Kolom
Sepakbola Para Dukun
Jumat, 07 Jul 2006 09:43 WIB
Jakarta - Euphoria Piala Dunia menggugah kesadaran kita sebagai bangsa. Togo yang kecil dan miskin saja masuk putaran final Piala Dunia. Sedang kita yang 200 juta lebih penduduknya, dan tidak miskin-miskin amat, jadi jawara Asia saja kok susah. Sebenarnya dimana letak salahnya?Itu pula kadang yang melahirkan pendapat nyeleneh, bagaimana kalau para dukun dilibatkan, agar kebekuan yang sudah memfosil itu bisa menjadi cair.Dukun adalah spiritualis. Dia hidup dalam jagat cilik (mikrokosmos), dan melakukan penelusuran dalam dunia yang tak berujung pangkal itu. Dukun merupakan pengembara, yang ladang pengembaraannya amat luas dan tak bisa dibayangkan melalui akal.Istilah Permadi, dukun adalah paranormal. Orang-orang normal, yang sadar dalam kesadaran, dan berusaha sadar di tengah hedonisme yang menjegal niatan untuk sadar. Secara filosofis, paranormal adalah manusia yang konsisten terhadap kesadaran, dan sadar untuk menyadari kesadaran. Toh dalam hidup, banyak kesadaran yang tak disadari?Langkah Permadi ini sebenarnya untuk menghindari makna jelek terhadap istilah dukun. Sebab dalam pandangan Jawa, dukun adalah tombak bermata dua. Satu sisi sebagai manusia waskita yang sidik paningale (tahu sebelum sesuatu terjadi) dengan kemampuan spesial. Tetapi sisi lain, dukun juga ditafsirkan sebagai manusia pengemban dosa, yang kalau diudu (dikasih uang) baru gelem urun (mau memberi nasehat).Tetapi, paranormal atau dukun, kendati banyak versi ritus dan uborampe (sesaji), tetapi ilmu yang dipunyai tetaplah berguna bagi dunia bathin. Yang bersifat keduniawian pun merupakan keduniawian plus, karena dihasilkan dari sebuah usaha melalui jalan mengebor sukma. Tidak berlebihan jika ilmu yang diamalkan para dukun itu sering disebut sebagai ilmu sepuh (ilmu tua).Omong-omong soal ilmu sepuh, dalam pandangan Jawa, memang tidak semata didasarkan pada usia, tetapi lebih pada pengalaman, penalaran, dan pendadaran. Dengan begitu, maka orang yang dituakan tidak identik dengan lanjut usia. Dan tentu, panggilan ki, gus, kang, mas, yai, juga menyiratkan makna sama. Panggilan itu diberikan lebih sebagai rasa hormat dibanding alasan usia.Tua muda dalam budaya Jawa juga tidak diskriminatif. Tak hanya berlaku bagi manusia. Benda dan satwa pun mendapat panggilan itu, termasuk buku dan ajaran (mantra). Untuk terakhir itu yang diistilahkan ilmu, terbagi dalam ilmu muda (nom) dan ilmu tua (sepuh). Disebut ilmu muda jika ajarannya lebih menitikberatkan pada persoalan keseharian, aplikatif. Tetapi jika bertalian dengan urusan bathin, metafisis, dan keakheratan, dikategorikan sebagai ilmu tua.Di desa Mangir, Banyuwangi, misalnya, ilmu jenis ini masih diamalkan. Ilmu tua yang disebut Sabuk Mangir itu selain dituangkan dalam laku dan mantra, biasanya juga ditambah dengan 'isian' yang dimasukkan dalam ikatan celana. Ilmu ini manjur sebagai 'pemelet dan pengasih', mampu mengikat lawan jenis yang disuka, termasuk untuk mengakurkan sebuah keluarga yang nyaris bubrah.Namun adakah hanya Jawa yang punya ilmu tua macam itu? Dalam penjelajahan ke berbagai suku membuktikan, bahwa ilmu tua macam itu juga berkembang dimana-mana. Di Pulau Lombok misalnya, di desa tua Ramban Biak (sekarang Dasan Baru), juga tumbuh subur ritus ilmu tua yang digunakan untuk berbagai kebutuhan.Di tempat ini, jika ada orang sakit yang tak sembuh-sembuh, maka mereka tak akan membawa ke dokter, tetapi di-Pakon. Sebuah ritual mistik yang digelar tepat jam duabelas malam dengan sesaji khusus. Jika saat di-Pakon tidak timbul keajaiban, maka hampir bisa dipastikan, satu dua hari setelah itu si sakit akan menghadap Yang Kuasa.Ilmu tua yang putih maupun hitam memang merupakan kekayaan Nusantara. Banyak yang mencerca dan mencibirnya, tetapi tak sedikit yang yakin dan mengamalkannya. Malah di kota Tual, Kepulauan Kei - Maluku Tenggara, di sebuah pulau kosong pun terdapat ritus khusus soal ilmu tua itu. Mereka memberi nama Yot Tomat (peringatan untuk umat) yang secara wadag berbentuk dua patung berasal dari Pulau Tayando yang mistis itu. Disinilah 'sesuatu' yang secara nalar muskil terjadi itu sering terjadi.Namun di antara sekian ilmu tua itu, yang paling unik dan tampil ekspresif adalah ilmu tua yang diamalkan oleh suku Naulu yang ada di Pulau Seram. Para penganut ilmu sakti yang disebut Kakehan itu gampang dikenali. Sebab mereka mentatto dahi hingga wajah dengan lukisan kelelawar mengepakkan sayap.Dalam merealisasi ilmu-ilmu itu, tontonan yang tak masuk akal bisa dilihat secara kasat mata. Tidur melayang (Pakon Pulau Lombok), tak mempan ditusuk senjata (Pelauw di Pulau Haruku), memanjat tebing tegak lurus tanpa alat bantu (Fatumnasi Pulau Timor), adalah sederet atraksi metafisis yang membanggakan dan menakjubkan.Di tengah stagnasi prestasi sepakbola, layak ada pikiran yang tidak bernalar untuk menggugah kekuatan bangsa melalui olahraga. Namun adakah dengan mengerahkan para dukun untuk laga internasional bakal mampu memenangi pertandingan? Mungkin bukan 'bisa' atau 'tidak' sebagai jawabnya, tetapi jika itu terjadi, maka itu artinya pembinaan olahraga kita sudah sangat akut. Sebab itu bukan olahraga lagi, tapi sudah berubah menjadi olah-metafisika.==*) Penulis adalah pemerhati masalah budaya, wartawan, juga mantan kiper. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com (lom/)











































