Prancis Tak Lolos, Masak Sih?
Jumat, 23 Jun 2006 13:49 WIB
Jakarta - Ini bukan soal Zinedine Zidane, tapi menyangkut reputasi besar Prancis. Entah apa jadinya jika Les Bleus kembali gagal di putaran pertama. Tapi, masak sih tidak lolos?Apa boleh buat, sejak memenangi Piala Dunia 1998 Prancis terlanjur identik dengan Zidane. Si botak keturunan Aljazair itu sudah menjadi "dewa" merah-putih-biru, bahkan sebagian menganggapnya jauh lebih hebat dari seorang Michel Platini.Raymond Domenech sampai merengek-rengek agar bintang Real Madrid ini kembali masuk timnas. Gayung bersambut, Zidane pun masih penasaran untuk menebus kegagalan dirinya dan Prancis di Piala Dunia 2002 dan Euro 2004.Maka pria kelahiran 23 Juni 1972 itu -- hari ini genap 34 tahun! -- kembali menjadi "seekor" Ayam Jantan. Sampai Prancis lolos ke Jerman, kontribusi Zidane masih lumayan, paling tidak dari figurnya sebagai pemimpin.Namun, seperti kita lihat, Zidane tak mampu membuat Prancis berkokok saat menghadapi Swiss dan Korea, walaupun tugas tersebut juga diemban 10 pemain lain plus Domenech. Tambah sial, Zidane terkena akumulasi dua kartu kuning dan dipastikan absen pada partai penting melawan Togo nanti malam.Tapi hasil pertandingan nanti bukanlah buat Zidane. Seperti kata Luis Figo, sekalipun gagal pemain sebesar Zidane tetaplah dipandang besar sampai kapanpun. Zidane tak perlu membuktikan apa-apa lagi. Kehebatan dan kejeniusannya telah membatu. Abadi. Tidak ada yang belum diraih Zidane, baik di level klub maupun timnas, individu ataupun kolektif. Istilahnya, Zidane sudah bisa beristirahat dengan tenang.Jadi, kebaikan hasil partai nanti malam sesungguhnya untuk kebaikan Prancis itu sendiri. Prancis sudah menjadi pelaku besar dalam dunia sepakbola. Mereka adalah (mantan) juara dunia dan kampiun Eropa, serta melahirkan banyak figur penting dalam perjalanan permainan ini.Dari Jules Rimet dan Henry Delauney, yang namanya diabadikan sebagai label dua tropi paling berpengaruh di dunia, sampai pemain-pemain jempolan seperti Just Fontaine, Raymond Kopa, Joel Bats, Platini, Eric Cantona, David Ginola, Zidane, Patrick Vieira, atau Thierry Henry.Kalah-menang, sukses-gagal adalah hal biasa dalam dunia olahraga. Tapi buat sebuah tim elit, kalah melulu atau gagal terus adalah kegetiran tersendiri. Warga Togo tidak pernah berani pasang harapan tinggi-tinggi buat Emmanuel Adebayor, tapi tidak bagi 62 juta penduduk Prancis pada Les Bleus.Tanpa banyak cakap lagi, adalah sebuah petaka besar buat sepakbola Prancis jika tidak mampu lolos ke babak 16 besar pada Piala Dunia kali ini. Paling tidak, itu menandakan bahwa tim yang dihuni pemain-pemain papan atas itu tidak sanggup mengalahkan Togo -- apalagi untuk bersaing dengan tim-tim sekelasnya macam Brasil, Jerman, Argentina, Inggris, Italia, atau Spanyol.Tidak bisa tidak, Domenech dan anak-anak buahnya harus menerapkan betul-betul -- paling tidak untuk sekali ini saja -- slogan-slogan heroik seperti berjuang sampai titik darah penghabisan, jangan berhenti sebelum mati, atau pantang mundur sampai liang kubur.Untuk diketahui, hasil polling detiksport memperlihatkan ketidakyakinan sebagian pembaca bahwa Prancis bisa tampil di babak perdelapanfinal. Dari 2.573 suara, 1.674 di antaranya (65.06%) memperkirakan Vieira cs akan tersingkir malam ini. Hanya 34,94% yang masih percaya Prancis belum akan menangis.Foto: Zinedine Zidane tetap berlatih walaupun absen melawan Togo. Kemenangan Prancis bukan semata-mata untuk Zidane. (AFP/Jung Yeon-Je) (a2s/)











































