Secuil Hikayat Tentang Zidane
Selasa, 11 Jul 2006 00:57 WIB
London - Kalaulah Holywood yang menulis skrip karir Zinedine Zidane, maka dipastikan Prancis akan memenangkan Piala Dunia, Zidane menjadi bintang pertandingan, mencetak gol kemenangan, menjadi pemain terbaik Piala Dunia, dan scene ditutup dengan ia membawa Piala Dunia berjalan menuju Champ Elysees saat sore temaram.Status kebintangan Zidane tak diragukan lagi berhak untuk mendapatkan akhir karir yang romantis seperti itu.Ia membawa Prancis menjadi juara dunia tahun 1998, juara Eropa tahun 2000. Di tingkat klub bersama Juventus dan Real Madrid ia meraih semua piala yang ada di semua tingkatan. Ia juga menjadi pemain terbaik dunia hingga tiga kali. Tak ada satupun pemain dunia, tak juga Pele maupun Diego Maradona, yang mendekati tingkat kesuksesan Zidane.Hampir saja skrip model Holywood benar-benar terwujud. Tetapi satu detik aliran darah yang berlebihan ke kepala Zidane menghanguskan semua itu. Entah dengan alasan apa ia menubrukkan kepalanya ke dada Marco Materazzi. Dan ditutuplah karir gemilang Zidane dengan kartu merah, serta Prancis kalah dari Italia lewat adu penalti.Bagi mereka yang mengikuti karir Zidane dari dekat, apa yang dilakukannya bukanlah sesuatu yang mengejutkan.Materazzi bukanlah korban pertamanya. Zidane memang mempunyai sisi gelap.Yang paling diingat orang tentulah ketika di sebuah pertandingan Piala Champions tahun 2000 saat Juventus bertemu Hamburg ia mengantukkan kepalanya ke Jochen Kientz hingga yang belakangan ini berdarah-darah. Iapun dihukum larangan bertanding lima kali.Seorang penyanyi Prancis, Jean Louis Murat, pernah berkomentar: "Tak seorangpun yang bisa mengerti apakah Zidane seorang malaikat atau iblis. Senyumnya seperti orang suci tetapi seringainya seperti pembunuh."Dan entah apakah ini ciri pemain besar, ia menerima aturan dunia luar, tetapi pada saat bersamaan tidak akan merasa berdosa untuk melanggarnya. Contoh terbaru adalah ketika ia tertangkap basah dengan santainya merokok menjelang pertandingan melawan Portugal. Padahal ialah salah satu tokoh kampanye anti rokok tahun 2002.Zidane memang sebuah enigma. Dan orang lantas menunjuk kepada latar belakang saat ia tumbuh remaja sebagai sebabnya.Zidane dibesarkan di La Castellane, sebuah pemukiman kumuh atau ghetto di Marseille Utara yang dikenal keras dan terbelakang. Ayahnya, bukan dari mayoritas Arab tetapi Berber, berimigrasi ke daerah ini dari Kabylie di Aljazair tahun 1960-an. Ayahnya dituduh seorang Harki atau orang Aljazair yang berperang untuk Prancis dalam upayanya meredam tuntutan kemerdekaan Aljazair. Pendeknya pengkhianat untuk orang Aljazair.Ia harus terus membela diri bahwa ayahnya bukanlah seorang harki hingga ia akhirnya setelah menjadi pahlawan Prancis diPiala Dunia harus mengeluarkan pernyataan untuk membantahnya. "Ayah saya orang Aljazair, tidak pernah berperang melawan negerinya sendiri. Dan saya bangga akan statusnya sebagai orang Aljazair."Ia belajar bermain sepakbola di lapangan di pusat kota La Castellane. Dengan lingkungan yang keras ia harus belajar untuk melindungi diri di lapangan permainan yang kadang menjadi brutal. Seorang teman masa kecilnya selalu mengingat Zidane sebagai anak kecil sederhana yang yakin akan selalu menang.Ketika untuk pertama kalinya ia dikontrak AS Cannes saat berusia 16 tahun, tugas pertamanya selama beberapa minggu pertama adalah membersihkan sepatu dan kamar ganti pemain, sebagai hukuman karena memukul lawan yang mengejek asal muasalnya yang dari ghetto. Zidane sangat peka untuk persoalan yang satu ini.Sejak awal kemunculannya di lapangan bola, Zidane selalu mengundang rasa hormat. Visinya di atas rata-rata, fisiknya sangat kuat, kontrol bolanya begitu mematikan, gerakannya sangat indah, skil bolanya membuat lawan terpana dan rekan satu timnya bermimpi.Melihat Zidane bermain seperti melihat keanggunan seorang penari, itu kata pemain seperti Maradona, Pele, Platini hingga ke Beckenbauer. "Kalau melihat Zidane bergerak ke arahmu dengan bola di kaki, cepat-cepat buat tanda salib di mukamu," kata gelandang Italia, Gennaro Gattuso.Zidane seorang ekstrovert di lapangan. Tetapi di luar lapangan bola, ia sangat tertutup. Teman-temannya di Juventus masih mengingat pribadinya yang menutup diri dari perempuan, mobil dan kehidupan malam di Turino.Dunia Zidane memang seperti sebuah tarik menarik yang tiada habisnya. Antara di dalam lapangan dan luar lapangan, antara apa yang dianggapnya ideal dan yang harus dihindari, antara harapan dan kenyataan.Setiap kali ia masuk ke lapangan bola, orang menonton untuk mengagumi gerakannya, visinya dan keanggunannya. Di luar lapangan orang ingin memujanya tetapi mungkin yang diinginkan hanyalah kembali ke Marseille, tempat yang ia akui sangat dicintainya.Setiap kali ia masuk lapangan untuk Prancis, ia adalah harapan seluruh warga Prancis. Tetapi begitu pertandingan selesai bukanlah rahasia apabila ada kalangan yang menyebutnya dengan nada merendahkan Zidane hanyalah keturunan Prancis-Aljazair.Saat final Piala Dunia berlangsung entahlah apa yang ada di benak Zidane sehingga bertindak seperti yang kemudian kita lihat ia lakukan terhadap Materazzi.Mungkin ada sesuatu yang dikatakan Materazzi yang menyinggung Zidane? Mungkin Zidane menganggap aturan normal tak berlaku buat dirinya? Mungkin ia ingat permainan brutal di La Castellane diwaktu kecil? Atau mungkin sebagai keturunan Prancis Aljazair ia bosan menjadi harapan dan pahlawan Prancis yang sering merendahkannya? Entahlah. (a2s/)











































