Kalah dengan skor cukup telak di leg pertama membuat ketiga klub tersebut terancam terhenti langkahnya di babak 16 besar Liga Champions musim ini.
Inter sang juara bertahan secara mengejutkan dihajar 2-5 oleh Schalke di Giuseppe Meazza; Tottenham dihantam Real Madrid 0-4 di Santiago Bernabeu; dan Shakhtar takluk 1-5 di kandang Barcelona.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlalu mudah untuk diprediksi bahwa mereka akan gagal lolos ke babak semifinal. Akan tetapi ada beberapa catatan sejarah yang boleh jadi bisa memberi harapan tersendiri untuk mereka, bahwa mungkin saja datang keajaiban.
Berikut itu catatan situs resmi UEFA terkait misi sangat berat untuk keempat tim tersebut:
Chelsea 0-1 Manchester United
Dalam sejarah Liga Champions baru ada dua tim yang kalah di leg pertama di kandang sendiri tapi kemudian menang di leg kedua dan lolos ke babak selanjutnya.
Tim pertama adalah Ajax di musim 1995/1996. Kalah 0-1 oleh Panathinaikos di Amsterdam, mereka berbalik menang 3-0 di markas lawan di pertandingan kedua. "Kalau baterai yang Anda isi cukup setrumnya, maka kita tak bisa bilang mereka lemah," ujar pelatih Ajax kala itu, Louis van Gaal.
Tim kedua yang pernah melakukan misi serupa adalah Inter Milan, di babak 16 besar di musim ini. Di stadion sendiri mereka kalah 0-1 oleh Bayern Munich, tapi mampu menang 3-2 di tanah Jerman.
Inter 2-5 Schalke
Tidak pernah ada tim di Liga Champions yang mampu bangkit dari sebuah kekalahan kandang dengan skor telak.
Deportivo La Coruna pernah membalikkan keadaan dengan dramatis, tapi mereka bangkit di kandang sendiri. Kalah 1-4 di San Siro di perempatfinal 2003/2004, mereka menyingkirkan AC Milan di leg kedua di Riazor dengan skor 4-0.
Sebelum pertandingan kedua, pelatih Javier Irureta berjanji akan berziarah ke Santiago de Compostela dengan "berlutut", jika timnya menang. Dia memenuhi janjinya di musim panas itu -- walaupun dengan berjalan kaki.
Dinamo Bukarest juga pernah membuktikan bahwa kalah dengan defisit tiga gol di kandang sendiri bukanlah akhir segalanya. Di playoff Liga Europa 2009/2010, mereka takluk 0-3 dariΒ Slovan Liberec. Di leg kedua, secara menakjubkan mereka mengalahkan Liberec dengan 3-0, dan lolos lewat adu penalti dengan skor akhir 9-8.
Barcelona 5-1 Shakhtar Donetsk
Beberapa klub pernah bangkit dari kekalahan pertama yang telak, tapi bukan di Liga Champions. Leixoes SC menyerah 6-2 dari tim Prancis La Chaux-de-Fonds di babak kualifikasi Piala Winners 1961/1962. Di leg kedua di kandang sendiri, Leixoes menang 5-0.
Partizan Beograd juga kalah lebih dulu di laga pertama dari Queens Park Rangers di babak kedua Piala UEFA 1984/1985 dengan skor 2-6, tapi lolos setelah menang 4-0 di Beograd.
Real Madrid juga pernah sukses dalam sebuah mission impossible. Di putaran ketiga Piala UEFA 1985/1986, mereka kalah 1-5 di markas Borussia Muenchengladbach di leg pertama, tapi berbalik unggul 4-0 di Bernabeu. Mereka bahkan memenangi kompetisi tersebut dengan mengalahkan FC Koeln di final.
Real Madrid 4-0 Tottenham Hotspur
Tottenham punya pengalaman tak terlupakan. Di babak kualifikasi Piala Champions di markas Gornik Zabrze (Polandia), klub Inggris itu kebobolan empat gol setelah turun minum, tapi beruntung bisa mencetak dua gol di 20 menit terakhir. Spurs kalah 2-4.
Di pertandingan kedua di White Hart Lane, The Lilywhites menang sangat telak 8-1. Mereka bahkan terus melaju sebelum dihentikan Benfica di babak semifinal.
Bedanya, Gornik Zabrze bukanlah Real Madrid.
(a2s/rin)











































