Kolom
Inggris Kedodoran ala Kamasutra
Sabtu, 01 Jul 2006 10:06 WIB
Jakarta - Inggris berhadapan dengan Portugal. Kalah pulang, menang melenggang. Tapi pernah dalam sejarah, pasukan Inggris yang perkasa itu, harus tunduk dalam pelukan wanita. Itu karena Kamasutra, ketika Inggris menjajah India. Pengalaman seks itu rasanya sangat bertolak belakang dengan Portugal. Kamasutra. Kata ini telah berubah menjadi mantra. Tiap diucapkan, orang langsung menerawang ke persoalan yang bukan-bukan. Berpikir ngeres, dan menggelepar-gelepar mirip ikan di darat yang sedang menunggu sakaratul maut. Padahal jika diperbandingkan dengan informasi sejenis belakangan ini, kitab Kamasutra taklah sangat istimewa. Hanya, memang, tuntunan seks dan teknik bercinta yang ada di dalamnya masihlah amat indah untuk direguk. Selain kandungan terapi yang berguna bagi kesehatan jasmani.Kitab ini disusun Mallanaga Vatsyayana. Kitab kuno India, yang merupakan peninggalan abad keempat. Kitab ini banyak ditafsir dan diulas, kemudian berkembang dalam banyak versi. Semua itu melulu karena bisnis. Sebab percaya atau tidak, Kamasutra selalu dicari, dibaca, dan tentu, dibeli.Dalam kitab ini, teknik bercinta ditampilkan dengan halus dan rinci. Tidak grusa-grusu (tergesa-gesa), dan tidak hanya karena nafsu. Malah kitab ini memberi penekanan, bahwa pengendalian diri, mulai dari melihat tubuh lain jenis, organ vital, meraba, sampai pada eksekusi akhir, perlu kontrol yang sangat ketat. Dari kesadaran melakukan perlawanan terhadap nafsu birahi itulah kelak akan dicapai puncak kenikmatan bak surgawi, dalam hubungan intim suami-istri.Teknik dan gaya bercinta Kamasutra memang banyak dipraktekkan orang. Tapi sejauh itu, naga-naganya roh dari teknik bercinta yang diamanatkan Kamasutra baru sedikit yang dijalankan. Sebabnya, selain perlawanan dan pengendalian terhadap nafsu tak menarik minat para praktisinya, juga waktu yang panjang untuk melakukan ini taklah tersedia. Tidak heran, jika banyak yang sehabis melakukan hubungan intim tidak mendapat kesegaran, tetapi justru lelah dan kepayahan.Di India, dulu dan sekarang, Kamasutra tetap dipraktekkan. Sebagai bagian dari pendidikan seks, juga untuk terapi kesehatan. Tak hanya para wanita yang sudah berumahtangga yang memakai Kamasutra sebagai pedoman dalam membahagiakan suami, tetapi juga para pekerja seksual. Untuk yang terakhir inilah para pasukan Inggris harus bertekuk lutut karena kedodoran dalam bercinta.Ada banyak catatan tentang 'kekalahan' pasukan Inggris itu. Catatan hitam itu terus beredar karena diterbitkan. Malah di Yellow House (orang India menyebut Pillahouse) di Mumbay, buku macam itu amatlah gampang untuk ditemukan. Sebab itu merupakan sebuah 'prestasi', sebagai bagian dari menu yang dijual.Apa sih Pillahouse itu? Ini adalah kawasan pelacuran. Letaknya ada di jantung kota Bombay yang sekarang berubah nama menjadi Mumbay. Di kota ini, sepanjang ratusan meter para pelacur menjajakan diri. Campur-aduk dengan tontonan tari telanjang dan kasino, serta layanan khusus kalau mau praktek Kamasutra. Pelacur yang tinggal di daerah ini datang dari berbagai penjuru India. Rata-rata mereka tertipu calo Bolliwood. Dan setelah terperosok ke lembah nista, maka para gadis itu pun ogah kembali pulang ke kampungnya. Mereka jadi wanita tuna susila, dan bisa jadi, umurnya tak panjang lagi. Sebab untuk penyakit yang mematikan, AIDS, India memegang rekor tertinggi di dunia.Adakah Kamasutra bakal ikut cawe-cawe (campur tangan) dalam laga Portugal lawan Inggris nanti malam? Jika itu terjadi, maka Inggris harus bertekuk lutut dua kali. Di India dengan pelacur, sedang di Jerman pada Portugal. Benarkah? Kita lihat sama-sama !==* Penulis adalah pemerhati masalah budaya, wartawan, juga mantan kiper. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com (lom/)











































