Kolom
Dancuk Made In Inggris
Minggu, 25 Jun 2006 10:08 WIB
Jakarta - (Sorry,) Dancuk Inggris ! Menang atau kalah, tim ini acap bikin masalah. Bukan di tengah lapangan, tetapi di tengah kota. Itulah hooliganisme yang datangnya seperti air bah. Tak takut siapa saja, tetapi merusak segalanya, termasuk harta benda dan juga nyawa. Adakah putaran kedua antara Inggris melawan Ekuador nanti mengundang hooliganisme? Bisa saja, terutama jika The Three Lions kalah.Di Piala Dunia 2006 ini Inggris memang termasuk tim favorit, tapi sejauh ini jauh dari mengesankan. Laga di Grup B yang sudah dijalani, kendati menempatkan Inggris sebagai pimpinan, tetapi pasukan Beckham ini tampil biasa-biasa saja.Namun dijagokan atau tidak, yang pasti, tiap Inggris main, maka akan terjadi penambahan personel. Bukan penonton, tetapi aparat keamanan. Penjagaan diperketat, stadion diawasi, dan jika pertandingan usai, maka berbagai sudut kota dipenuhi penjaga, untuk berjaga-jaga segala kemungkinan yang terburuk.Kata orang, hooliganisme yang tersulut tragedi Heysel itu sama dan sebangun dengan 'Bonekisme' (bondo nekat) di negeri ini. Apa betul begitu? Untuk menjawabnya, mungkin sementara waktu kita perlu ke Surabaya, di mana istilah bonek yang merupakan fanatisme radikal itu ditimba. Dalam kebiasaan arek-arek Suroboyo, bonek taklah lahir dari sepakbola. Istilah ini telah lama ada dan diamalkan dalam berbagai kesempatan, sebagai tindakan untung-untungan. Mau nonton bioskop tak punya uang, maka perlu bernegosiasi dengan penjaga pintu. Mau pacaran orangtuanya garang, kendati dengan dengkul kothekan (kaki gemetaran) memberanikan diri untuk wakuncar. Dan kalau kepingin ke Jakarta tak punya sangu, ngendon di WC kereta api pun jadi. Yang penting ibukota telah dilihatnya dengan mata dan kepala sendiri. Itu adalah contoh soal ritus bonek.Tindakan ini sebenarnya tidak merusak -- kendati merugkan --, dan lebih banyak dilakukan perorangan dibanding kelompok. Kalaulah ada yang dilakukan secara berkelompok, maka biasanya itu terjadi di Gelora 10 Nopember Tambaksari, ketika sedang ada pertandingan sepakbola. Caranya, dengan menggunakan tali, memanjat dinding stadion, untuk menikmati dan mendukung kesebelasan yang sedang berlaga. Dari sisi itu, bonek memang punya anasir hooligan, yaitu fanatisme dan emosi massa yang tersulut karena berbagai sebab. Namun bonek sangatlah jauh dari asumsi hooligan Inggris. Sebab secara kultural, bonek merupakan ekspresi patriotisme yang lahir dari tradisi masyarakat Surabaya yang reaktif, kasar, keras, tetapi sekaligus juga hangat, pemaaf dan bloko suto (gentleman).Memang, karakter macam itu membiaskan batasan baik dan buruk, benar dan tidak benar. Itu bisa dilihat dari idiom tiap istilah yang dipakai warga Surabaya. Umpatan kasar dancuk, misalnya, yang merupakan kependekan dari (maaf) diancuk (disetubuhi), justru menjadi salam hangat antarteman dan antarsahabat yang lama tak bertemu. Dan hanya kadang-kadang saja, untuk mendegradasi umpatan itu, maka sering digunakan kata jangkrik. Kata ini, kendati secara harafiah maknanya amat jauh berbeda, tetapi kata itu dimaknai sama dengan umpatan kasar diancuk. Untuk itu, jangan kaget, jika lagu Waljinah 'Jangkrik Genggong' pun sering diselewengkan menjadi'Dancuk Genggong'. Wah!Idiomatik macam ini sering tidak bisa ditangkap oleh orang luar Surabaya. Mereka menangkap kata yang bersifat konotatif itu sebagai kata yang bermakna tunggal (denotatif). Akibatnya, rasa (taste) Surabaya yang hangat dan familiar acap hilang. Yang timbul justru kekasaran dan kebrutalan, sikap-sikap destruktif yang dianggap sebagai bagian dari jatidiri wong Suroboyo. Terus bagaimana dengan dancuk made in (baca : versi) Inggris? Bagi warga Surabaya, hooliganisme pendukung Inggris tidak dipersalahkan sekaligus juga tidak dibenarkan. Alasannya, hooliganisme adalah bentuk lain dari patriotisme, di mana dalam faham ini, tiap sanubari pendukung tertanam semangat, vitalitas, dan keinginan besar agar timnya menang. Dengan begitu, maka hooligan tidak bisa disebut barbar atau kriminal, tetapi malah mungkin sebaliknya. (Bandingkan dengan semboyan right or wrong my country yang diucapkan presiden Amerika.)Tetapi di balik 'dukungan' terhadap hooliganisme itu, warga Surabaya juga mempersalahkannya. Alasannya, gara-gara tindakan itu, maka bonek pun kena imbasnya. Arek-arek Suroboyo yang mendukung Persebaya ke mana-mana selalu dicurigai, diawasi, dan terkadang dijadikan kambing hitam bagi sesuatu yang meributkan. Gara-gara hooliganisme, bonek pun dibaptis jadi virus berbahaya yang harus dibasmi. Untuk itu, bagi pendukung Inggris yang terkadang jadi hooligan, salam yang disampaikan arek-arek Suroboyo adalah Inggris Dancuk! Ini sebagai ungkapan kehangatan, sekaligus luapan kejengkelan atas melebarnya idiom hooliganisme. Inggris dancuk.... cuk, cuk, cuk, diancuk!!!==*) Penulis adalah pemerhati masalah budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. (a2s/)











































