Dalam delapan tahun terakhir, klub-klub asal Inggris hampir selalu menempatkan satu wakilnya di babak final Liga Champions. Hanya di musim 2009/2010 yang tidak menghadirkan finalis dari anggota Premier League.
Puncak kejayaan tim Inggris di Liga Champions terjadi di musim 2008/2009, saat tercipta final sesama klub Inggris, antara MU melawan Chelsea.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah langkah Manchester City dan MU terhenti di babak penyisihan grup, nasib dua wakil Inggris yang tersisa di babak 16 besar Liga Champions, Arsenal dan Chelsea, juga sedang diujung tanduk.
Hal itu tak terlepas dari hasil buruk saat melakoni leg pertama fase knock-out. The Gunners dicukur 0-4 oleh AC Milan, sementara Chelsea babak belur dihantam oleh wakil Italia lainya, Napoli, dengan skor akhir 1-3.
Raihan mengecewakan wakil-wakil negeri Ratu Elizabeth di kompetisi antar jawara klub Eropa itu tampaknya tak membuat Fergie gusar. Meski mengakui adanya sebuah perputaran dominasi, ia yakin musim depan klub-klub Premier League bakal kembali merebut dominasi.
"Sukses di Eropa terkadang bisa saja berlangsung dalam satu siklus. Kami memiliki siklus yang hebat di Premier League dalam delapan tahun terakhir, dengan menempatkan satu tim di final dan semifinal," jelas Fergie di Sky Sports.
"Namun dengan Arsenal dan Chelsea, dengan hasil yang mengecewakan meski mereka memiliki kesempatan, keduanya mengalami masalah cedera dan Anda tidak dapat berharap mereka mendapatkan hasil yang baik tanpa tim terbaik.
"Mungkin ini menjadi musim yang mengecewakan, namun ini tidak benar-benar memastikan kami sedang menurun.
"Saya tidak melihat bahwa itu berganti. Tim Inggris akan terus menjadi dominan," tutupnya.
(a2s/mrp)










































