Kolom
Evita Peron Menangkan Argentina
Kamis, 29 Jun 2006 11:42 WIB
Jakarta - Argentina menyita perhatian. Laga demi laga yang dilakukan berhasil dimenangkan dengan meyakinkan. Mengalahkan Pantai Gading dan Serbia-Montenegro dengan telak, memperagakan sepakbola indah saat bermain imbang melawan Belanda. Dan setelah membekuk Meksiko, maka kini harus berhadapan dengan tuan rumah Jerman. Benarkah ini merupakan revitalisasi Evita Peron? Dalam Piala Dunia 2006 ini Argentina menebar pesona. Permainannya sangat luar biasa. Koordinasi antarlini berjalan serasi, dan dari menit ke menit, gocekan serta syuting bola ke gawang lawan melahirkan decak kagum. Apalagi dari laga demi laga itu, kemenangan yang diraih hampir tak bercela. Tidaklah berlebihan jika Argentina kini difavoritkan sebagai salah satu kandidat juara.Argentina memang luar biasa. Betap, permainan dari para pemain yang merumput di banyak negara itu bisa dipersatukan dalam satu tim yang padu. Maka, melihat liukan Messi, pikiran seakan terbayang pada keindahan watak, dan keelokan wajah si Evita Peron, wanita yang dipuja Argentina berat kharisma dan keperduliannya terhadap sesamanya. Kini, roh istri Juan Domingo Peron itu sedang merasuki tim Argentina.Tim Argentina memang layak dipuja dan didamba. Permainannya berkarakter dan indah mempesona. Di tengah gemuruh lagu Don't cry for me Argentina yang dinyanyikan semua suporter, maka tiap laga Argentina di berbagai stadion di Jerman berubah menjadi orkestra jiwa. Sebuah situasi yang menyeret siapa saja larut dalam emosi massa.Melihat penampilan Argentina yang aduhai itu, memang pikiran mau tak mau dipaksa untuk mengarahkan pandang pada 'ibu bangsa' yang bernama asli Maria Eva Duarte. Wanita ini yang bisa menyamai situasi emosional warga Argentina terhadap timnya. Evita telah berbuat sesuatu yang berharga bagi bangsanya, dan itu yang melahirkan histeria tatkala maut menjemputnya lewat kanker yang dideritanya.Evita Peron adalah ikon bangsa. Memang, perjalanan karier wanita ini tak jauh dari gambaran perjalanan Grace Kelly, Ratu Monaco yang dimulai dari film dan sandiwara radio. Wajahnya yang cantik, bakat aktingnya yang bagus, membuka jalan lempang bagi Evita atau Grace Kelly muda memasuki dunia peran. Film dan radio menjadi bagian dari hidupnya. Dan itu yang mencuatkan namanya sebagai bintang yang dipuja.Hanya, jika Grace Kelly tanpa harus terlibat dalam gejolak politik dalam negeri saat mendampingi Pangeran Rainer hingga akhir hayat, tidak demikian dengan suratan nasib yang harus dijalani Evita Peron. Wanita ini masuk dalam sebuah kehidupan keras dan ber-vivere pericoloso, nyerempet-nyerempet bahaya. Bukan hanya kedudukannya yang rawan, tetapi juga nyawa diri dan keluarga menjadi taruhan. Dan itu wajar. Evita Peron hidup di sebuah Negara demokrasi. Presiden adalah eksekutif. Untuk menjalankan roda pemerintahan, masih ada lembaga lain yang mengontrol dan memberi saran. Tatkala terjadi mis-antar lembaga, maka situasi politik pun gampang berubah. Tapi bagi Evita, segalanya harus dijalankan. Ia tak hendak campur tangan dalam soal di luar kapasitasnya.Perkenalannya dengan Juan Domingo Peron (1943) yang kemudian berlanjut pada perkawinan (1945), memberinya penyadaran, bahwa sebagai anak bangsa, ia harus berbuat dan berbuat demi kebaikan kaumnya. Tahun 1946 ketika sang suami terpilih sebagai presiden Argentina memuluskan langkah Evita. Ketenaran serta posisinya sebagai istri orang nomor satu dimanfaatkan secara positif. Kegiatan sosial mengangkat kaum papa menjadi prioritas, dan memimpin wanita Argentina untuk tampil ke depan. Sedang dari sisi politik, Evita Peron memperjuangkan hak pilih bagi kaumnya, dan berhasil merombak pandangan masyarakat Argentina kala itu. Ini yang menjadikan Evita sangat dekat dengan rakyat, mengalahkan kedekatan sang suami yang notabene adalah pemimpin rakyat sejati.Sayang, wanita yang luar biasa itu harus menyudahi perjuangannya. Ia menang melawan tradisi dan kekerasan politik negerinya, tetapi tak berkutik melawan kanker yang menggerogotinya. Tepat 26 Juli 1952, wanita ini harus menghadap Yang Kuasa. Ia dipanggil untuk selama-lamanya. 'Jangan menangis Argentina', begitu pesannya.Nah bagaimana langkah kesebelasan Argentina melawan Jerman besok (30/6/2006) di Beelin? Laga tetap sangat seru. Tiap tim tidak diberi kesempatan untuk memilih. Kalah hilang, menang maju ke babak berikutnya. Dan Argentina diprediksi akan memenangi laga kali ini. Alasannya, revitalisasi Evita Peron memang sedang terjadi. Adakah benar begitu? ==* Penulis adalah pemerhati masalah budaya, wartawan, juga mantan kiper. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com (a2s/)











































