Dai Nippon Harakiri

Kolom

Dai Nippon Harakiri

- Sepakbola
Kamis, 22 Jun 2006 13:15 WIB
Dai Nippon Harakiri
Jakarta - Jepang di ujung tanduk. Punya peluang kecil, hanya sekecil tengu. Nilai satu hasil main draw dengan Kroasia, membuat nasibnya ditentukan banyak pihak. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan Jepang. Mirip nasib tragis Yukio Mishima, yang mati harakiri. Benarkah Dai Nippon bakal harakiri?Memasuki putaran kedua Piala Dunia 2006, wakil Asia rontok satu-persatu. Setelah Arab Saudi dan Iran tersingkir, naga-naganya malam nanti giliran Jepang. Ia harus berhadapan dengan Brasil dan menang telak. Jika ada mukzizat Jepang menang, nasibnya juga masih ditentukan yang lain, yaitu Kroasia, yang harus menggulung Australia. Itupun masih dengan catatan, Australia kalah dengan skor kecil. Membayangkan nasib yang bakal menimpa Jepang lawan Brasil ini tak terasa kepala menjadi cenut-cenut, puyeng. Negeri Matahari Terbit itu memasuki sebuah situasi yang muskil terselamatkan. Dan itu seperti membaca kembali novel-novel kelam yang dihasilkan Hiraoka Koi, nama samaran dari Yukio Mishima. Yukio Mishima bukanlah novelis produktif. Penulis yang dilahirkan di Tokyo 14 Januari 1925 itu memang hanya menghasilkan beberapa karya. Namun begitu, dari karya-karyanya yang banyak diterjemahkan dalam bahasa Inggris maupun Belanda itu telah mengangkat namanya sebagai penulis roman dan drama Jepang terkemuka. Ia patut diperhitungkan.Itu semata lebih pada karakter novel yang dihasilkannya, serta kematiannya yang tragis. Ia banyak bicara tentang pengalaman bawah sadar, tak hanya soal seksualitas yang seperti diilhami oleh pikiran-pikiran Sigmund Freud, tetapi juga sikap 'kerasnya' yang kemudian membawanya pada kematian.Mishima merupakan sosok yang konsisten. Menyatukan kenyataan dan harapan. Idealisasi buatnya haruslah sama dengan realitas. Sikap tidak boleh beda dengan tindakan. Tidaklah heran ketidaksetujuannya dengan kebijakan pemerintah Jepang yang dianggapnya terlalu pasif kemudian membawanya pada hidup akhir yang mulia: harakiri.Benarkah Jepang negara yang pasif? Tak bisa disebut begitu! Negara yang ke depan hanya ada dalam peta ini nyaris tak memberi ruang bagi kekuatan yang pasif maupun reaktif. Yang terjadi ke depan adalah kompromis. Kompromi dalam bidang apa saja. Dalam soal ini Richard Rosecrance dalam The Rise of the Trading State telah memprediksi tentang itu. Mengambil contoh masa lalu, dan meraba sikap politik sebuah negara di kemudian hari.Adakah dengan demikian sikap Mishima salah? Setiap jaman punya nafas. Dan nafas jaman masa-masa itu adalah macam itu. Di Indonesia, misalnya, penyair Khairil Anwar, sikap dan perbuatannya juga tak jauh beda dengan Mishima. Ia terkesan arogan dan liar, ekspresi dari karyanya, 'Aku binatang jalang, dari kumpulan terbuang'.Sikap dan tindakan haruslah sama. Itu merupakan bagian dari eksistensi diri sebagai seniman. Ia tak perlu memoles penampilan, atau gamang untuk menuangkan gagasan dan pikiran bawah sadar yang terkadang dinilai tidak etis bagi sebuah jaman. Tujuannya hanya satu 'sekali berarti habis itu mati'. Jaman itulah romantisme gaya Romeo dan Yuliet Shakespeare mulai tak dikenal. Jaman baru yang memayungi Khairil Anwar maupun Yukio Mishima adalah 'jaman reformasi' bagi kebangkitan sastra yang indah tetapi tidak harus dengan kata-kata elok. Era merekalah era dobrak-dobrakan, yang membongkar batasan indah dan jorok, harmonis atau chaos menjadi sesuatu yang bias. Adakah Jepang mampu membuat kejutan lawan Brasil? Rasa-rasanya tak masuk akal itu bakal terjadi. Hanya, kalaulah tim ini kalah, maka kekalahan itu adalah bagian dari keluhuran budi seorang samurai, yang dengan semangat bushido, menempatkan kehormatan di atas segala-galanya, termasuk nyawa. Jepang kalah terhormat. Kalah dikalahkan Brasil yang difavoritkan jadi juara dunia tahun 2006 ini. Haik!==Foto: Shunsuke Nakamura. Motor serangan Jepang. (AFP/Roberto Schmidt) (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads