Kolom
Drama Itu Harus Diakhiri
Sabtu, 08 Jul 2006 09:15 WIB
Jakarta - Dinihari nanti, tuan rumah Jerman berhadapan dengan Portugal. Mereka bertarung untuk memperebutkan posisi ketiga. Laga ini penting bagi Jerman, untuk menutup sebuah drama setelah gagal masuk final. Benarkah psikologi rakyat Jerman kini seperti gambaran Karl Jaspers, filosof negeri itu, terbuai dalam situasi bathin tak menentu? Termasuk jika Der Panzer mengakhirinya dengan happy ending? Dalam gambaran Karl Jaspers, Jerman sebagai tuan rumah Piala Dunia 2006 tampil sebagai pribadi yang lengkap. Itu setelah berbagai peristiwa suka dan duka mengoyak dan menyemaikan bathin mereka. Sebagai konsekuensinya, saat menghadapi laga melawan Portugal nanti, antusiasme diprediksi tak sepikuk sebelumnya. Mungkin secara kasatmata sama, tetapi secara batiniah, mereka telah kehilangan atensi.Itu bermula dari perasaan rakyat Jerman yang dihinggapi keraguan terhadap tim asuhan Juergen Klinsmann ini. Kinerja tim dirasa belum membaik hingga mendekati detik akhir penyelenggaraan Piala Dunia. Apalagi dalam ujicoba, tim dengan Kapten Michael Ballack itu dihabisi Italia dengan skor telak, 1-4.Keraguan itu sedikit demi sedikit pupus, tatkala tiap laga, tim ini tampil dengan grafik yang menjanjikan. Menang melawan Kosta Rika, mampu membekuk Ekuador, juga melindas Polandia. Sedang di delapan besar, Argentina yang perkasa itu berhasil digulung tanpa ampun.Kemenangan-kemenangan itu melahirkan optimisme baru. Optimisme yang berlebihan. Akibatnya, saat dikalahkan Italia dalam empat besar, bathin mereka pun benar-benar jatuh pada titik nadzir. Inilah yang disebut Karl Jaspers sebagai eksistensi yang lahir dari pengalaman yang berlawanan itu. Kekalahan itu telah melahirkan kesakitan yang amat menyakitkan. Secara psikologis telah mengembalikan Jerman pada titik balik. Mereka jadi pasif, dan emosinya sulit untuk dibangkitkan kembali pada kondisi normal. Malah, tidak melahirkan sikap yang traumatik saja sudah sangat bagus.Namun, bathin yang jatuh bangun itu bukanlah sesuatu yang jelek. Justru itu yang membuat rakyat Jerman kian kuat. Mereka tak lagi menjadikan bola sebagai sebuah permainan yang harus diakhiri dengan tangis pilu jika kalah, dan kegembiraan yang tak terkontrol jika menang. Mereka menemukan jatidiri, yang disebut Karl Jaspers, sebagai pribadi yang lengkap.Perubahan sikap mental rakyat Jerman ini naga-naganya yang akan menjadi senjata ampuh dalam laga melawan Portugal. Pemain lebih matang dalam lapangan, dan pendukung tidak sangat fanatik tatkala memberi dukungan. Pengalaman telah memberinya kedewasaan. Kekalahan dan kemenangan sebelumnya, yang selalumenimbulkan histeria massa.Namun benarkah Jerman bakal menang lawan Portugal nanti? Melihat laga Der Panzer sebelumnya, nampaknya di atas kertas tim ini bakal memetik hasil itu. Apalagi ada yang dipertaruhkan, dan lebih berharga lagi, yaitu mengembalikan optimisme rakyat Jerman yang kini memasuki tahapan imum, tetapi sudah terikat dalam semangat persatuan yang kokoh berkat sepakbola.Inilah sebuah drama yang harus diakhiri Jerman. ==*) Penulis adalah pemerhati masalah budaya, wartawan, juga mantan kiper. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. (key/)











































