Kolom
Pilih-Pilih Lawan
Selasa, 20 Jun 2006 14:06 WIB
Jakarta - Dulu orang bilang, jangan pilih-pilih dalam berkawan. Sekarang nasihat itu mungkin sudah berubah menjadi "hati-hati memilih kawan". Kalau pilih-pilih lawan, bagaimana?Pertanyaan tersebut sedang pas ditujukan buat delapan tim yang sudah mengantongi tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2006, tapi masih menyisakan satu pertandingan di grup masing-masing, yakni Jerman, Ekuador, Inggris, Argentina, Belanda, Brasil, Portugal, dan Spanyol.Ada tiga dalih umum dari hitung-hitungan untuk menyikapi laga terakhir yang tidak menentukan bagi mereka, yang mana bisa saja melahirkan ide "santai", "tidak ngotot", bahkan "mengalah", yang salah satu caranya adalah mengistirahatkan beberapa pemain intinya.Dalih pertama adalah untuk menghindari kemungkinan cedera pemain bintangnya; kedua, agar pemain inti yang telah mendapatkan kartu kuning tidak memperolehnya lagi: ketiga, menghindari dari tim kuat di babak berikutnya.Dua alasan pertama cukup bisa diterima, tapi yang ketiga perlu diteruskan dengan pertanyaan ini: Kenapa takut bertemu tim kuat? Tidakkah mereka merasa lebih kuat dari yang ditakutinya itu? Kalau bisa menang terus, kenapa harus kalah?Memilih lawan mengandung unsur "menyelepekan" tim yang hendak dipilih itu, padahal hitung-hitungan mereka punya kemungkinan salah 50 persen. Fans Inggris, misalnya, barangkali lebih berharap David Beckham cs bertemu Ekuador di perdelapan final, bukan Jerman.Masalahnya, adakah jaminan pasukan The Three Lions bisa mengalahkan tim Amerika Selatan itu? Tidak ada, kecuali analisis di atas kertas yang mengacu pada reputasi, tradisi, dan kualitas rata-rata teknis pemain -- sementara sepakbola bukanlah permainan di atas kertas dan bentuk bola masih bundar.Mari buat sedikit ilustrasi perbandingan: Ekuador menang, mencetak lima gol, belum kebobolan, dan menyuguhkan permainan atraktif yang cukup menarik. Inggris? Menang dua kali, belum kebobolan, dan baru menghasilkan tiga gol (de facto hanya dua karena gol melawan Paraguay adalah hasil bunuh diri pemain lawan). Permainan? Bahkan semua orang Inggris mengaku tidak terkesan dengan penampilan Frank Lampard cs di dua pertandingan pertamanya.Ekuador bisa menang karena belum bertemu lawan Jerman? Mungkin ya. Tapi kenapa pula Inggris tidak mendominasi Paraguay dan Trinidad & Tobago, yang di atas kertas kelasnya jauh di atas mereka? Artinya, peta sepakbola saat ini sudah merata, lebih-lebih di level Piala Dunia, di mana ke-32 tim finalis adalah mereka yang terbaik dari ratusan negara anggota FIFA. Bahwa selalu ada tim unggulan dan tidak unggulan memang iya, tapi dalam sepakbola pun selalu ada ihwal bernama "kejutan".Sebaliknya, "memilih" lawan yang lebih kuat justru memiliki nilai plus tersendiri. Pertama, gengsi; kedua, kepercayaan diri.Katakanlah Inggris bertemu Jerman di babak 16 besar -- bukan Ekuador. Terbayangkah reaksi pers Inggris jika timnya menang? Jika mereka bisa teramat buas untuk menjatuhkan karir Sven Goran Eriksson dengan gosip murahan, mungkin mereka juga bisa "mencium tangan" pelatih asal Swedia itu, apabila mampu menaklukkan salah satu musuh terbesar Inggris itu.Kalaupun kalah, reputasi Inggris tetap aman karena yang menjungkalkan mereka adalah tuan rumah dan juara dunia tiga kali. Coba bayangkan jika Inggris bertemu Ekuador di babak 16 besar tapi kalah? Kekalahan dari Ekuador tentu dianggap memalukan ketimbang menyerah dari Jerman.Kemenangan atas tim kuat juga dipastikan menambah kepercayaan diri sebuah tim. Beberapa tim pernah merasakannya sewaktu menjadi tim pengejut seperti Kamerun di Italia 1990, Senegal dan Korea Selatan di Piala Dunia 2002, atau Yunani di Euro 2004.Cuma bedanya, buat tim-tim besar, sering kali yang mereka butuhkan adalah hasil akhir. Menang itu penting, jadi juara lebih penting. Proses bisa menjadi kurang penting. Biarlah membosankan, tapi kalau bisa juara, so what?Pemikiran seperti itu tentu wajar-wajar saja. Realistis malah. Tapi soal pilih-pilih lawan tadi, biar terdengar lebih gentle, sebaiknya menyetujui istilah ini: musuh (tangguh) jangan dicari, ketemu jangan lari.==*) Penulis adalah redaktur pelaksana Detiksport. Tulisan tidak mencerminkan opini redaksi. Foto: Ballack dan Beckham. Jangan takut jika langsung bertemu di babak 16 besar. (AFP) (a2s/)











































