Catatan dari Jerman
Kekalahan Boleh Ditangisi
Kamis, 06 Jul 2006 07:35 WIB
Dortmund - Usai kalah dari Italia, kapten Jerman Michael Ballack tampak berusaha tegar. Ia tak mau ada airmata keluar dari biji matanya. Padahal, kalau mau menangisi kekalahan, menangis sajalah.Itulah yang dilakukan sebagian suporter Jerman setelah tim kesayangannya tersingkir hanya satu jengkal sebelum mencapai babak final. Sudahpun begitu, kekalahan tersebut juga teramat menyesakkan dada, yang membuat kata-kata sulit diucapkan lidah. Yang paling gampang muncul ya airmata.Di menit terakhir extratime, sementara suporter Jerman cukup yakin tim kesayangannya bakal menang lewat adu penalti -- der Panzer punya rekor bagus dalam hal ini -- tanpa diduga-duga gawang Jens Lehman dibobol seorang bek kiri yang entah bagaimana caranya berada di sebelah kanan.Mendapat sodoran ajaib dari Andrea Pirlo, dari dalam kotak penalti Fabio Grosso langsung menyepak bola dengan tendangan lengkung kaki kiri. Ballack, pemain Jerman yang berada paling dekat dengan Grosso, tak keburu menutup ruang tembak lawannya itu. Lehman pun, meski sudah melemparkan tubuhnya sejauh mungkin, tetap tidak berhasil mencegah bola yang mengenai tiang gawang lalu mental ke dalam.Di Fan Fest Dortmund, Selasa (4/6/2006) pukul sebelas malam waktu setempat, ratusan bendera hitam-merah-kuning mendadak berhenti berkibar, digantikan oleh panji-panji merah-putih-hijau yang jumlahnya tidaklah banyak. Suporter tuan rumah bungkam, tifosi Azzurri "berkicau".Ratusan ribu pasang mata menatap kosong ke layar raksasa. Mulut-mulut ternganga tak percaya, tangan-tangan tak lepas mendekap kepala. Sebuah bangsa terhempas, sisa satu menit dianggap tiada, lebih-lebih Alessandro del Piero menambah satu gol lagi. Ya ampun, bagaimana bisa ini semua terjadi?Begitu wasit meniup peluit panjang, suasana tak lagi hingar-bingar seperti tujuh jam sebelumnya! Satu per satu luruh ke tanah dan bersimpuh, sebagian yang lain mondar-mandir tak jelas dengan tatapan gundah-gulanah.Teriakan-teriakan "Deutschland... Deuschland..." sejenak reda, tertutupi oleh sayup-sayup yel-yel "Italia... Italia..." Melihat satu orang saja menangis sering membuat saya ikut emosi, apalagi khalayak sebanyak itu. Seorang bocah laki-laki langsung minggir mendekat pohon dan menangis. Sang ibu mendekati dan mencoba menghibur, tapi si anak malah menampik belaian tangan ibunya dan menjauh. Ia jadi marah karena tidak dibiarkan berekspresi semaunya.Di tempat lain, laki-laki dan perempuan, tua-muda, terdiam dan saling berpelukan. Mereka bertangisan. Yang cukup tegar berusaha mengelus kepala teman-temannya, mencium kening pasangannya, untuk menghibur ala kadarnya. Sebagian berhasil, sebagian tidak.Menyaksikan langsung pemandangan seperti ini mau tidak mau membuat saya membatin, betapa sepakbola bisa memperlihatkan sebuah sisi halus dari manusia. Lelaki berbadan tinggi-besar yang tampangnya lebih mirip tukang jagal pun bisa menitikkan airmata hanya gara-gara tim kesayangannya kalah. Kalau memang mau menangis, ya menangis sajalah. Gengsi? Ah, jangan naif.Meski begitu, sedih tidak boleh membuat orang melupakan hal-hal lain yang lebih penting. Sportivitas dan apresiasi misalnya. Walaupun menonton hanya lewat televisi ukuran jumbo, warga Jerman tidak lupa untuk tetap memberi tepuk tangan panjang ketika di layar tampak Ballack dan kawan-kawan memberi penghormatan kepada penonton.Lalu, saat meninggalkan lokasi mereka juga tidak lantas berhenti meneriakkan "Deutchland... Deutschland...." Kalah atau menang, mereka tetap bangga pada negaranya. (lom/)











































