Pelatih Tak Kuasa, Psikolog Bertindak
Kamis, 22 Jun 2006 17:15 WIB
Jakarta - Saat pelatih gagal mengangkat mental para pemain, tim tidak segan beralih pada psikolog. Kiat itu digunakan Spanyol dan Jerman, yang sukses menghabisi lawan-lawannya di penyisihan grup. Tim Spanyol mendatangkan psikolog tim jauh-jauh dari Amerika Serikat. Tidak tanggung-tanggung yang dipilih mereka adalah seorang profesor yang sudah berpengalaman mendampingi atlet-atlet olimpiade. Di tim Matador, Profesor Leonard Zaichkowsky bertugas untuk mengubah mental Raul cs dari tim jagoan kualifikasi menjadi tim jagoan turnamen. Maklum, sepanjang keikutsertaannya di Piala Dunia, prestasi Spanyol selalu mentok sampai perempat final. Padahal mengingat kualitas para pemainnya, Spanyol hampir selalu tampil sebagai unggulan. Seperti apa metode yang dicoba Zaichkowsky? "Kami berusaha menanamkan pada para pemain kalau mereka adalah tim yang berbeda, dengan pelatih berbeda, pokoknya berbeda segalanya," katanya mengungkap rahasia dapurnya seperti dilansir AFP. "Kami ingin agar mereka hanya memikirkan penampilan terbaik tim ini saja," tambahnya. Sejauh ini kehadiran Zaichowsky terbukti cukup mumpuni. Jika pada Piala Dunia sebelumnya Spanyol tampil terseok-seok di partai awal, kali ini skuad besutan Luis Aragones tampil meyakinkan. Kemenangan 4-0 dan 3-1 atas Ukraina dan Tunisia bahkan membuat tiket babak kedua diraih sebelum waktunya. Uniknya, keberhasilan Spanyol ditiru oleh tim pengguna jasa psikolog lainnya. Tuan rumah Jerman lolos ke babak kedua dengan status juara grup setelah menuai tiga kemenangan meyakinkan. "Kami senang dia berada di sini untuk mengurus aspek mental dari tim ini," kata pelatih Juergen Klinsmann mengenai Dr. Hans-Dieter Hermann. "Dia punya banyak pengalaman dan telah bekerja dengan atlet top. Dia bisa membantu menangani stres dan memaksimalkan penampilan," tukasnya. Namun tidak berarti kehadiran psikolog selalu ampuh memoles mental tim. Seperti misalnya tim Angola, yang menggunakan jasa Laurindo Vieira. Tim asal Afrika ini tak lolos ke babak kedua karena gagal bersaing dengan Portugal dan Meksiko di Grup D. Meski demikian bukan berarti kehadiran pengajar di sebuah universitas Katolik itu tak berarti. Buktinya setelah ofisial mendatangkannya seusai Angola dikalahkan Portugal 1-2, Angola bisa menahan Meksiko pada partai kedua dengan skor 0-0. Materi soal ketenangan pikirannya rupanya menjadi bekal yang ampuh buat 10 orang pemain Angola -- yang kehilangan Andre di menit 79 -- saat menahan gempuran 11 pemain Meksiko. Kalau begitu seberapa penting peran psikolog di sepakbola? "Psikologi punya dimensi positif. Itu membantu orang meraih potensi tertingginya," jawab Zaichkowski.Setuju? Foto: Raul dan Carlos Puyol butuh bimbingan psikolog untuk sampai pada performa terbaiknya (AFP/Jose Jordan) (mel/)











































