Fans Jerman Senang Brasil Kalah
Minggu, 02 Jul 2006 21:55 WIB
Frankfurt - "Maaf, saya tidak mau mengangkut fans Brasil. Silakan Anda keluar sekarang juga." Kami sempat kaget karena belum apa-apa sopir bus carteran sudah berani "mengancam" rombongan kami.Tidak ramah? Bukan, Toni cuma bercanda. Ia melontarkan gurauan itu sewaktu melihat sebagian besar dari kami mengenakan kostum Brasil menjelang keberangkatan ke Waldstadion di kota Frankfurt untuk menyaksikan partai perempatfinal antara Tim Samba versus Prancis.Oya, rombongan kami terdiri dari empat pemenang kuis persembahan detikcom, dua orang perwakilan Telkom Flexy, serta 18 fans Indonesia lain bekerja sama dengan Obaja Tour & Travel.Sebagaimana Toni, tampaknya kebanyakan warga Jerman tidak ingin Brasil berlama-lama di tanah mereka. Mereka tentu bukannya tuan rumah yang pilih-pilih tamu, tapi semata-mata karena hitung-hitungan peluang der Panzer menuju tangga juara.Seperti diketahui, sehari sebelum Brasil bertanding melawan Prancis, Michael Ballack dkk telah mengantongi tiket ke semifinal berkat kemenangan adu penalti atas Argentina. Mereka akan bertemu Italia di babak empat besar.Jika menang lagi, maka Brasil bisa menjadi lawan Jerman apabila pasukan Carlos Alberto Parreira dapat menghentikan "macan tua" Prancis -- lalu menundukkan Portugal di semifinal. Skenario kedua itulah yang rupanya tidak dikehendaki fans Jerman. Untungnya, seperti hasilnya telah kita ketahui, Prancis berhasil menekuk juara dunia lima kali itu dengan skor tipis 1-0 lewat gol tunggal Thierry Henri.Ada tiga faktor kenapa orang Jerman seperti menghindari bertemu Brasil di final. Pertama, "sesama Eropa harus saling mendukung", dan Prancis bisa melengkapi all-european semifinal jika dapat mengalahkan raksasa dari Amerita Selatan itu -- setelah Jerman, Italia, dan Portugal dipastikan lolos.Faktor kedua, trauma. Tahun lalu Jerman dipecundangi Brasil di kandang sendiri di babak semifinal turnamen Piala Konfederasi. Brasil kemudian tampil sebagai juara dengan menundukkan Argentina di final.Dari faktor yang kedua, kenapa orang Jerman harus menjadi lahan keberuntungan buat Brasil, bukannya buat mereka sendiri? Jadi, no way Brasil menggelar pesta dua kali di tempat mereka.Tapi, kenapa harus menghindari Brasil di final? Bukankah itu berarti mereka berkesempatan membalas kekalahannya? Idealnya begitu. Tapi ini menyangkut faktor ketiga: takut.Jerman takut pada Brasil? Jangan tanyakan itu pada Ballack, Lukas Podolski, Miroslav Klose, dan pemain-pemain lain. Juga tidak kepada Juergen Klinsmann. Mereka sudah pasti akan menjawab "tidak".Tapi dari obrolan detiksport dengan beberapa orang Jerman termasuk Toni, ketakutan itu memang tersirat, bahkan jelas-jelas diakui. "Saya berharap Prancis yang menang. Saya tidak tahu apa tim kami bisa mengalahkan Brasil karena mereka tim yang sangat hebat," ujar Gunter, 35, yang datang ke stadion dengan memakai replika kaos Jerman bertuliskan "Netzer" di bagian belakangnya.Harapan Toni dan Gunter kemudian terwujud. Prancis menang, Brasil tersingkir. Suporter Les Bleus berpesta, fans der Panzer turut bersuka cita."Italia, Prancis atau Portugal tentu bisa kami kalahkan," sahut seorang pemuda Frankfurt bernama Andreas Huggel, 26, yang menyaksikan kesuksesan Prancis bersama pacarnya.Begitulah, rupanya Brasil memang masih merupakan tim yang paling ditakuti, bahkan oleh tim sekaliber Jerman, yang notabene tuan rumah pula, yang jumlah pendukungnya pasti jauh melebihi suporter Brasil yang berada di Jerman.Kini Brasil telah angkat koper. Betulkah bakal mulus Jerman melangkah ke final dan juara? Jika ditanyakan pada orang Italia, Prancis atau Portugal, bisa jadi kali ini mereka yang akan berkata, "no way". (a2s/)











































