Kaum Sofis Dukung Brasil

Kolom

Kaum Sofis Dukung Brasil

- Sepakbola
Selasa, 27 Jun 2006 11:08 WIB
Kaum Sofis Dukung Brasil
Jakarta - Brasil bakal berhadapan dengan Ghana. Gaya Samba Amerika Latin tarung melawan tarian Afrika yang mempesona. Yang terjadi bisa ditebak, sebuah permainan yang penuh improvisasi dengan gocekan-gocekan indah. Inilah tipuan kelas dunia yang mahal harganya. Benarkah Brasil bakal tampil sebagai pemenangnya?Hampir pasti, dalam laga kali ini mayoritas orang menjagokan Brasil. Penampilan Ghana yang menarik belum mampu mensugesti banyak penikmat bola untuk menjagokannya. Apalagi dalam putaran pertama, Ghana bisa dibekuk Italia yang tampil kurang greget.Untuk itu, kendati tim Samba belum menunjukkan permainan terbaiknya, tapi aksi Ronaldo dan kawan-kawan masih dianggap sebagai yang terbaik dibanding wakil Afrika yang bakal menjadi penantangnya. Namun benarkah begitu?Mengomentari tim yang sudah didukung hampir semua orang terasa tak menarik lagi. Namun karena harus berkomentar, maka untuk menyambut laga akbar Brasil vs Ghana, terasa lebih menggelitik jika komentar bolanya ditukar dengan komentar soal aksi tipu-menipu. Dalam bahasa gaulnya tisani, tipu sana tipu sini.Tipu-menipu (baca: gocekan) indah ternyata tak hanya terjadi dalam sepakbola. Dalam sejarah pemikiran, tipuan logika juga dikenal. Malahan kemudian jadi mazhab. Ada sistematikanya, ada tokoh pendidiknya, dan tentu ada murid serta pendukungnya.Di abad keempat sebelum Masehi, tokoh penting yang mengajarkan ilmu ini, masing-masing adalah Protagoras, Gorgias serta Antiphon. Merekalah para guru besar yang mengajarkan 'ilmu tipu' itu. Alatnya adalah retorika, dan tujuannya, mencari kemenangan serta tidak memedulikan kebenaran.Ajaran yang berkembang di Yunani itu amat banyak peminatnya. Mereka belajar pidato, menimba ilmu lain sebagai bekal memuluskan tipuan, serta dalam berbagai kesempatan dipraktekkan untuk mempengaruhi orang atau menyikapi peraturan agar berubah seperti yang diinginkan.Kaum pemeluk ajaran ini menyebut diri sebagai kaum sofis yang berarti orang bijak. Sedang amalannya disebut sofisme, sebagai sebuah paham yang amat menakutkan bila dilakukan orang cerdas. Tapi siapakah yang paling banyak mendalami ilmu ini? Jangan kaget, ternyata pokrol (pengacara), dan para orator (tukang pidato) yang paling dominan.Bisa dibayangkan, betapa banyak yang merugi jika harus bersinggungan dengan kelompok sofis. Hukum bisa dijungkirbalikkan sesuai order yang diterima, dan rakyat awam jadi korban 'penipuan' para politisi yang hanya obral janji. Para orator ulung yang tak punya hati nurani memang amat membahayakan, karena yang menjadi korban biasanya bersifat massal.Korban mulut manis dan janji palsu itu memang tak sedikit. Untuk itu, tatkala Sokrates melihat itu, diapun melakukan penentangan. Pemikir yang dikenal dengan 'Ironi Sokrates' itu, yang mengaku tidak tahu apa-apa dan terus bertanya-tanya pada siapa saja untuk mencari tahu ('Dialog Sokrates'), dibuat berang dengan kaum sofis yang selalu merasa tahu.Dan perlawanan Sokrates itu akhirnya berakhir dengan kematian dirinya sendiri. Ia dituding merusak generasi muda Athena, dan ajarannya dianggap membahayakan kepercayaan umum. Larikah Sokrates? Ia rela mati demi mempertahankan sebuah keyakinan.Dalam laga Brasil dan Ghana, keduanya sama-sama ahli tipu. Bukan tipuan melalui kata-kata, tetapi lewat gocekan bola. Maka jika tipuan logika amat membayakan umat, taklah begitu dengan tipuan gaya Brasil dan Ghana. Tipuan dua tim ini membuat orang bergairah, dan tak terasa menumbuhkan vitalitas untuk melakukan apa saja. Benarkah Brasil lebih jago soal aksi tipu menipu ini dan tampil sebagai pemenangnya? Kayaknya begitu !==*) Penulis adalah pemerhati masalah budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com (lom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads