Bandit

Kolom

Bandit

- Sepakbola
Selasa, 27 Jun 2006 13:35 WIB
Bandit
Den Haag - Bahwa duel Belanda-Portugal bakal menarik kaya taktik, itu dalam 'Revolusi van Basten' sudah saya prediksi. Namun olala... itu duel para bandit. Kita semua dirampok. Pedih!Saya pastikan Senin dinihari kemarin letupan emosi dan teriakan membuncah dari rumah-rumah. Anak-anak kecil dan para istri yang tidak punya afiliasi dengan sepakbola, terlonjak dari tidur dibuatnya. Di kos-kosan bujangan atau mahasiswa, suasana pasti lebih hiruk-pikuk dan membara. Hingga detik ini, obrolan duel Belanda-Portugal itu dijamin masih menjadi buah bibir.Dramatis! Duel dua tim satu mazhab 4-3-3, sama-sama menyerang, mengandalkan manuver sayap nan sedap, dirusak dan dihancurkan oleh satu orang: Valentin Ivanov. Wasit Rusia ini tampil seperti seusai menenggak vodka. Sedikit saja terjadi body check, langsung dia ganjar dengan kartu. Akibatnya pertandingan menjadi remuk berantakan. Kedua tim jadi frustasi dan sama-sama mencari akal bagaimana membalaskan kartu yang diterima dari Ivanov bisa mengenai lawannya. Kita semua menjadi korban. Kita kehilangan kesempatan untuk menikmati duel bermutu, taktik beradu antara Van Basten kontra Luiz Felipe Scolari. Pada babak pertama masih asyik. Kita disuguhi permainan ala tikus dan kucing, saling intai, saling mengejar dan menerkam. Enak ditonton, terutama setelah gol dicetak di babak ini atas nama Portugal. Belanda yang tertinggal 0-1, terus mengepung dan menekan. Bermain dominan, yang merupakan salah satu doktrin sepakbola menyerang. Statistik mencatat ball posession Belanda menembus porsi 65%, Portugal terdesak cuma 35% dengan sesekali menyerang balik. Perkembangan yang keras dan ketat membuat kita sudah obsesif: akan ada gol balasan, babak kedua pasti seru, mungkin ada tambahan gol, mungkin pula duel diperpanjang, mungkin pula jantung akan empot-empotan menyaksikan adu penalti menjadi penentuan.Ternyata babak kedua justru menjadi antiklimaks. Ivanov semakin mabuk. Ia kehilangan kontrol sepenuhnya sebagai wasit dan cenderung memainkan peran sebagai John Herod (Gene Hackman), 'pemilik' kota kecil Redemption nan kejam, seperti dalam film koboi The Quick and the Dead (1995). Ivanov menggiring Belanda-Portugal untuk saling bunuh secara terbuka. Tidak ada lagi sepakbola. Dari 45 menit babak kedua, mungkin 25 menit habis untuk bermain teater dan duel fisik ala bandit arahan Ivanov. Hasilnya, rekor gila meledak: 16 kartu kuning, empat kartu merah! Kacaunya lagi, waktu yang habis terbuang itu tidak dikompensasi secara benar, tapi cuma didengkul dengan 6 menit waktu ekstra. Van Basten terlihat terpukul. Ia merasa tidak diberi kesempatan fair untuk membalas ketinggalan gol dan memainkan timnya sesuai taktik yang telah disiapkan. Duel Belanda-Portugal sebenarnya bukan kali ini saja terjadi. Duel kedua tim ini selalu ketat, keras dan menarik, sebagaimana fakta 9 pertandingan sebelumnya membuktikan. Bedanya, duel-duel sebelumnya dipimpin wasit kapabel dan berintegritas. Sedangkan Ivanov dari Rusia jelas sekali nampak keteteran. Ia kelihatan tidak terbiasa menangani duel level Eropa Barat, yang bukan saja ketat dan keras, namun sering dibumbui aksi teatral untuk merugikan lawan. Disenggol sedikit saja bisa berguling-guling seperti disambar kereta, berteriak melengking membelah langit atau pura-pura diganjal di kotak penalti (diving). Kelemahan Ivanov menilai aksi-aksi semacam ini membuat duel Belanda-Portugal semakin runyam.Ivanov tidak sendirian menjadi titik noda di Piala Dunia 2006. Sebelumnya wasit Graham Poll juga mengubah pakem rumus sepakbola: 2 x kuning = merah. Ia linglung membiarkan pemain Kroasia Josep Simunic sampai tiga kali kena kartu kuning, setelah itu baru dieksekusi dengan kartu merah. Dari beberapa kelemahan wasit itu, Ivanov adalah yang terparah. Hak kita untuk menonton sepakbola indah telah dirampok dan ditukarnya dengan tontonan Wild West nan murahan. Seharusnya wasit berkualitas kelas kelurahan ini tidak layak hadir di podium Piala Dunia. (es/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads