Kolom
Tunisia Seharum Ibnu Khaldun
Jumat, 23 Jun 2006 08:00 WIB
Jakarta - Laga Tunisia melawan Ukraina bakal berlangsung ketat. Siapa yang menang terselamatkan, sedang yang kalah terpaksa harus pulang. Akan pulang kampung-kah Tunisia?Secara matematis mungkin Tunisia bakal kalah. Tapi dalam ranah pemikiran, negeri di Afrika Utara itu pernah melahirkan putra terbaik yang hingga kini masih dicatat dalam sejarah. Dia adalah Ibnu Khaldun, pelopor pemikiran modern. Ibnu Khaldun dilahirkan di kota Tunis tahun 1332. Sebuah kota terbesar di Tunisia, yang sampai sekarang menjadi ibukota dari negeri yang merdeka sejak 20 Maret 1956 itu. Kakek-neneknya keturunan Arab Yaman yang memegang jabatan penting, kemudian ke Spanyol dan melakukan pengungsian ke negeri Afrika Utara itu tatkala kaum Muslim tidak terlindungi.Sebagai laki-laki yang dilahirkan di lingkungan keluarga pejabat, maka Ibnu Khaldun juga berkarir dan memangku jabatan serupa. Sejak muda terjun dalam politik praktis, pernah menjabat sebagai Sekretaris Negara, Ketua Mahkamah Agung Malikiyah Mesir, dan ikut mempertahankan kerajaan itu dari invasi Timur Lenk. Sampai akhir hayatnya Ibnu Khaldun tinggal di Mesir.Ketika Timur Lenk melakukan invasi ke Mesir, Ibnu Khaldun bertemu dan berdiskusi dengan pemimpin bangsa Mogul yang ditakuti itu. Pikiran-pikirannya yang jernih, diplomasinya yang menawan, ditambah ketaatannya terhadap Islam yang menjadi keyakinannya, maka Ibnu Khaldun yang bernama lengkap Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Khaldun Al-Hadrami atau Abu Zaid Abdurrahman bin Khaldun itu berhasil mempesona Timur Lenk, penguasa yang suka berperang itu.Penguasa dari Turki yang mengaku keturunan Jenghis Khan itu mendapat pencerahan. Ia tak lagi hanya memegang motto "serang, basmi, berdakwah dan kuasai", tetapi Timur Lenk (pincang) yang tidak disukai banyak bangsa itu mulai membuka diri dan mengajak dialog pihak yang diinvasi. Itu pula yang menjadikan duta besar Spanyol, Clavijo diterima berkunjung ke istana Timur di tahun 1404 dan menyebut, bahwa Timur adalah penguasa yang keras tetapi adil.Ibnu Khaldun tak hanya mampu 'menyihir' Timur Lenk. Gagasannya tentang negara, masyarakat dan penguasa amatlah orisinal. Gagasan itu lahir dari penalaran yang didasarkan pada kenyataan yang dilihat di lapangan. Dan dari sana Ibnu Khaldun akhirnya berkesimpulan, bahwa negara totaliter tak akan berumur panjang, dan penguasa yang memaksakan kepatuhan, korup, serta hura-hura akan terlindas jaman.Dalam kitabnya yang terkenal, Muqoddimah, dengan jenius dan kritis, Ibnu Khaldun membedah soal masyarakat, negara, peradaban, serta jabatan penting sebagai perangkat yang terlibat di dalamnya. Dari sana ia memberi tesis, bahwa kepatuhan terhadap hukum adalah segalanya.Dalam konteks pemikir Islam, Ibnu Khaldun terbilang 'berani'. Ia tak riskan membuka kisi-kisi rentan jika dikaitkan dengan dogma agama. Malahan, menurutnya, adanya masyarakat, negara dan peradaban tidak bergantung pada adanya agama dalam pengertian nubuwwah (kenabian). Alasannya, ada banyak komunitas yang tumbuh dan berkembang hingga hilang yang lepas dari agama. Namun adakah di antara keberanian itu ada yang menyimpang dari fiqih? Ibnu Khaldun punya kesadaran tinggi yang dilandasi keimanan. Ia bertolak dan merujuk pada Al-Quran dan Hadist. Ia sadar dalam Islam ada petunjuk yang jelas. Untuk itu, keliaran pemikirannya dibiarkan merambah ruang-ruang yang jauh, tetapi dengan keimanan, maka sebelum pikiran itu dituangkan dalam kitab, ia rujuk dengan kitab suci Islam itu. Ibnu Khaldun telah mengharumkan Tunisia. Mata dunia melihat Tunisia sebagai sebuah negeri yang indah, bermartabat, maju dan berpikiran modern. Kalaulah sampai Tunisia tersingkir dalam laga penentuan malam nanti melawan Ukraina, maka itu bukanlah sebuah kekalahan, tetapi semata sebagai publisitas cendekia yang harus terhenti. Namun benarkah Tunisia bakal tersingkir? Peluang Ukraina untuk menang memang lebih besar, tetapi Tunisia juga masih punya kesempatan untuk membalik keadaan. ==*) Penulis adalah pemerhati masalah budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com (a2s/)











































