Kolom
Ilmu Tua Menangkan Prancis
Jumat, 07 Jul 2006 12:02 WIB
Jakarta - Prancis berjaya. Tim ini masuk final. Penalti Zidane menyudahi perjalanan panjang Portugal, negeri yang beribukota di Lisboa itu. Dalam final nanti, TimNapoleon bakal berhadapan dengan Italia. Inilah kemenangan sempurna Prancis berkat 'ilmu tua'. Tim Prancis kini membuktikan diri sebagai tim sempurna. Kehebatannya menaklukkan Portugal tak hanya membawanya masuk ke babak final, tetapi tim ini juga memenangi 'laga' kontroversi di dalam negeri. Polemik panjang soal 'pasukan tua' dalam tim inti, diprediksi bakal terhenti dengan lolosnya Prancis sebagai finalis.Selain dua kemenangan itu, Prancis juga menunjukkkan pada dunia, bahwa 'hanya' melibatkan orang muda tidak menjamin sebuah tim memenangi laga. Itu terbukti dengan tersingkirnya Belanda di babak 16 besar. Tim 'Oranje' yang dipandegani Marco Van Basten menjatuhkan pilihan meminimalisir pemain gaek. Padahal, 'ilmu tua' masih efektif, menjadi resep ampuh menuju kejayaan.Bicara soal tua muda dalam pemenangan sebuah cita-cita, kita diingatkan dengan persoalan serupa yang pernah terjadi di negeri tercinta ini. Saat-saat mendekati Agustus 1945, sekumpulan pemuda Indonesia yang tak betah menunggu berlama-lama kemerdekaan Indonesia, telah melarikan dua tokoh penting pergerakan yang juga bapak bangsa, yaitu Soekarno dan Hatta.Para pemuda itu membawa keduanya ke Rengasdengklok, dan menginapkan di rumah seorang petani bernama Jiu Kie Siong. Di rumah ini para pemuda itu mengajak dua tokoh itu berdiskusi, dan secepatnya memproklamasikan kemerdekaan negeri ini.Langkah itu juga diikuti dengan tindakan konkrit. Para pemuda itu, bersama rakyat Karawang, mulai melakukan perlucutan senjata dan pengambilalihan kekuasaan. Dengan heroik, mendekati tanggal 17 Agustus 1945 itu mereka mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Rengasdengklok. Dan momen itu tercatat dalam sejarah, sebagai pengibaran bendera nasional untuk pertama kali.Semangat muda dalam urun rembug memerdekakan Indonesia juga terjadi di Minahasa (Manado). Malah di kota ini, tahun kejadiannya lebih awal lagi. Nani Wartabone yang sekolah di Surabaya dan kumpul bersama para tokoh pergerakan, ketika pulang ke Manado, ia justru telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia lebih dini. Tahun 1942 itu Merah Putih dikibarkan, dan telah mengangkasa di bumi Sulawesi Utara.Tokoh-tokoh yang menjadi pendorong Indonesia merdeka itu semuanya adalah kaum muda. Mereka herois dan punya vitalitas tinggi, kendati agak gegabah, egois, dan terkesan emosional. Bung Karno sebagai bapak bangsa melihat kelebihan dan kelemahan kaum muda itu. Taklah heran proklamator yang juga orator ulung itu menyimpulkan potensi kaum muda itu dalam semboyan pendek yang mengena. "Beri aku sepuluh pemuda, akan kugoncangkan dunia!"Roh dari egoisme itulah yang diambil Domenech, pelatih Prancis. Ia tak mau timnya terlalu bersemangat muda seperti Belanda yang akhirnya kalah. Ia menempatkan 'pemain tua' untuk menjaga ritme permainan. Meredam sikap grusa-grusu dan menggebu-gebu para pemain muda, dan dikembalikan pada alur main sesuai strategi yang disusun.Dan ritme yang terjaga itulah yang akhirnya memenangkan Prancis. Tim yang dalam permainannya terkesan lenggang kangkung dan tak bertenaga itu akhirnya mampu lolos sampai babak final. Spanyol bertekuk lutut, Brasil dikalahkan, dan Portugal pun harus pulang kampung. Apakah resep ini masih ampuh untuk menghadapi Italia yang sangat luar biasa itu? Nah ini yang masih menjadi tanda tanya.== *) Penulis adalah pemerhati masalah budaya, wartawan, juga mantan kiper. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com (mel/)











































