Negeri Fasis Beradu Digdaya!

Kolom

Negeri Fasis Beradu Digdaya!

- Sepakbola
Selasa, 04 Jul 2006 11:40 WIB
Negeri Fasis Beradu Digdaya!
Jakarta - Jerman akhirnya masuk empat besar bersama Italia. Itu setelah Jerman berhasil menekuk Argentina yang menerapkan 'sepakbola bodoh'. Barisan penyerang ditarik ketika unggul di menit-menit awal, kedudukan imbang, dan ditentukan adu penalti. Tapi inilah kemenangan dua negara yang sama-sama fasis. Dua negara fasis kembali berjaya dalam sepakbola. Mereka berbagi kekuasan. Argentina yang besar kembali menjadi 'negeri jajahan'. Sedang Ukraina yang sempat mengejutkan dengan tampil dalam delapan besar memasuki masa lalunya sebagai negeri yang diperebutkan. Namun sebelum menengok masa lalu, harus diakui, realitasnya Jerman dan Italia memang menang. Mereka berhasil merebut Blok Kiri (catatan: Blok Kanan Portugal dan Perancis) sebagai kandidat juara. Blok ini kini dikuasai Hitler dan Mussolini. Pemimpin-pemimpin fasis yang dulu merajai berbagai negeri. Mungkin inilah kilas balik sebuah sejarah kelam, ketika demokrasi masih terabaikan. Dalam catatan sejarah, Jerman (Hitler) dan Italia (Benito Amilca Andrea Mussolini) adalah satu keping mata uang. Sama-sama fasis, dan acap saling bantu saat kritis. Untuk itu, tatkala Argentina yang perkasa itu tergelincir kesalahan dalam menerapkan strategi bermain bolanya, maka angan-angan pun melayang ke masa silam. Sejarah sepertinya sedang menulis dirinya sendiri. Ingin menunjukkan pada dunia, begitulah prosesi takdir sebelum disuratkan. Hanya jalannya saja yang berbeda, melalui laga bola yang kebetulan digelar di Jerman. Mussolini (29 Juli 1883 - 28 April 1945) adalah kawan Hitler. Kendati saat menjadi editor sebuah media ia banyak menuliskan tentang penggabungan Italia pada sekutu dalam Perang Dunia I, tetapi gagasan ini ternyata hanya sebagai jembatan. Jembatan untuk melihat reaksi publik. Sebab setelah itu ia justru membentuk kelompok fasis di Milan. Jaman punya nafas. Nafas jaman kala itu, sosialisme dan nasionalisme ternyata menimbulkan keresahan. Itu yang menjadikan ide Mussolini mendapat sambutan. Di tahun 1922, para milisi fasis melakukan konvoi ke Roma, dan itu yang mengantarkan Mussolini menduduki jabatan penting sebagai perdana menteri raja. Kekuasaan di tangan, apapun yang diinginkan bakal kesampaian. Mussolini melakukan itu. Dengan kekuasaan itu ia membasmi lawan-lawan politiknya. Bantai, jegal dan bunuh adalah cara yang dianggap paling jitu. Dan berkat langkah itu, maka kekuasaan Mussolini kian berkibar. Ia dianggap sebagai tokoh yang bakal membawa Italia memasuki jaman keemasan. Respons positif bagi langkahnya yang barbar itu kian membuat laki-laki ini bertindak arogan. Ia menerapkan politik agresif. Invasi meluaskan wilayah negeri merupakan tujuan. Dari sana, perang pun dicetuskan. Pertama yang menjadi sasaran adalah Ethiopia, dan setelah berhasil dijajah, diluaskan ke Albania. Tatkala negeri-negeri kecil sudah di tangan, maka tahun 1940 Mussolini ingin ndadar awak (menguji kekuatan). Ia mengajak Hitler melakukan kolaborasi melawan Sekutu. Hasilnya? Kekalahan demi kekalahan diterima. Tak hanya Mussolini kalah di Yunani dan Afrika, tetapi dalam negeri pun posisinya menjadi goyah. Sekutu masuk ke jantung Italia, dan Mussolini ditangkap. Hitler yang masih perkasa berhasil menyelamatkan Mussolini. Diktator ini kemudian diberi jabatan sebagai kepala negeri boneka fasis di Italia Utara. Namun di bulan April 1945, sebelum Sekutu menyerang Milan, rakyat yang sudah tak percaya padanya menangkap dan menembaknya. Nasib tragis menimpa tokoh fasis Italia ini. Kini, Jerman dan Italia, dua negara fasis itu wajib berperang. Tidak ada istilah kompromi dan saling bantu. Adakah Jerman akan tetap perkasa seperkasa Hitler di mata Mussolini? Atau justru Mussolini bakal memenangi laga kali ini untuk menghapus sejarah hitam yang 'menurunkan' derajatnya? Inilah laga penuh gengsi yang bakal membalik masa lalu!==*) Penulis adalah pemerhati masalah budaya, wartawan, juga mantan kiper. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com (mel/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads