dalam Peta ia mulai melancarkan pemberontakan, yang kemudian berlanjut pada perang demi perang. Tak terasa, sudah sedalam itu cengkeraman Jepang di negeri ini, kita baru paham kalau dijajah!Namun hanya bangsa Indonesiakah yang terkibuli oleh ulah para pemimpin Jepang kala itu? Ternyata rakyat Jepang sendiri juga idem ditto. Mereka didoktrin sama soal semangat Asianisme, hingga dengan rasa tulus berangkat ke Indonesia sebagai tentara. Tentara yang bertugas membantu saudara-saudara Asia Timur Raya untuk merdeka dari penjajah Eropa.Maka, ketika realisasi Asianisme berubah menjadi kolonialisme, tidak hanya Supriyadi bersama rakyat Indonesia yang berontak, tetapi juga tentara-tentara Jepang sendiri. Mereka membantu para pejuang Indonesia untuk melawan bangsanya, dan tak sedikit yang turut memanggul senjata demi tujuan mula, memerdekakan Indonesia.Tidak percaya? Carilah jejak sejarah perjalanan Abdurrahman Saleh yang kini menjadi nama lapangan terbang di kota Malang, Jawa Timur. Dia adalah warga Jepang yang melakukan pembelotan suci itu, dan dengan sukacita mengganti nama serta identitas Jepangnya yang sudah terpolusi. Terus bagaimana dengan laga Jepang melawan Kroasia nanti? Kans untuk mencuri peluang masih fifty-fifty. Tapi kalau sampai kalah, maka bisa jadi ini adalah laga pamungkas. Untuk itu, demi kemurnian semangat Asianisme, kita juga punya kewajiban untuk bantu-bantu. Bantu-bantu doa doang. ==*) Penulis adalah pemerhati masalah budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. (a2s/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads