Catatan dari Jerman
Di Tepi Sungai Main, Mereka Bernyanyi dan Menari
Sabtu, 01 Jul 2006 18:52 WIB
Frankfurt - Ini bukan tentang romantisme duduk-duduk di tepian sungai. Ini tentang pengalaman menyaksikan sebuah extravaganza nan menakjubkan di kota bisnis utama di Jerman.Saya tiba di bandara Frankfurt pukul setengah dua siang waktu setempat. "Saya pikir Anda sudah terlambat. Jika ingin masuk taman utama, semestinya Anda sudah di sana dalam waktu setengah jam lagi," begitu saran Toni, 57, sopir bus yang menjemput di airport.Apa boleh buat, saya harus menaruh barang bawaan hotel. Jam tiga saya baru cabut, menumpang subway menuju Konstablerwache. Firasat saya membenarkan keterlambatan itu karena di dalam kereta tidak banyak lagi suporter yang saya jumpai.Hanya lima menit, kereta sampai tujuan. Di luar stasiun, aroma sepakbola langsung menyengat. Orang-orang bergegas menuju selatan dengan atribut aneka rupa. Laki-laki dan perempuan, tua-muda, berbondong-bondong menuju tepi sungai Main, yang di tempat itu partai Jerman versus Argentina "dipindahkan" dari Stadion Berlin. Jadilah kawasan ini disebut "Fan Fest Frankfurt". Omongan Toni terbukti. Sesampainya di lokasi saya kesulitan mencari celah untuk masuk ke lokasi utama, persis di pinggir sungai. Sudah ada sekitar 15 ribu orang di sana, menunggu Michael Ballack dkk bertarung melawan Juan Pablo Sorin cs. "Sorry, Anda tidak bisa masuk," jawaban seragam itu diberikan setiap petugas di setiap pintu masuk yang coba saya bujuk. Senyum paling manis khas Melayu yang bisa saya tawarkan, sia-sia. Apa boleh buat -- dan tidak apa-apa -- saya masih bisa menikmati suasana pertandingan di luar taman atau dari atas jembatan, meskipun kulit sudah dari tadi bertambah gelap oleh terik matahari musim panas. Di luar "stadion" itu, jumlah fans bisa mencapai 35 ribu orang.Norak mungkin -- tapi so what gitu loh? -- saya segera takjub pada yang ada di depan mata ini. Tua-muda, laki-laki-perempuan, tumpah ruah di kawasan tersebut. Segala dandanan, mulai dari yang berpakaian lengkap sampai sekadar kutang dan celana dalam, cuek-bebek hilir-mudik, duduk-duduk, sampai meneriakkan apa saja, membunyikan apa saja.Orang berkaos putih seperti lautan, bendera tiga strip hitam-merah-kuning berkibar-kibar dari segala penjuru. Segala macam bunyi menambah meriah pesta menghebohkan ini. Setiap berpapasan dengan siapapun, mereka saling meneriakkan "Deutschland... Deutschland.... ".Tentu saja tidak hanya orang Jerman berada di tempat itu. Fans dari negara-negara lain pun terlihat cukup banyak, seperti Brasil, Meksiko, Kroasia dan rombongan tifosi Italia, yang pertandingan Azzurri melawan Ukraina digelar dua jam setelah duel Jerman vs Argentina.Saya sempat iri ketika melintas sekelompok fans Korea dan mereka langsung diberi tepuk tangan oleh suporter tuan rumah. "Korea hebat, Korea hebat," seru mereka. Saya bisa bayangkan, betapa bangganya orang-orang berkulit kuning langsat dan bermata sipit itu bisa mendapat sambutan demikian, bahwa mereka telah diakui sebagai salah satu dari 32 tim terbaik di dunia. Sejenak saya mengelus dada, duh, kapan ya Indonesia bisa dipandang seperti ini di kancah sepakbola.Akan tetapi, daripada merusak suasana hati sendiri, segera saya lupakan mimpi "Merah-Putih" berbicara di kancah Piala Dunia. Saya sudah tidak tahan untuk menikmati apa yang ada di kawasan sungai Main itu, yang di tengah-tengahnya ditancapkan layar raksasa dua sisi.Layar supergede itu -- berukuran 144 meter persegi -- buatan Phillips dan gambarnya luar biasa jernih, bisa untuk dilihat sampai radius dua kilometer, yang berada di tengah-tengah Alte Brucke dan Obermain Brucke, yakni dua jembatan yang terletak di distrik Sachsenhausen yang terkenal dengan wine yang terbuat dari apel. Di sungai, beberapa boat dan kano hilir-mudik dikendarai polisi.Maka pesta utama dimulai ketiga peluit kickoff di Berlin disemprit wasit. Maka mengalirlah sebuah episode kehiupan di tepian sungai. Sepakbola pun menyuguhkan daya sihirnya, menyulap puluhan ribu menjadi homogen. Orang-orang berseru serentak, mengangkat tangan dengan kompak, bertepuk tangan bersama tanpa komando.Setiap peluang yang didapat Miroslav Klose atau Lukas Podolski direaksi teriakan mencekam. Setiap momen berbahaya yang diperoleh Hernan Crespo atau Juan Roman Riquelme membuat orang menahan nafas. Jika peluang itu lewat, desahan lega terdengar seperti sebuah koor.Terjadi kecemasan massal ketika Roberto Ayala berhasil membongkar gawang Jens Lehmann. Orang-orang yang mulai dipengaruhi alkohol mulai berulah. Sebagian mulai nyap-nyap atau membanting botol birnya. Yang telah mabuk, menggerundel tanpa juntrungan.Untunglah, Klose berhasil mengembalikan sebuah kehidupan di tepi Sungai Main. Orang-orang bergeliat lagi, bersorak-sorai kembali. Suasana mencair. "Deutschland... Deutschland...." Para pemabuk menepuk-nepuk dada lagi, tetap nyap-nyap, tapi pasti omongannya lebih "positif".Ketegangan memuncak tatkala adu penalti. Raut cemas kembali menyeruak, tapi langsung lumer begitu para algojo Jerman berhasil menggetarkan jala Leo Franco. Ledakan lebih keras membahana sewaktu Lehmann berhasil menjinakkan eksekusi Ayala. Tapi "bom" terdahsyat meledak ketika penalti terakhir Argentina, via Esteban Cambiasso, kembali gagal. Jerman menang.Maka pesta Sungai Main bertambah dahsyat. Orang-orang bernyanyi-nanyi, menari-nari, berpelukan, berciuman. Mereka yang yang tak kuasa menahan emosi, langsung terjun ke sungai, mengibar-ngibarkan bendera kebanggaan mereka. Botol-botol bir dibuka lagi, disemprotkan ke sana-sini. "Berlin... Berlin..." tak henti-hentinya mereka teriakkan sebagai optimisme bahwa Juergen Klinsmann dan anak-anak buahnya akan tampil di partai final. "German is the best team in the world," seru seorang fans tepat di depan muka saya. Saya cuma bisa nyengir, lalu angkat dua jempol.Malam terus beranjak, tapi pesta belum ada tanda-tanda berakhir, tutup botol-botol bir masih terus dibuka.Di tepi Sungai Main, sebuah pesta baru saja tergelar -- menunggu kelanjutannya yang lebih dahsyat lagi sampai Jerman kembali turun ke lapangan melawan Italia di semifinal.==*) Diinspirasikan dari judul novel dari penulis terkenal asal Brasil, Paulo Coelho, Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Tersedu. (a2s/)











































