Kolom
Viva Solidarnoze!
Selasa, 20 Jun 2006 10:14 WIB
Jakarta - Polandia sudah tersingkir. Tapi sebelum itu mereka harus melakukan laga sekali lagi, melawan tim yang juga sudah KO, Kosta Rika, sebelum keduanya kembali ke kampung masing-masing. Apa yang bisa dipetik dari tim Eropa timur ini?Jika melihat statistik, dari dua negara yang tersingkir itu, maka Polandia adalah tim yang paling lemah. Tim ini belum pernah menyarangkan bola ke gawang lawan. Sedang Kosta Rika, kendati bernasib sama, tetapi masih mampu menjebol gawang yang dijaga Jens Lehman, kiper Jerman, dua kali pula.Namun bagi kita, tim yang paling lemah ini justru punya banyak kesamaan dan hubungan emosional. Tak jelas memang, mengapa bisa begitu. Hanya, kalau kita mau mencari-cari, mungkin salah satu alasannya adalah warna bendera Polandia yang sama dengan bendera Indonesia, dan pergerakan kaum buruh yang kemudian mencuatkan nama Lech Walesa. Untuk membuktikan itu, paling gampang, berkelilinglah memutari Jakarta. Amati tiap tembok beton yang kini memenuhi kota metropolitan ini. Jembatan layang atau apasaja yang dipenuhi graffiti, simak baik-baik gambar dan tulisannya. Dan jika itu sudah dilakukan, maka dalam corat-coret yang indah itu ditemukan jalur penghubung antara kita dan Polandia. Kata Solidarnoze atau Solidaritas banyak terpampang di beton Jakarta. Dituangkan dalam warna merah menyala dan dituliskan dengan huruf kapital. Kata dan warna yang tak bernyawa itu seperti memberi pesan, bahwa di balik tulisan itu ada semangat yang menyala, dan perjuangan yang harus terus dikobarkan.Solidarnoze adalah partai buruh. Partai yang dipandegani Lech Walesa, dengan anggota puluhan juta. Partai serikat buruh bebas itu merupakan bagian penting dalam politik Polandia. Soalnya dari gerakan kaum buruh yang dimulai dari Gdansk itu pengaruh Rusia yang kental di negeri yang beribukota Warsawa itu akhirnya berhasil dicairkan.Banyak puisi dan novel yang lahir mengilhami atau diilhami oleh gerakan yang berhasil mendudukkan pimpinan partai itu sebagai penguasa Polandia baru. Roh dari karya-karya sastra itu memang tak jauh dari The Mother, Ibunda, karya pengarang Rusia, Maxim Gorki yang sangat monumental itu.Karya ini mengambil latar perjuangan kaum buruh di Rusia yang terkungkung oleh kekuasaan dan kekuatan penguasa. Untuk menembus barikade yang sangat kuat itu, maka para muda yang menjadi urat nadi bagi pembaruan, harus melakukan gerilya. Menyabung nyawa untuk tujuan bagi perbaikan bangsa. Langkah-langkah itu yang juga dilakukan Lech Walesa cs yang kemudian membawanya ke penjara.Sang pengarang nampak sadar, ada yang acap terlupakan ketika kaum muda berpikir tentang reformasi politik. Orangtua, dalam konteks ini, Ibunda, yang disosokkan sebagai perempuan tua, lemah, tradisional dan tak berpendidikan, adalah figur yang tak perlu diperdulikan. Dia bukan siapa-siapa, dan tak perlu terlibat atau dilibatkan dalam gawe besar yang bernama politik.Namun tatkala diskusi tak menemukan solusi, dan Ibunda maju memberi jalan keluar, maka mereka pun baru tersadar, bahwa sebodoh atau sejelek apapun orangtua, jika itu menyangkut kepentingan anak, maka apapun resikonya akan ditanggung. Ibunda pasang badan. Ia menjadi martir bagi sebuah perjuangan. Ia masuk pabrik demi pabrik, dan menyebarkan selebaran yang provokatif itu pada siapa saja. Di tengah berondongan pelor, selebaran yang perlu diketahui kaum buruh itu tersampaikan. Ibunda mati demi sebuah cita-cita. Mungkin bukan cita-citanya, tetapi cita-cita sang putra dan anak-cucunya kelak.Polandia masih memiliki semangat kejuangan macam itu. Kendati di Piala Dunia 2006 ini prestasinya merosot, tetapi negeri ini tetaplah punya vitalitas untuk maju dan maju. Untuk itu, di balik tersingkirnya Polandia, masih ada keteladanan yang bisa diteladani. Viva Solidarnoze ! ==*) Penulis adalah pemerhati masalah budaya, tinggal di Jakarta. Untuk korespondesi silakan mengirim e-mail ke jok5000@yahoo.comFoto: Motor serangan Polandia , Ebi Smolarek. Bukan tim yang gampang menyerah. (AFP) (a2s/)











































